SOCDEMPOST.ID

Klik ide-Sebar Makna-Rebut Perubahan

Advertisement

Ekologi dan krisis iman manusia  

Oleh : El Dino LMID 

“Ketika pohon terakhir di tebang, ketika sungai terakhir dikosongkan, Ketika ikan terakhir di tangkap, barulah manusia akan menyadari bahwa dia tidak akan dapat memakan uang.”

INDONESIA di kenal sebagai negara yang memiliki berbagai macam pulau yang meyimpan sejuta keindahan dan menjadi minat negara-negara besar dalam proses perkunjungan, di karenakan indonesia juga memiliki alam yang indah, tapi semua itu mulai berlalu begitu saja malahan yang terjadi hari ini adalah kerusakan alam yang semakin parah akibat dari kebengisan oligarki indonesia.

Kenyataan ini tentu saja mengherankan, mengingat pertanyaan megenai alam adalah pertanyaan yang sangat krusial dalam konjungtur perkembangan kapitalisme sekarang. Perubahan iklim, maraknya bencana alam  hingga krisis lingkungan adalah sekelumit dari barisan permasalahan peradaban kontemporer yang sangat lekat denggan problem hubungan antara manusia dengan alam yang membutuhkan penjelasan kenyataan tentu saja mengherankan, mengigat pertayaan mengenai alam adalah pertayaan yang sangat krusial dalam konjungtur perkembangan kapitalisme sekarang, Problem ekologis adalah salah satu isi penting untuk di jawab oleh gerakan kiri indonesia sekarang.

Di tengah pengerukan massif kekayaan alam atas nama pertumbuhan ekonomi, mengajukan orientasi politik ekologis dalam materialisme dialektika historis adalah upaya yang sangat penting untuk dilakukan. Hal ini juga sangat krusial di tengah membludaknya ilusi-ilusi ekologi yang diartikulasikan oleh ideologi kapitalisme, seperti, misalnya, ekonomi hijau, kebijakan hijau, atau bahkan, gaya hidup hijau, yang pada dasarnya tidak lebih sebagai upaya menetralisir dimensi radikal dari problem ekologis sekarang yang berpotensi untuk membuka orientasi politik baru di luar kapitalisme.

Dalam pandangan ekologi marx yang di jelaskan oleh John Bellamy foster “ekologi marx bukanlah ekologi yang bersandar pada konsepsi  antroposentrisme, yang lebih menekankan pada dominasi serta Penguasaan alam atas nama pembangunan ekonomi, atau konsepsi ekosentrisme romantisme yang menepatkan alam sebagai sesuatu yang baik dengan sendirinya”.

Dalam pusaran kehancuran ekologi, maluku utara kini menjadi potret yang pas untuk di lihat, di beberapa kabupaten kota survey telah membuktikan itu, alam  yang hijau kini tenggelam dalam lautan kehancuran, akibatan keserakahan para elit elit lokal dan nasional. Pulau obi kini hancur, halmahera kini hancur, haltim kini hancur, pulau mangoli kini hancur, semuah yang indah kini menuju pada kehancuran yang berkepanjangan.

Lalu dalam pandangan agama bahwa ekologi merupakan dua bidang yang memiliki peran utama dalam membentuk pandagan manusia  terhadap alam semesta dan lingkungan tempat tinggal mereka. keduanya memiliki peran yang sangat kompleks namun saling terkait dalam upaya menjaga keseimbangan antara kemanusiaan dan alam semesta.

Baca Juga :  Peran Perempuan yang Dipelintir

QS. Al- Bagarah: 30 yang artinya Dan ingatlah, ketika tuhanmu berfirman kepada malaikat, sesuguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifa di bumi,mereka berkata mengapa engkau hendak menjadikan ( khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menupahkan dara, padahal kami senantiasa bertasbih denggan memuji-mu dan menyucikan nama mu? dia berfirman sesuguhnya aku mengetahui apa yang tidak kau ketahui”

Al-Qur,an mengajarkan manusia untuk menjaga keseimbangan ekologi sebagai bagian dari amanah yang di berikan allah, konsep ini terangkum dalam istilah mizan ( keseimbangan).

Tapi keyataan hari ini berbeda, alam yang hijau di hilangkan tampa mempertimbangkan keberlanjutan kehidupan selanjutnya. Halmahera tengah kini menuju pada kiamat kerusakan alam, masarakat sagea yang telah bergantung hidup ratusan tahun dari sagu dan ikan yang ada di sungai dan juga laut kini mengalami kesusahan dalam mencari penghidupan. Lahan-lahan sagu masuk dalam konsesi pertambangan, semua itu di gusur atas kesejahteraan dalil pemerintah.

Kehancurkan ini adalah biang keladi nya pemerintah pusat sampai daerah, tidak sampai di situ saja krisis iman manusia pun ikut terhanyut bersama kerusakan ekologi, kekuasaan bukan hanya menghancurkan alam tapi juga menghancurkan iman manusia, kita tau bersama bahwa alam sangat dekat denggan manusia, tapi hari ini kekuasaan teropsesi merusakan alam dan turut membunuh iman manusia dalam menjaga alam, semua ini terjadi atas dasar kepentingan segelintir orang yang menggatasnamakan kepentingan rayat.

Seperti yang di sampaikan oleh KH Ali Yafie menegaskan bahwa” kerusakan bumi dan memusnahkan sesama manusia berarti pelangaran terhadap amana sebagai khalifa, hal ini dapat dilihat dalam hubungan manusia denggan alam semesta, baik kisah penciptaan, kejatuhan ke dalam dosa, penebusan manusia”. Kedua hubungan erat antara iman dan ekologi sangat jelas dalam kisa penciptaan.

Menjaga alam sama halnya menjaga iman manusia, merusak alam sama halnya merusak iman manusia, karna keduanya memiliki keterikatan yang tidak bisa dilepas pisahkan. hal ini menjadi penegasan bahwa segala yang ada bukan hanya dirusaki tapi juga harus di jaga dan di rawat.

Sampai di sini, bagaimana kita menghubungkan penjelasan tentang kapitalisme dan kelas kapitalis ini denggan krisid ekologi? Mari kita ambil contoh kasus indsutri yang berbasis fosil khusunya batu bara (coal). Bukan kebutulan jika Crutzen dan Stoermer mengatakan bahwa epos antroposen ini bermula sejak akhir abad ke-18, yang bertepatan denggan penemuan mesin Uap (Steam engine) oleh james watt.

Baca Juga :  Kontroversi identitas dan perayaan HUT KE-23 Haltim: Antara Hiburan, Budaya, dan Identitas Daerah

Seperti ditulis dengan brilian oleh Andreas Malm dalam bukunya Fossil Capital, penggerak utama mesin uap ini adalah batu bara. Bersamaan denganya penemuan mesin Uap inilah fondasi ekonomi fosil ini diletakkan. Sejak penemuan mesin uap, pertumbuhan ekomi berlangsung dalam skala raksasa-sebagaimana dikatakan Marx dan Engels dalam Manifesto komonis, keajiban kapitalisme melampaui segala bentuk keajaiban dunia yang pernah ada sebelumnya.

Tetapi harga yang harus di bayar dari ekonomi berbasis fosil ini juga tidak kalah gigantiknya: kesenjangan lebar antara kaya-miskin baik intra negara maupun antara negara, kolonialisme, imperialisme, rasisme, perang, dan krisis ekologi.

Akibat dari penambangan batu barah ini, misalnya, terjadi pelepasan karbon dioksida, nitrogen oksida, sulfur dioksida, dan gas metana yang meyebabkan terjadinya pemanasan global dan perubahan iklim secarah ekstrim, peningkatan suhu bumi, mencairnya es di kutub, terjadinya hujan asam. Selain itu akibat dari penambangan batu bara ini kualitas kesuburan tanah menurun dratis.

Di sertai air tercemar limbah merkuri dan zat logam, muncul bekas lubang galian, banjir dan tanah longsor. Dari aspek kesehatan, pembakaran batu barah ini menyebabkan kanker paru-paru, penyakit ginjal kronis, jantung, pneumokoniosis, dan silikosis bagi buruh dan warga sekitar tambang. Deretan dampak negatif dari pertambangan batubara dan industri berbasis bahan bakar batubara ini bisa lebih panjang lagi.

Kondisi ini terus berlanjut apalagi posisi negara hari ini yang mengandalkan jargon hilirisasi nikel dan batu barah sebagai bagian yang terpenting dalam meningkatkan keuangan negara. Kita sering kali lupa bahwa yang berperan penting dari semua kerusakan ini adalah kapitalisme.

Di posisi kehidupan hari ini kita di ikat dengan sebuah sistem yang buruk, yakni kapitalisme itu sendiri, yang menjadikan manusia dan alam sebagai komoditas. Yang bisa di eksploitasi kapan saaja dan di mana saja, pada konteks ini geliat pembangunan yang di topang kapitalisme tampah aturan telah merusak ekosistem bumi.

Shiya dan Mies (2005) mengkritisi konsep yang di pakai oleh beberapa negara dunia ketiga, yang mana kecendurungannya seperti indonesia, memakai pendekatan yang mengeksploitasi alam denggan dalih pembangunan dan mengejar ekonomi. Sistem kapitalisme yang telah mengjangkit di berbagai negara berkembang memaksa pendekatan ini untuk di gunakan.

Atas nama pembanguna eksploitasi dibenarkan, atas nama kemajuan kerusakan ekosistem lingkungan bisa di ganti nominal angka, hal ini pada ahirnya mengubur peradaban bangsa. Kekuasaan sering mengunakan kata pembangunan dan kesejahteraan untuk menutup kebusukan mereka yang pada dasarnya akan membawa kehancuran bagi masyarakat luas.

Baca Juga :  Hutan Halmahera, Ruang Sunyi yang Terus Memakan Nyawa

Narasi tentang iman dan ekologi bukan hanya pembual manis, seperti janji pemerintah terhadap rakyat, kita bisa mengukur bagaimana alam tidak hanya di maknai dalam sudut yang sempit yakni pertumbuhan ekonomi lewat eksploitasi, Yang mana tidak ada kesan yang timpang demi memuaskan hasrat merusak.

Dalam analisis Vandana Shiva 2023, alam ditundukkan ke bawa pasar dijadikan sebagai peyuplay bahan baku industrial dan lahan penampung limbah polusi. Korporasi sebagai institusi dominan dibentuk oleh kapitalis yang menyuburkan ketimpangan ekologi dan warisan dualisme certesian yang membenturkan alam versus manusia, yang dalam pandangan sempitnya adalah manusia wajib merusak alam atas nama pembangunan dan kesejahteraan rakyat.

Oleh karena itu, langkah konkret dibutuhkan dalam menatap msa depan bumi. Hal ini bisa di mulai dengan perubahan paradigma pembangunan yang selaras dan seimbang denggan ekologi. Negara tidak hanya memprioritaskan pertumbuhan ekonomi, hal yang paling fundamental ialah memberi ruang partisipasi, kesetaraan, dan keberlanjutan.

Ikhtiar ini harus menjadi narasi keberlanjutan dan perlawanan yang secarah intensif diupayakan baik melalui kebijakan yang pro terhadap keberlanjutan lingkungan maupun menumbuhkan agenda publik melalui narasi yang mendukung keberlanjutan pembangunan yang berwawasan pada ekologi dan iman manusia.

Akan tetapi posisi dan kiblat negara yang pro kapitalis maka tidak ada jaminan kelestarian alam dan keberlanjutan alam, semua di garuk dan dieksploitasi atas nama kesejahteraan. kita tidak bisa tuli dan lupa, kondisi seperti halmahera tengah, pulau gebe, haltim, pulau obi, semua rusak atas nama kesejahteraan.

Itulah kenyataan pahit yang kita hadapi, pemerintah sering mengunakan kalimat perayu seperti, ini demi kepentingan negara, kepentingan mana yang tidak merusak, mulai dari banjir, pemebunuhan, alam yang rusak, itulah  kesejahteraan yang di buat negara. Apalagi dalam islam, iman tidak hanya di ukur dari banyaknya rakaat atau panjangnya jenggot.

Iman sejati terwujud dalam sikap hidup yang adil, seimbang, dan penuh tanggu jawab, termasuk terhadap alam. Tauhid, yang menjadi dasar utama islam, mengajarkan bahwa seluruh makhluk adalah ciptaan allah. Maka menyakiti lingkungan sama denggan menyakiti ciptaan-nya. Ini bukan sekedar dosa ekologi, tapi juga bentuk pengingkaran terhadap keasaan-nya.

Al-Quran berkali- kali mengingatkan kita bahwa manusia daingkat sebagai khalifa di muka bumi (QS Al-Baqarah:30). Tapi kita sering lupa, menjadi khalifa bukan soal kekuasaan, melainkan tanggu jawab. Kita diberi akal dan wewenang bukan untuk mengeksploitasi, tapi untuk menjaga keseimbangan. (*)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *