SOCDEMPOST.ID

Klik ide-Sebar Makna-Rebut Perubahan

Advertisement

Hutan Halmahera, Ruang Sunyi yang Terus Memakan Nyawa

HUTAN di Halmahera seharusnya menjadi ruang kehidupan tempat manusia bertani, berburu, dan bertahan hidup. Namun dari tahun ke tahun, hutan itu justru berubah menjadi ruang ketakutan. Ia bukan lagi sekadar alam liar, tapi menjadi saksi bisu dari rentetan pembunuhan yang tak kunjung menemukan kejelasan.

Kasus-kasus pembunuhan di kawasan hutan Halmahera bukanlah peristiwa tunggal. Sejak tahun 2006, 2012, hingga 2021, bahkan berlanjut ke 2026, pola kekerasan terus berulang.

Yang paling mengkhawatirkan, banyak dari kasus tersebut berakhir tanpa kepastian hukum pelaku tidak terungkap, motif tidak jelas, dan keadilan seolah menggantung di udara.

Peristiwa terbaru di tahun 2026 kembali membuka luka lama. Seorang warga ditemukan tewas di hutan, memicu konflik antar desa.

Baca Juga :  Luka Dan Duka Yang Tak Pernah Usai Dibumi Fagogoru 

Yang lebih ironis, aparat sendiri menegaskan bahwa ini bukan konflik SARA, melainkan akibat provokasi dan informasi yang tidak jelas kebenarannya. Di sinilah masalah utamanya:

kekerasan di Halmahera bukan sekadar soal pelaku individu, tetapi soal sistem yang rapuh di mana rumor lebih cepat dipercaya daripada hukum, dan ketakutan lebih kuat daripada kepercayaan.

Lebih jauh lagi, kita tidak bisa menutup mata terhadap konteks yang lebih besar. Halmahera adalah wilayah kaya sumber daya nikel, emas, dan potensi ekonomi besar. Dalam situasi seperti ini, konflik sering kali tidak berdiri sendiri.

Ada kemungkinan tarik-menarik kepentingan yang bermain di balik layar, yang membuat konflik terus menyala, atau bahkan sengaja dibiarkan tetap hidup.

Hutan akhirnya menjadi ruang gelap bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara hukum dan politik.

Baca Juga :  Labirin Kepentingan di Balik Menjamurnya PLTU Captive

Yang paling tragis adalah nasib masyarakat biasa. Mereka pergi ke kebun untuk mencari makan, tetapi tidak pernah kembali. Mereka hidup di tanah sendiri, tapi selalu dihantui rasa takut.

Ini bukan sekadar kriminalitas ini adalah kegagalan negara dalam menjamin rasa aman.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka pembunuhan di hutan Halmahera bukan lagi peristiwa, melainkan tradisi kekerasan yang diwariskan.

Dan ketika kekerasan menjadi hal yang “biasa”, saat itulah kemanusiaan benar-benar kalah.

Sudah saatnya negara hadir bukan hanya setelah darah tertumpah, tetapi sebelum nyawa melayang.

Karena hutan tidak seharusnya menjadi kuburan bagi orang-orang yang hanya ingin hidup.

Penulis : Muhammad fajrin sufrin ketua umum HPMM

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *