SOCDEMPOST.ID

Klik ide-Sebar Makna-Rebut Perubahan

Advertisement

Petani Menjerit, misteri Hutan Halmahera

Oleh, Jihan Samad — Sekertaris Umum HMI Kom FKIP Unkhair Ternate. Periode 2026-2027

SUDAH berbilang ribu dan tahun  hutan Halmahera menjadi tempat komoditas juga penghidupan orang-orang yang berada di pesisir dan penjaga hutan (Tobelo Dalam) atau biasa disebut “suku togutil”. Bagaimana kehidupan orang pesisir dan orang Tobelo Dalam yang sangat dekat dan erat.

Kita bisa lihat dari cerita orang tua-tua terdahulu, bahwa meraka begitu dekat dengan orang Tobelo Dalam. Karena kehidupan orang Tobelo Dalam yang Nomaden sehingga membuat mereka sering bertemu dengan masyarakat pesisir di lahan milik petani.

Mereka tidak akan hanya sekedar saling tatap dan berlalu menghilang di tengah hutan yang rimbun. Seorang petani itu akan memanggil untuk sekadar menyapa dan mampir sejenak untuk menghilangkan penat dan dahaga, begitupun sebaliknya. Di balik pertemuan antara orang pesisir dan orang Tobelo Dalam, di akhir pertemuan itu pasti saling tukar/barter perbekalan sebagai tanda persahabatan.

Baca Juga :  Di Balik Angka-Angka: Kegagapan Manajerial dalam Tata Kelola Morotai

Dari deskripsi cerita di atas, orang tua terdahulu memiliki hubungan kemanusiaan yang bagitu erat. Meraka saling membutuhkan, bergantung satu sama yang lain. Karena Hutan Halmahera tidak sekadar dijadikan komoditas, tapi ia adalah tempat para petani dan suku Tobelo Dalam menggantung hidup untuk kehidupan yang nantinya berlangsung.

Meraka tak boleh dikambing_hitamkan atas teror dan pembunuhan berantai di hutan Halmahera yang kini masih menjadi misteri di setiap kepala masyarkat Halmahera.

Kita seharusnya memberikan hormat yang setinggi-tingginya kepada mereka penjaga hutang. Karena mereka adalah pahlawan, menjaga keseimbangan bumi tanpa merusaknya untuk keseimbangan antara flora dan fauna.

Jangan terus biarkan hutan Halmahera menjadi misteri, karena petani terus menjerit atas luka yang diabaikan, dan keadilan yang tak kunjung sampai ke keluarga korban.  Pembunuhan 2 April kemarin, menambah daftar hitam untuk Pemerintah dan TNI-Polri yang tak kunjung membongkar siapa yang menjadi aktor intelektualnya.

Baca Juga :  Luka Dan Duka Yang Tak Pernah Usai Dibumi Fagogoru 

Jika pemerintah dan TNI-POLRI tidak dapat memberikan kejelasan dan membongkar siapa aktor intelektualnya, maka harus memberikan rasa aman kepada masyarakat saat pergi ke lahan pertaniannya. Karena pembunuhan yang terjadi di hutan Halmahera bukan baru pertama kali terjadi, tapi sudah berulang kali terjadi.

Padahal, sebelum terjadi pembunuhan di Halmahera Tengah pada tanggal 2 April, sudah terjadi teror di Halmahera Timur desa Lakoda Kecamatan. Maba Selatan, pada tanggal  4 Maret kemarin.

Seharusnya, teror dan upaya pembunuhan oleh Orang Tidak Dikenal (OTK) di Halmahera Timur sudah menjadi bahan diskursus bagi pemerintah dan TNI-Polri untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Tunggu masyarakat dibunuh, baru kalian datang tebar harapan dan janji.

Baca Juga :  Manusia dan Hikmah Diptera Makhluk Yang diremehkan

Masyarakat telah kenyang dengan harapan dan janji pemerintah dan TNI-Polri di tengah-tengah luka dan duka. Kami hanya meminta untuk usut tuntas teror dan pembunuhan serta ungkap siapa dalang dibalik teror dan pembunuhan di Haltim dan Halteng. (*)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *