Oleh : Riski Ikra – (Mahasiswa perikanan Ummu)
INDONESIA sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan garis Pantai 99.000 km, memiliki potensi perikanan dan kelautan. degan kekayan akan budaya serta sumber daya alam yang melimpa. Dua sektor seperti pertanian dan perikanan hari ini bukan hanya fondasi ekonomi, tetapi juga sebagai penopang utama kehidupan Masyarakat. Namun, di Tengah besarnya potensi ini, muncul sebuah tantangan signifikan. Peluang kerja di sektor ini terbuka luas, tetapi minat generasi muda jutru menurun, data menunjukan hanya 2,14% Gen Z yang berada dalam sektor pertanian, Mayoritas petani Indonesia saat ini berusia di atas 55 tahun, dengan proporsi petani usia 43-58 tahun mencapai 42,39% dan usia 59-77 tahun sebesar 27,61% di kutip Moeldoko. (02/10/2024 Kompas.id) Sedangkan nelayan maluku utara turun drastis di tahun 2024 hanya 46. 150 orang di bandingankan tahun 2020 lebih banyak 93.017 orang. (KKP Ri: 2024)
Maluku utara kini menerima kenyataan pahit, di sisi lain generasi lulusan SMA-SMK kebanyakan lebih ke sektor lain seperti pertambangan. Fenomena ini tidak hadir secara tiba-tiba. Ia sebetulnya terbentuk dari konstruksi sosial yang mengakar kuat dalam Masyarakat. Pertanian dan perikanan kerap diasosiasikan dengan pekerja kasar, kotor, pendapatan rendah, dan ketidakpastian masa depan. Selain itu generasi mudah tumbuh dalam lingkungan yang menuju pekerjaan formal di sektor perkotaan sebgai symbol keberhasilan. Akibatnya ada pergeseran orientasi kerja di sektor produktif berbasis sumber daya alam ke sektor jasa yang dianggap lebih “berkelas”.
Padahal, jika dilihat dengan objektif, pertanian dan perikanan justru menyimpan peluang ekonomi yang besar dan keberlanjutan. Kebutuhan pangan akan terus menigkat seiring pertumbuhaan populasi masyrakat, sementara sumber daya alam Indonesia masih sangat melimpah. Dari budidaya ikan hingga pengolahan hasil, dari distribusi hingga pemasaran digital, kedua sektor ini menawarkan rantai nilai ekonomi yang luas. Bahkan, dengan dukungan teknologi, sektor ini bisa berkembang menjadi industri modern yang kompetitif.
Namun begitu, menyederhanakan problem ini bukan hanya pada aspek gensi generasi tentu tidak cukup. Ada sebua problem struktural yang turut memperkuat kondisi tersebut. Akses terhadap modal yang terbatas, kurangnya inovasi teknologi di tingkat lokal, serta kebijakan yang belum sepenuhnya berpihak pada petani dan nelayan menjadi hambatan nyata. Dalam kondisi ini, wajar jika generasi muda memilih jalur yang dianggap lebih aman dan menjanjikan secara sosial.
Di sinilah perubahan paradigma sangatlah penting, terutama meruba Mainset Masyarakat bahwa bertani bukan sekedar menanam, nelayan bukan hanya sekedar memancing, ia harus benar-benar di pelajari lebih dalam dengan mendorong regenerasi untuk trampil di kedua sektor ini, Pemerinta harus melihat Keduanya sebagai ruang inovasi dan kewirausahaan. Terutama Generasi muda yang memiliki peran strategis untuk mengintegrasikan teknologi dengan praktik produksi mulai dari pertanian presisi, budidaya berbasis digital, hingga pemasaran melalui platform daring. Dengan pendekatan ini, sektor yang selama ini dianggap “kuno” justru bisa menjadi motor penggerak ekonomi masa depan.
Maluku utara harus mempersipkan lebih awal kesedian pangan mandiri dengan mendorong generasi mudah agar terjun kedunia sektor pertanian dan perikanan. ini adalah fondasi ekomomi biru, hemat saya jika pemerinta hanya sibuk pada izin Usaha Pertambang (IUP) tampa melihat peluang jangka Panjang maka kita akan terus bergantung dengan hasil impor pangan dari luar maluku utara, seperti Sulawesi utara. dan jangan heran jika kedepan kita akan krisis pangan.
Untuk itu, integrasi antara pertanian dan perikanan menjadi peluang bebas untuk generasi dalam Pembangunan ekonomi berkelanjutan. Konsep agribisnis modern yang menggabungkan produksi, pengolahan, dan distribusi dapat menciptakan nilai tambah yang signifikan. Ini bukan sekadar tentang pekerjaan, tetapi tentang membangun sistem ekonomi yang mandiri dan tangguh.
Dengan Paradoks ini pada akhirnya penulis mengajak kita sekalian anak mudah dengan menguji cara pandang generasi terhadap kerja masa depan. Apakah pekerjaan dinilai dari gengsi semata, atau dari dampak dan peluang yang dihasilkan? Jika generasi muda terus menjauh dari sektor-sektor fundamental ini, maka yang hilang bukan hanya tenaga kerja, tetapi juga masa depan kedaulatan pangan dan ekonomi bangsa. Penulis membanyangkan jika di setiap negara tidak ada petani dan nelayan apakah bisa negara menghidupkan rakyatnya dengan bermodal uang? Mungkin bisa dengan roti untuk bertahan hidup jika itu bicara Abunawas. Tapi, hemat saya negara juga akan sulit untuk menghadapi krisis tersebut sebab roti di hasilkan oleh petani melalui biji gandum di olah menjadi tepung.
Maka Sudah saatnya generasi muda melihat pertanian dan perikanan dengan perspektif baru. Bukan sebagai pilihan terakhir atau keterpaksaan, penulis mengajak kepada calon mahasiswa baru tahun 2026-2027 kususnya maluku utara untuk bergandengan tangan beramai-ramai untuk masuk ke dua sektor ini yakni: petanian dan perikanan. Daftar dirimu hari ini adalah kekuatan ekonomi daerah kedepan. Petani dan nelayan bukan sekedar ilmu mata, ia harus benar-benar di kenal lebih dalam melalui Pendidikan tinggi. Penulis adalah mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah maluku utara (UMMU) mengajak generasi muda untuk masuk di ummu sebab, kedua sektor ini sebagai peluang strategis untuk tumbuh dan berkontribusi. Karena di tengah luasnya laut dan suburnya tanah, masa depan sesungguhnya sedang menunggu di depan mata untuk dikelola bukan dihindari. (*)














Leave a Reply