Oleh : Alam Mahira
MENGAPA hanya orang-orang kami yang menjadi korban? Mengapa semua ini bisa terjadi, apakah kami memiliki kesalahan? Kami hanya berusaha bertahan hidup dari pala, kelapa, dan hasil kebun lainnya. Haruskah keadaan ini terus berlanjut, sementara kami menjadi korban dari permainan elite politik yang berupaya merampas hak-hak kami?
Sudah berapa banyak nyawa yang kalian ambil dari negeri Fagogoru, apakah masih belum cukup demi melancarkan kepentingan kalian? Tubuh kami bahkan telah dipenuhi limbah industri, namun kalian masih terus merenggut kehidupan kami. Dari lembah duka Halmahera, jeritan kesakitan nyaring terdengar di hadapan pohon-pohon pala yang kami rawat dengan penuh harap hingga berbuah.
Kami bukan binatang, kami adalah manusia yang berusaha hidup rukun dengan alam, kenapa kalian tegah melihat tubuh yang tak lagi utuh terbaring tak beralaas.? Aku coba bersuara namun mereka yang dititipkan hanya duduk diam dan menyampaikan belasungkawa, ini omong kosong, kalian adalah pelaku dibalik semua ini. Sejauh mata memandang namun tidak terlihat, suara ini mati kelaparan haus akan hak pnu regelat , tuan cukup tuan, kami hampir kehilangan semangat hidup karena tak henti-hentinya dimutilasi berulang-ulang kali, Haltim-halteng sudah menanggung beribu-ribu luka dan duka.
Telahkah engkau dengar bisik lirih dari liang tua, di balik semak kenangan dan batu nisan tanpa nama?” Semogah tanah tinda menolak jasadmu, angin’ tidak membawamu, gelombang tidak menelanmu, dan semogah binatang buas tidak menerkam jasadmu. Kau mungkin senang merampas tanah, mencemari sungai, mengotori udara merubah warna air laut, namun kau lupa musibah besar menantimu pada sepetak tanah yang kau hancurkan.
Sebelumnya kasus pembunuhan 3 warga di hutan Patani Timur pada tgl 20 maret 2021. Dan kasus penyerangan (pembunuhan berencana) terhadap 1 korban warga asal Desa Damuli dihutan Patani Timur pada tgl 25 Juni 2023.
Juga kasus penyerangan (pembunuhan berencana) terhadap 1 korban warga asal Desa Dote pada tgl 26 juni 2023. terjadi lagi penyerangan oleh orang-orang yang tidak dikenal terhadap sala 1 warga Moreala pada tgl 30 april 2024.
Mengapa deretan kasus-kasus diatas dibungkam, siapa pelakunya? Juga persoalan yang masih misterius adalah penanganan kasus suda memasuki 5 tahun: siapa pelaku-pelaku pembunuhan 3 warga dihutan Patani Timur?
Akibat dari aparat kepolisian (Polres Halteng) DPRD, dan Bupati sejak dari awal tidak punya insiatif tangkap dan adili pelaku-pelaku pembunuhan sehingga kini terjadi lagi pembunuhan terhadap 1 warga desa Banemo pada kamis tgl 2 April 2026,
bahkan sekarang suda bergantinya pemimpin baru mulai dari Kapolres, DPRD, Bupati pun sama saja, kenapa? persoalannya komitmen Kapolres Halteng, DPRD, Bupati tersebut lebih merupakan komitmen (janji janji dan janji usut tuntas) lebih sebagai politik penampilan di muka publik belaka (Omong kosong) tanpa wujudkan keadilan. Seolah-olah rakyat dibiarkan untuk dibunuh diluar hukum dengan kesewenang-wenangan.
Apa yang terjadi di Patani adalah sebuah potret kemanusiaan berbau kelam, sebuah republik yang tiap hari mengumandankan menjunjung tinggi HAM. nyata omong-kosong tak ada wujud keadilan diatas tanah para leluhur. Negara hanya fokus mengeruk dan mengambil hasil kekayaan perut Halteng (Halmahera Tengah) tanpa memperdulikan segala persoalan yang mengancam hak asasi hidup masyarakat halteng.
kami sebagai masyarakat akan terus-menerus ingatkan serta mendesak kepada pihak kepolisian (Polres Halteng, Bupati, DPRD) #UsutTuntas deretan kasus-kasus diatas, bagi kami menolak lupa merupakan wujud perjuangan untuk keadilan dibumi para leluhur yang tak mengenal batas. (*)














Leave a Reply