Oleh Rahmat Abd Fatah (Dosen Sosiologi UMMU).
Tepat waktu subuh di Kota Malang yang nian sejuk nan syahdu itu, saya menikmati udara perjalanan ke kosan sambil berimajinasi setelah sehari sebelumnya berkomunikasi dengan Ibu Julaiha, kolega saya di FISIP, dosen Ilmu Komunikasi dan Pembina di Unit Kegiatan Mahasiswa Jurnalistik(UJ) Universitas Muhammadiyah Maluku Utara(UMMU).
Di perjalanan itu saya membatin bahwa jika sebuah kampus tidak mengaktifkan nalar publiknya di era digital apakah ia bisa merebut kesadaran publik atau apakah mungkin dia ada dalam kesadaran publik?
Mungkin ini bisa dibilang sebagai pertanyaan filosofis, tetapi justru di sanalah letak persoalan paling mendasar. Bahwa Kita hidup dalam zaman ketika realitas itu tidak lagi hanya dibangun oleh apa yang nyata, melainkan oleh apa yang ditampilkan, diceritakan, dan yang disebarkan.
Karena Kampus rasanya bukan lagi sekadar ruang kelas, perpustakaan, dan gedung rektorat. Tetapi kampus itu seolah telah berubah menjadi semacam entitas simbolik yang hidup atau mati, bukan di atas tanah, tetapi di dalam persepsi orang tua calon mahasiswa, calon mahasiswa itu sendiri dan Masyarakat luas.
Nah, di sini saya berani bilang bahwa banyak perguruan tinggi sebenarnya sedang mengalami krisis yang tidak mereka sadari yaitu krisis narasi. Bahwa di satu sisi, mereka memiliki dosen berkualitas, mahasiswa berprestasi, dan aktivitas akademik yang rutin dan normal, namun di sisi lain, semua itu seperti berjalan dalam ruang sunyi, tidak terlihat, dan pada akhirnya tidak dipertimbangkan oleh calon mahasiswa.
Sementara itu, kampus lain yang mungkin tidak jauh lebih unggul secara substansi justru tampil dominan, karena mereka memahami satu hal penting yaitu siapa yang menguasai narasi, dialah yang menguasai persepsi.
Dalam konteks ini, lahirlah semacam gagasan atau imajinasi bahwa kampus itu penting membentuk unit media dan konten kreatif berbasis mahasiswa, dan perlu diprinsipi bahwa ia bukan sekadar program tambahan, melainkan jawaban atas perubahan zaman sebagai bentuk kesadaran di era digital, karena itu kampus harus mampu menceritakan dirinya sendiri sebelum diceritakan oleh orang lain.
Misalnya di Universitas Muhammadiyah Maluku Utara dan Universitas Nahdlatul Ulama Maluku Utara(UNUTARA), peluang kedua kampus ini sebenarnya terbuka sangat lebar. Kampus ini tidak kekurangan substansi. Ia memiliki identitas keislaman, semangat kemuhammadiyahan, semangat ke-NU-an, dan posisi geografis yang unik di kawasan timur Indonesia.
Kampus ini punya ruang yang penuh dengan narasi perjuangan, transformasi, dan harapan. Namun tentunya, semua potensi itu akan tetap menjadi potensi jika tidak diartikulasikan dalam bentuk cerita yang bercerita.
Di sinilah peran mahasiswa menjadi sangat mendasar. Sekarang Mereka itu bukan hanya generasi digital, tetapi juga penutur alami zaman ini. Mereka memahami bahasa visual, ritme media sosial, dan cara membangun kedekatan emosional dengan audiens.
Ketika mahasiswa diberi ruang untuk memproduksi konten, yang lahir bukan sekadar informasi, tetapi pengalaman, ada sesuatu yang bisa dirasakan oleh calon mahasiswa yang bahkan belum pernah menginjakkan kaki di kampus tersebut.
Bayangkan seorang siswa di sebuah daerah yang jauh. Ia membuka media sosial, lalu menemukan potongan video tentang kehidupan kampus, ia melihat dan merasakan langsung tawa mahasiswa, diskusi kelas, cerita perjuangan, hingga potret sederhana tentang harapan. Tanpa sadar, ia kemudian mulai merasa dekat. Ia mulai membayangkan dirinya berada di sana. Pada titik itulah, keputusan mulai terbentuk bukan karena data semata, tetapi karena rasa yang dibangun oleh cerita dan citra.
Namun, narasi kampus tidak hanya berhenti pada mahasiswa. Ia juga harus bertumpu pada figur kepemimpinan. Saya berfikir Seorang Rektor hari ini tidak lagi cukup hanya dikenal melalui jabatan administratifnya. Ia harus hadir sebagai gagasan, sebagai suara, sebagai arah. Yaitu suatu posisi strategis untuk menjadi lebih dari sekadar pemimpin structural, ia dapat menjadi figur intelektual publik yang menyuarakan visi pendidikan, nilai kemanusiaan, dan masa depan generasi muda.
Ketika kepemimpinan tampil dalam bentuk narasi yang jujur, inspiratif, dan dekat dengan realitas, maka kepercayaan akan tumbuh. Dan dalam dunia pendidikan, kepercayaan adalah mata uang yang paling berharga. Tentu saja, semua ini tidak bisa berjalan secara sporadic langsung jadi.
Ia membutuhkan desain yang sistematis, yaitu sebuah unit seperti Creative Digital Branding (CDB) yang bukan hanya bertugas membuat konten, tetapi membangun ekosistem komunikasi yaitu merencanakan, memproduksi, mendistribusikan, dan mengevaluasi. Setiap video, setiap caption, setiap interaksi menjadi bagian dari arsitektur besar yang perlahan membentuk citra kampus di mata publik.
CDB berbasis pada data, bagaimana audiens merespons, konten apa yang disukai, kapan waktu terbaik untuk publikasi, hingga bagaimana interaksi digital dapat berkonversi menjadi keputusan nyata yaitu mendaftar sebagai mahasiswa. Dengan kata lain, narasi itu tidak hanya dibangun, tetapi juga diukur.
Yang menarik, strategi ini tidak memerlukan investasi besar, tidak bergantung pada teknologi mahal, tetapi pada kreativitas, konsistensi, dan keberanian untuk berubah. Justru di sinilah letak kekuatannya bahwa kampus dapat membangun kekuatan besar dari sumber daya yang selama ini sering diabaikan yaitu mahasiswanya itu sendiri.
CBD itu investasi jangka panjang dalam membangun kapital simbolik kampus. Hasilnya mungkin tidak langsung terlihat dalam hitungan minggu, tetapi akan terasa dalam bulan dan tahun ketika nama kampus dan nama Rektornya mulai sering disebut, ketika kontennya mulai dibagikan, dan ketika calon mahasiswa mulai datang dengan keyakinan, bukan sekadar pilihan alternatif.
Sebaliknya, tanpa langkah ini, risiko yang dihadapi jauh lebih besar. Kampus akan berjalan dalam diam, tertinggal dalam arus informasi, dan perlahan kehilangan relevansinya di tengah kompetisi yang semakin ketat.
Nah, dalam dunia yang digerakkan oleh persepsi, ketidakhadiran bukanlah netralitas tetapi tentu ini adalah kekalahan. Pada akhirnya, pertanyaannya apakah kampus ingin menjadi aktor yang aktif membentuk narasinya sendiri, atau sekadar menjadi objek dari narasi orang lain?
Karena di era ini, kampus yang mampu bercerita dengan baik bukan hanya akan dikenal. Tetapi akan dipercaya, dipilih. Dan yang lebih mendasar, kampus akan hidup bukan hanya sebagai institusi, tetapi sebagai harapan yang dirasakan nyata oleh mereka yang sedang mencari harapan pada kampus yang dapat memicu dan memacu meraih masa depan cita dan cintanya [].














Leave a Reply