Sebuh Refleksi Dialog
Oleh : Sulfan Kiye
Eks Ketum HIPMMAT
Maba Tengah, Malam itu terasa berbeda bukan karena langit yang berubah warna, tapi karena ada sesuatu yang bergerak di dalam pikiran. Dialog Himpunan Pelajar Mahasiswa Maba Tengah (HIPMMAT) yang digelar malam ini perlahan menyedot perhatian, membuka ruang kesadaran yang selama ini mungkin hanya terlintas sepintas. Setiap penyampaian materi seperti menyalakan bara kecil dalam diri, hingga tanpa disadari, ingatan melompat pada satu gagasan besar yang pernah disampaikan oleh Ayatollah Ali Khamenei. dalam bukunya perang kebudayaan, saat ini kita sedang berada dimedan perang kebudayan. Perang yang tidak mengunakan senjata, tetapi ide dan gaya hidup. Ini adalah bentuk baru kolonialisme disebut “new colonialism” yang tidak menaklukan secara fisik, melainkan secara mental dan kultural. Kolonialisme hari ini menyusup lewat media, tenologi, gaya hidup, dan bahkan pendidikan.
Tujuannya jelas mereduksi identitas lokal dan menggantikanya dengan cara pandang yang menjauhkan manusia dari akar budaya dan nilai hidupnya. Idward W Said, dalam karyanya Orientalisem, menunjukan bagaimana dunia barat secara sistematis membentuk prespsi tentang dunia timur [termasuk Indonesia] sebagian yang lainya yang terbelakang dan perluh diselamatkan. Melalui cara pandang inilah, budaya lokal sering kali dianggap enfirior. Antonio Gramsci menamai dengan istilah hegemoni budaya, yaitu kekuasan yang bekerja secara halus memalalui nilai, norma, dan cara berfikir bukan melalui kekerasan.
Dalam konteks Maba tengah hegemoni ini sangat nyata. Budaya asing mengalir deras melalui televisi, media sosial, internet, dan polah pendidikan yang menjau dari konteks lokal. Ironisnya, kaum terpelajar seharusnya menjadi penjaga nilai dan penghubungan antara pengetahuan modern dan kearifan lokal. Justru sering kali terjebak dalam menalar gading akademik. Mereka lebih nyaman mengutip teori barat dari pada menyelami akar budaya lokal masyarakatnya sendiri. Akibatnya, terjadi jarak sosial dan intelektual antara kaum terpelajar dan rakyat. Pentingnya paradigma berfikir untuk mampu menyesuaikan dengan perkembangan zaman modern. Dalam pendekatan sosiologi pun berdasarkan dealektika. Masyarakat, seprti halnya sejarah, terdiri atas dua klas; kelas Habil dan Qobil.
Sejarah tidak lain dari gerak masyarakat sepanjang jalur waktu. Karena itu suatu masyarakat adalah petilan yang berkaitan dengan sektor waktu tertentu dalam sejarah. Jika konsep waktu kita buang dari sejarah suatu kaum, maka yang tinggal ialah masyarakat kaum yang bersangkutan. Menurut hemat saya, hanya ada dua struktur yang mungkin terdapat dalam semua masyarakat manusia, struktur kabil dan struktur habil. Perbudakan, perhambaan, borjuasi, fiodalisme dan kapitalisme, bukan merupakan struktur-struktur sosial, memikiran dan dealektika yang memungkinkan manusia sadar akan jati dirinya sebagai manusia. Dilihat dari berbagai Negara yang maju, sperti eropa dan Negara timur tengah lainnya dan asia.
Demikianlah dalam agama Kristen, menurut Nietzsche, moralitas budak menguasai kebudayaan barat. Penjungkir balaikan nilai-nilai yang dilakukan dalam agama Kristen itu adalah sebuah balas dendam imajiner, sebab sesuda peristiwa itu, segala yang rendah, lemah, celaka,jelek, dan menderita malah disebut “baik”, sedangkan yang luhur angung, berdaulat, bagus, malah disebut “jahat”. Di sini, moralitas Kristen , yakni moralitas budak, membantinkan dan mengarahkannya ke dalam. Jadi, kalau dulu tuan mengarahkan kekuasannya ke luar, kepada budaknya, sekarang orang Kristen menemukan apa yang disebut “suara hati” atau subjektivitas moral. Nietzsche kemudian mrnganggap, bahwa “suara hati” tak kurang daripada suatu kegagalan melampiaskan ressentiment kepada kasta aristokrasi, dan sekarang berbalik ke dalam menjadi bisiskan hati yang selalu menegur.
Sementara islamisme merupakan sebuah kerangka rujukan di bawa konstruksi, isi doktrinalnya jauh dari sempurna. Selama dua puluh tahun banyak perubahan yang terjadi dalam korpus islamisme. Ideologi di dalam korpus ini mengambil dari beberapa sumber untuk memberikan kepada kaum militan sebuah archetype terpadu yang meliputi semua sektor kehidupan. Di balik ketidaksamaan bahasa yang digunakan, ada sebuah ikantan dari susunan praktis yang cocok dengan situasi yang berbeda dan kemampuan yang berbeda dari para pelaku yang terlibat. Namun demikian, pendekatan yang merakukan ini menawarkan sebuah prospek yang paling baik untuk memberikan kerangka structural untuk membangun kembali sebuat identitas. Penjelasan terhadap fenomena ini dengan pengertian tradisionalisme melalu sebuah ekses modernitas.
Mungkin terbukti memuaskan, tetapi kenyataanya bahwa penjelasan ini mengunci kita dalam sebuah evaluasi negatif terhadap penafsiran. Konsep tradisionalisasi memiliki batas-batas tertentu yang didalamnya karya politik bahkan ideologi dari kelompok-kelompok baru terlibat dalam menciptkan dan menafsirkan tradisi, dengan sebuah pandangan untuk menyesuaikan dengan modernitas dan meligitimasi serangan-serangan dari sebuah generasi baru. Wacana para pemimpin, yang menujukkan sebuah pencarian yang tidak berpihak tentang tradisi original, mungkin menipu dan membutakan kita terhadap aspek-aspek yang sangat modern dari proses membangun kembali identitas ini. Kita mungkin mengabaikan keragamaan dan perbedaan penafsiran dan hubungan yang erat antara penafsiran dengan perkembangan sejarah dan politik di masing-masing Negara.
Selama dua puluh tahun beberapa gerakan islamis menjaga jarak dengan kerangka rujukan tradisional. Qubt, Mauludi, al- Ghazali, Syatibi, dan Ibn Taymiyyah adalah teladan dari pemahaman ini. Sekarang kaum islamis mewakilikan pada ideolog-ideolog mereka sendiri untuk menegosiasikan kepentingan mereka sendiri dan memastikan bahwa gerakan ini secara tegas berakar pada modernitas. Sebuah studi yang dilakukan pada tahun 1980-an jelas menujukan bahwa garis prmisah antara kaum islamis dan anak muda yang lain hanyalah komitmen militan mereka. Kedua kategori ini memiliki kerangka rujukan yang sama, dan cara berfikir yang sama. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan di antara 400 pelajar 75% memusuhi a priori wacana pemikiran islamis dan menganggap syari’ah sebagai satu-satunya jalan keluar bagi masalah-masalah sekarang ini. Responden yang sama lebih mengutamakan pendidikan, menentang hubungan seks di luar perkawinan dan menganggap bahwa penghormatan terhadap agama tidak dengan sendirinya mengandung penolakan terhadap kemajuan teknik.
Ide bahwa isamisme adalah sebuah konsekuensi langsung dari proses modernisasi perlu pertimbangan lebih jauh, islamisme bisa ditafsirkan sebagai respons pada sebuah persoalan tertentu yang lambat laun memerlukan mobilitas social dan relokalisasi dalam sebuah lingkungan dalam skala global. Seperti dijelaskan oleh Griddens, kita memasuki sebuah fase akut dari modernitas, dengan memutuskan hubungan dengan pokok-pokok referensi yang menentramkan hati yang di tawarkan oleh tradisi.
Tanda-tanda lahiriah fase ini adalah urbanisasi yang pesat, kehadiran sekolah massal, sebuah pernyataan terhadap sebuah strata social dan tuntutan terhadap mobilitas social dan ruang. Namun, gerakan yang berkembang cepat ini menyebabkan terhapusnya hubungan-hubungan social dari konteks interaksi local dan penyusunan kembali terhadap bidang spasio-temporal yang belum jelas.
Susunan masyarakat modern, tampa memperhatikan apakah mereka Muslim atau tidak, memiliki akibat-akibat traumatic tertentu terhadap individu-individu karena modernitas mengandung ‘institusionalisasi keraguan’. Komitmen radikal yang menyebabkan sikap persaingan aktif, memiliki tujuan melawan apa yang dipahami sebagai sebuah sumber bahaya yang membentuk salah satu dari empat kemungkinan dan penyesuayan terhadap situasi ini.
Lyotard menilai pemikiran tentang kemajuan ini sebagai ‘remeh-remeh’; padahal barangkali kata yang lebih tepat iyalah ‘usang’. Apa yang Geong Lucaks sebut sebagai anti kapitalisme yang romantic telah muncul pada akhir abad kedelapanbelas untuk menentang pencerahan dan tatanan social yang borjuis di mana serangan itu dilancarkan dengan mengatasnamakan masa lalu para-kapitalis yang ideal. Alex callinicos.
Modernitas [kemodernan] adalah salah satu masalah paling musykil dan penting yang menghadapi kita –rakyat dan dari Negara non-Erop. dan masyarakat Islam. Masalah yang lebih penting adalah hubungna antara modernisasi yang dipaksakan dan peradaban sebenarnnya. Harus kita ungkapkan apakah modernisasi seperti yang dikatakan itu adalah sinomin dsri “beradab”, ataukah hal itu adalah masalah yang sama sekali berbeda dan gejala social yang tidak punya hubungan sama sekali dengan peradaban.
Sayangnya, modernisasi telah dipaksakan kepada kita, bangsa non-Eropa, dengan bungkusan peradaban. Selama masa 150 tahun yang lalu barat telah menjalankan tugas “momoderenkan” manusia dengan semangat misionaris. Semua bangsa non-Eropa ditempakan dalam hubungan yang rapat dengan barat dan peradaban barat, serta akan diubah menjadi bangsa-bangsa “modern”.
Dengan kedok “memperadabankan” bangsa-bangsa, menyertai mereka dengan kebudayaan, mereka menghadiakan “modernitas” kepada kita (apabila saya katakan “kita”, maksud saya adalah bangsa non-Eropa dan bangsa-bangsa di dunia ketiga), yang terus-menerus mereka katakana “peradaban” ideal” ini. Seharusnnya kaum intelektual kita telah memahaminya bertahun-tahun yang lalu dan menjadikan rakya sadar akan perbedaan antara peradaban dan modernitas. (Ali Syari’ati).
Garis Besar Penulis
Bahwa pada dasarnya karakter masyarakat dan budaya modern itu berbeda-beda, tak dapat kita terima. Namun yang tak dapat dinafikkan adalah bahwa bentuk dan kualitas masyarakat budaya modern memang beragam. Sekarang pertanyaanya adalah:. Bagaimana masa depan masyarakat manusia?. Akankah budaya dan peradaban ini, dan masyarakat serta nasionalitas ini, selalu
mempertahankan posisinya yang ada?. Ataukah manusia akan menuju kepada satu budaya, satu peradaban dan satu masyarakat, dan akankah semua masyarakat kelak nanti berpadu menjadi satu? Pertanyan ini bergantung pada pertanyaan tentang karakter masyarakat dan hubungan antara semnagat individual dan semangat kolektif. (*)














Leave a Reply