Oleh: Rahmat Abd Fatah
(Pengajar Sosiologi Universitas Muhammadiyah Maluku Utara).
Idul Fitri, berasal dari ‘Id al-Fiṭr, bermakna hari raya yang kembali membawa kegembiraan, sekaligus menandai berbukanya manusia dari laku menahan diri dan kembalinya ia pada fitrah yang suci. Dalam pengertian ini, Idul Fitri tidak berhenti sebagai penanda ritual, tetapi juga sebagai simbol kepulangan yang lebih dalam.
Idul Fitri selalu hadir sebagai peristiwa yang melampaui dirinya sendiri. Ia bukan sekadar hari raya, melainkan teks sosial yang terbuka, ditulis oleh pengalaman kolektif, dibaca melalui praktik budaya, dan dimaknai ulang dalam kesadaran batin manusia.
Dalam kerangka sosiologi, Idul Fitri dapat dipahami sebagai narasi besar tentang kepulangan, yakni kepulangan tubuh ke ruang asalnya, dan kepulangan jiwa ke hakikat kemanusiaannya.
Di setiap takbir yang terucap, ada semacam puisi yang dilafalkan oleh sejarah. Bahwa Ia tidak hanya memanggil umat untuk bersyukur, tetapi juga mengingatkan bahwa manusia adalah makhluk yang senantiasa mencari makna.
Dalam hal ini, Idul Fitri bekerja seperti karya sastra bahwa ia tidak selesai pada permukaan, melainkan menuntut pembacaan yang lebih dalam. Roland Barthes bilang bahwa teks adalah jaringan kutipan dari berbagai pusat kebudayaan. Idul Fitri pun demikian, ia adalah jaringan makna yang menghubungkan agama, tradisi, ekonomi, hingga relasi kuasa dalam masyarakat.
Lihatlah bagaimana tradisi saling memaafkan bekerja. Ia bukan sekadar ujaran normatif, tetapi sebuah performativitas sosial. Ketika seseorang mengucapkan “mohon maaf lahir dan batin”. Sungguh ia sedang menulis ulang relasi sosialnya. Kata-kata itu bukan hanya simbol, melainkan tindakan yang menciptakan realitas baru. Dalam perspektif Pierre Bourdieu, bahasa memiliki kekuatan simbolik yang dapat mengubah struktur sosial.
Idul Fitri, melalui praktik bahasa ini, menjadi arena di mana struktur relasi dinegosiasikan ulang di mana yang retak diperbaiki, yang renggang didekatkan kembali. Namun, Idul Fitri tidak hanya berbicara tentang harmoni; ia juga menyimpan ironi. Bahwa di balik meja-meja yang dipenuhi hidangan, ada cerita tentang ketimpangan yang tidak selalu tampak.
Di balik baju baru yang dikenakan, ada narasi tentang hasrat konsumsi yang terus diproduksi oleh logika kapitalisme. Jean Baudrillard mungkin akan melihat Idul Fitri sebagai ruang simulasi, di mana tanda-tanda kebahagiaan dipertukarkan tanpa selalu merujuk pada realitas yang sesungguhnya. Senyum dapat menjadi kode, pelukan dapat menjadi ritual, dan kebahagiaan dapat menjadi representasi yang dipertontonkan.
Akan tetapi, justru di dalam realitas itulah Idul Fitri menemukan kedalamannya. Ia tidak menuntut kesempurnaan, melainkan kesadaran. Bahwa di tengah segala simulasi, manusia masih memiliki kemampuan untuk kembali pada yang otentik. Bahwa di balik segala formalitas, masih ada ruang untuk kejujuran.
Dalam hal inilah, Idul Fitri hadir sebagai ruang dialektika antara yang sakral dan yang profan, antara yang ideal dan yang real, antara yang diharapkan dan yang terjadi.
Tradisi mudik, misalnya, dapat dibaca sebagai metafora besar tentang kerinduan. Ia bukan hanya perjalanan geografis, tetapi juga perjalanan eksistensial. Ketika seseorang pulang ke kampung halamannya, ia tidak hanya kembali ke rumah, tetapi juga pada ingatan, pada identitas, pada masa lalu yang membentuk dirinya. Dalam perspektif sosiologi, mudik adalah tentang upaya manusia untuk tidak tercerabut dari sejarahnya sendiri.
Di sisi lain, zakat fitrah menghadirkan dimensi lain dari Idul Fitri yaitu dimensi etika. Ia bukan sekadar kewajiban religius, tetapi juga praktik sosial yang mengandung pesan keadilan. Dalam narasi ini, Idul Fitri berbicara tentang distribusi yaitu tentang bagaimana kebahagiaan seharusnya tidak dimonopoli, tetapi dibagikan.
Ia adalah kritik halus terhadap struktur sosial yang timpang, sekaligus tawaran untuk membangun tatanan yang lebih berkeadilan. Menariknya, Idul Fitri juga memperlihatkan bagaimana waktu bekerja dalam kehidupan sosial. Ia adalah momen yang berulang setiap tahun, tetapi tidak pernah benar-benar sama. Setiap Idul Fitri membawa cerita baru, pengalaman baru, dan makna baru.
Ada semacam repetisi yang produktif, yakni pengulangan yang justru menghasilkan perbedaan. Ia mengingatkan bahwa hidup bukan sekadar rangkaian rutinitas, tetapi proses menjadi yang terus berlangsung.
Pada akhirnya, Idul Fitri seperti cermin, Ia memantulkan siapa kita sebagai individu dan sebagai masyarakat.
Bahwa apakah kita benar-benar memaafkan, atau hanya mengucapkan? Apakah kita benar-benar berbagi, atau sekadar memenuhi kewajiban? Apakah kita benar-benar kembali pada fitrah, atau hanya merayakan simbolnya?
Pertanyaan itu ialah tentang makna kejujuran, dan tentang kemanusiaan. Dan mungkin, justru di situlah letak keindahannya, bahwa Idul Fitri tidak memberikan jawaban yang pasti, tetapi membuka ruang bagi setiap manusia untuk menulis maknanya sendiri. Sebuah teks yang tidak pernah selesai, karena ia terus hidup dalam setiap relasi, dalam setiap ingatan, dan dalam setiap upaya manusia untuk menjadi lebih manusiawi. Selamat merayakan Idul Fitri, berkah dan bahagia menyertai [].














Leave a Reply