SOCDEMPOST.ID

Klik ide-Sebar Makna-Rebut Perubahan

Advertisement

Fenomena Sosiologi Komunikasi Di Masyarakat Desa Sagea- Kiya : Konflik Tambang Dan Dinamika Komunikasi Sosial 

Oleh: Irawan nasri

KETIKA mencoba mengamati kehidupan sosial di desa sagea-kiya, kecamatan weda utara, kabupaten Halmahera tengah, Maluku Utara. ada satu fenomena yang cukup menarik sekaligus kompleks. Awalnya saya mengira kehidupan masyarakat desa berjalan seperti desa pada umumnya nyaman, tenang, dengan interaksi sosial yang kuat di antara warga. Namun setelah melihat beberepa kejadian yang terjadi pada tahun terakhir, terutama berkaitan dengan aktivitas pertambangan, ternyata dinamika komunikasi di masyarakat tersebut jauh lebih rumit.

salah satu peristiwa yang dijadikan contoh adalah aksi protes warga terhadap perusahaan tambang yang beroprasi diwilayah mereka. Pada oktober 2025 warga sagea-kiya yang tergabung dalam koalisi “SAVE SAGEA” melakukan aksi pemblokiran terhadap aktivitas perusahaan PT Mining Abadi Indonesia (PT MAI). Aksi ini dipicu oleh dugaan bahwa aktivitas tambang dilakukan diatas tanah milik warga tanpa persetujuan yang jelas dari pemilik lahan. bahkan ketegangan sempat meningkat ketika dua mobil warga dilaporkan rusak akibat tindakan perusahaan yang menggunakan alat berat.

Jika dipikir sederhana, konflik seperti ini bukan hanya memprsoalkan ekonomi atau lingkungan. Ada lalpisan lain yang cukup penting, yaitu cara masyarakat berkomunikasi dan membangun makna bersama terhadap suatu maslah. Disinilah fenomena sosiologi komunikasi mulai terlihat. Sebelum konflik muncul, masyarakat desa sebenarnya memiliki pola komunikasi yang relatif tradisional. Hubungan sosial lebih banyak berlangsung secara tatap muka mulai dari pertemuan di rumah, kegiatan adat, atau musyawarah kampung.

Baca Juga :  Peran Perempuan yang Dipelintir

Penelitian tentang komunikasi interpersonal di desa sagea bahkan menunjukan bahwa hubungan sosial dalam keluarga dan masyarakat sangat dipengaruhi oleh keterbukaan, kepercayaan, serta sikap saling mendukung antarindividu.

Namun situasi mulai berubah ketika factor eksternal masuk ke dalam ruang sosial desa. Misalnya, sejak tahun 2021 masyarakat sagea dan kiya mulai menikmati jaringan internet 4G setelah pemerintah daerah memasang infrastruktur di wilayah tersebut. Hal ini membuka akses komunikasi yang lebih luas bagi warga, termasuk akses terhadap informasi dari luar desa.

Perubahan ini mungkin terlihat sederhana, tetapi sebenarnya cukup signifikan. Dengan adanya internet dan media sosial, cara masyarakat menerima informasi menjadi berbeda. Warga tidak hanya lagi bergantung pada komunikasi tatap muka atau informasi dari tokoh adat dan pemerintah desa. Informasi tentang aktivitas perusahaan, dampak tambang, hingga gerakan lingkungan bisa meneyebar dengan cepat melalui media digital. Di titik ini, saya mulai melihat bagaimana komunikasi sosial berubah menjadi alat mobilisasi kolektif. ketika isu mengenai kerusakan lingkungan dan penguasaan lahan mulai di bicarakan, komunikasi antarwarga tidak lagi hanya bersifat personal, tetapi juga menjadi komunikasi publik. Diskusi yang awalnya mungkin terjadi di lingkup kecil seperti percakapan dirumah atau di kebun perlahan berkembang menjadi pembicaraan kolektif yang melibatkan banyak orang.

Baca Juga :  Petani Menjerit, misteri Hutan Halmahera

Jika dianalisis menggunakan persepektif teori komunikasi sosial atau komunikasi kolektif, fenomena ini bisa dipahami sebagai proses pembentukan makna bersama. Artinya masyarakat secara bertahap membangun pemahaman bersama bahwa aktivitas tambang tersebut berpotensi mengancam ruang hidup mereka. persepsi yang awalnya mungkin berbeda-beda akhirnya mulai mengarah pada satu kesimpulan bersama perlu adanya tindakan kolektif. Hal menarik lainnya adalah munculnya organisasi atau kelompok gerakan seperti Koalisi Save Sagea. Dalam perspektif sosiologi komunikasi, keberadaan kelompok seperti ini menunjukan bahwa komunikasi tidak hanya terjadi anatrindividu, tetapi juga melalui struktur sosial yang lebih terorganisir. Kelompok tersebut berfungsi sebagai mediator informasi menghubungkan warga, media, dan bahkan pemerintah.

Namun dinamika komunikasi dalam konflik seperti ini tidak selalu berjalan mulus. Ada juga kemungkinan munculnya perbedaan pendapat di dalam masyarakat sendiri. Sebagian warga menolak tambang karena alasan lingkungan atau hak tanah adat, sementara yang lain mungkin melihat tambang sebagai peluang ekonomi. Perbedaan pandangan seperti ini bisa menimbulkan ketegangan komunikasi di tingkat lokal. Disisi lain, konflik tersebut juga memperlihatkan bagaimana masyarakat desa berusaha mempertahankan identitas dan ruang hidup mereka. Dalam konteks sosiologi komunikasi, hal ini menunjukan bahwa komunikasi bukan sekadar proses penyampaian pesan, tetapi juga cara masyarakat membangun solidaritas dan identitas kolektif.

Baca Juga :  Semangat Perlawanan Khamenei dan Pelajaran bagi Kedaulatan Indonesia

Jika saya mencoba menarik kesimpulan sementara, fenomena yang terjadi di Sagea-Kiya sebenarnya menggambarkan perubahan besar dalam pola komunikasi masyarakat desa. Awalnya komunikasi bersifat lokal dan interpersonal, tetapi kemudian berkembang menjadi komunikasi kolektif yang melibatkan jaringan sosial yang lebih luas, termasuk media digital dan masyarakat sipil. Perubahan ini menunjukkan bahwa masyarakat desa tidak lagi berada dalam posisi pasif terhadap perubahan sosial. Melalui komunikasi baik secara langsung maupun melalui media mereka mampu menyuarakan kepentingan, membangun solidaritas, dan bahkan melakukan aksi sosial untuk mempertahankan ruang hidup mereka.

Berdasarkan pengamatan terhadap fenomena yang terjadi di Desa Sagea-Kiya, saya menyimpulkan bahwa konflik yang muncul akibat aktivitas pertambangan tidak hanya berkaitan dengan persoalan ekonomi, lingkungan, atau kepemilikan lahan semata. Jika diamati lebih jauh, peristiwa tersebut juga memperlihatkan bagaimana pola komunikasi dalam masyarakat mengalami perubahan dan perkembangan. (*)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *