Oleh : Sulfan Kiye
[Eks ketum HIPMMAT]
Ditengah derasnya arus globalisasi dan kemajuan teknologi, kehidupan manusia mengalami perubahan yang signifikan. Kehidupan digital yang menjangkau setiap sudut ruang privat merobek batas-batas moral dan nilai. Hal yang dulu di anggap tabu kini dipertontokan tampa malu, seks bebas dianggap bagian dari romantisme, bukan lagi ancaman bagi kesehatan atau kehormatan hironisnya, para remaja kini lebih takut pada kehamilan ketimbang penyakit menular seksual seperti HIV/AIDS, bahkan tidak sedikit yang menganggap kehilangan ponsel lebih menyakitkan dari pada kehilanggan kehormatan diri.
Budaya digital telah menggeser nilai cinta menjadi permainan nafsu. Bukti cinta beruba menjadi kirimaan foto atau video fulgar, yang tersebar di berbagai platform daring, menjadikan tubuh manusia komuditas public.
Perempuan kehilangan kendali atas fungsi tubuhnya, bukan karena pilihan, tetapi karena tekanan dan paksaan yang sistemik. Hak perempuan atas tubuh dan kehidupannya sendiri sering dilanggar, bahkan dihalalkan oleh sistem hukum yang justru menjadi ladang bisnis kemanusiaan, bukan pelindung nilai-nilai moral.
Dalam kondisi ini hukum tampak tidak lagi berpihak pada keadilan hakiki. Hukun dikedalikan oleh tangan-tangan yang punya keistimewaan, dan perempuan yang seharusnya mendat perlinduangsn justru terus berada posisi rentan padahal, perempuan berhak mengetahui, mengendalikan, dan menyuarakan kebenaran diatas dirinya. Suda saatnya ruang ruang pengetahuan dan diskusi terbuka untuk perempuan dan masyarakat, agar tidak terus terjebak dalam dominasi sistem yang menindas. Maluku utara pun tidak terhindar dari gelombang besar (perubahan ini. Pengaru budaya luar dan dunia digital telah menjauhkan sebagian generasi muda dari nilai nilai agama dan kebudayaan lokal).
Remaja mulai lupa bahwa mereka adalah manusia sosial yang akan berinteraksi dengan sesama, bukan sekedar entitas dibalik layar gawai tampah hati nurani. Maka, pentingya untuk kembali mngeuatkan pembinaan islam dan kebudayaan kepada masyarakat Maluku utara. Khususnya kepada generasi muda. Mereka harus dibekali pemahaman yang benar tentang adab terhadap orang tua, guru, teman sebaya, maupun terhadap yang lebih muda. Adab ini mencakup seluru aspek kehidupan, mulai dari kehidupan social [hablumminannas], hingga ekonomi, politik , dan budaya. Keteladaan keluargan dan masyarakat sekitar menjadi kunci. Jika anak muda melihat bagaimana orang tuannya, gurunya, dan masyarakat sekitanya mempraktikkan nilai islam dan budaya dalam kehidupan sehari-hari, mereka akan pun menjadikannya pedoman.
Maka, membanguna sistem kehidpan berbasis islam dan budaya bukan sekadar pilihan, melainkan kebuhan mendeseka bagi Maluku utara. Sistem kapitalisme sekuler yang hari ini mendominansi telah melahirkan gaya hidup matrealistik, individualistic, dan bebas hidup.
Di dalam sistem ini lah, umat islam hidup seperti hidup dalam mengenggam bara api-panas, menyakitkan, dan penuh tantangan. Rasulillah telah mengigatkan dalam sabdanya: “ Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang mengeggam bara api,: ( HR. TIRMIDZI) makna hadits ini begitu relevan hari ini. Bagaimana mungkin seorang remaja mampu mempertahankan nilai islam dan budaya ditegang godaan maksiat yang tersistem? Ditengah arus informasi yang membanjiri jiwa dan pikiran mereka, iman menjadi rapu, dan kefasikan marajalela.
Namun, justru dalam kondisi inilah cahaya islam dan budaya harus kembali di nyalakan. Harapan Maluku utara tidak terletak pada kecanggian teknologi, tetapi pada kembalinya masayarakat kepada nilai-nilai yang mengakar _nilai agama dan budaya yang menjunjung tinggi martaba manusia. Sudah saatnya Maluku Utara bangkit, bukan dengan meniru budaya luar, tetapi dengan kembali pada jati diri. Dengan islam sebagai fondasi dan budaya sebagai bingkai, Maluku utara akan mampu menghadapi tangtangan zaman tampa kehilangan arah dan harga diri.
Dalam hal ini, digitalisasi atau teknologi membawa manusia pada ruang yang menjanjikan kebahagian dan kesengsaraan. Manusia hilang akan ekstensi dan esensi ia sebagai wakil atau pemimpin di muka bumi. Perkembangan zaman yang semakin maju, Maluku utara suda seharunya jauh dari kata ketertinggalan. Dilihat dari berbagai daerah yang masi dikatagori sebagai daerah tertinggal, baik itu jangkauan jaringan, sehingga komunikasi dengan sesama kerabat, saudara pun masi susah di jangkau. Walaupun teknologi membawa kita pada suatu zaman yang maju namun perluh digaris bawahi, kadang juga teknologi membawa manusia pada jurang kehancuran. Moralitas manusia lahan beralahan bobrok bahkan tidak hanya itu, budaya, agama, yang menjadi suatu keyakinan dan kepercayaan lahan beralahan semakin terkikis. Di era digitalisasi ini, manusia tidak lagi membedakan mana yang benar dan salah, segala sesuatu informasi ditelan menta menta. Maka untuk menepisi dan menganalis segala informasi yang ada, masyarakat suda seharusnya memiliki suatu kesadaran paradigma yang kritis. Penyebaran informasi disetiap media media, memungkinkan manusia hanya mengikuti kebohongan yang ada dan itu tak bisa dipungkiri.
Teknologi memudahkan segala kebutuhan yang diinginkan, namun teknologi membuat manusia merasakan keterasiangan dengan manusia lainya. Menciptakan kehampaan dan tujuan yang tak pernah ada ujungnya, bahkan menciptakan manusia satu dimensi. Dalam bukunya Ali Syari’Ati, sosialisme islam. seorang pemikir reveseoner dari iran, menyebut manusia tercerahkan sebagai meraka yang mampuh keluar dari belengguh ketakutan dan ketidaktahuan menuju kematangan akal dan kesdaran sejarah. Pencerahan, menurunya proses membebaskan diri dari ketergantungan, baik terhadap tradisi yang membatu maupun terhadap kekuasan hegemoni menindas. Manusia yang tercerahkan adalah mereka yang sabar akan tanggung jawab sosialnya untuk melakukan perubahan. Sayangnya, banyak masyrakat kita justru terjebak dalam fanatisme, taktlik buta, dan kebiasan bergantung pada kekuatan eksternal.
Bila semua komunikasi pindah ke dunia digital dan kontak langsung dirasa menjijikan, lalu masi adakah masyarakat yang bebas, jika mensin cerdas menentukan tindakanya? Setiap tindakan manusia ditentukan oleh mesin yang lain dan tak bukan hasil ciptaan manusia itu sendiri. Manusia hilang akan ekstensi dirinya sebagai manusia. Manusia hidupa pada ruang hampa. Bisa dikatakan di zaman sekarang ini, segalah pekerjaan yang seharunya menjadi suatu keharusan manusia untuk melakukan, kini telah dilakukan mesin mesin yang hasil dari buah karnya manusia itu sendiri. Alat alat yang diciptakn dari buah pikir manusia menjadi pesaing manusia tersendiri. Sehingga manusia terjerumus pada satu pradoks budaya yang membuat iyah kehilangan jati diri sebagaiama manusia itu sendiri.
Sayangnya banyak manusia tidak lagi menggunakan akal sebagai alat untuk memahami dirinya dijajah secara ideologis dan kultural. Mereka tidak lagi menggunakan akal sebagai alat untuk memahami realitas social dan mencari solusi. Mereka pasrah, menyera dan kehilangan semangat untuk menjadi manusia ideal. Padahal kebangkitan Maluku utara bukan hanya soal pembagunan fisik atau infastruktur. Lebih penting dari itu adalah membangun kembali kesadaran kolektif yang bersandar pada keyakinan,adat, dan budaya. Seperti yang dikatakan oleh M Bagir Shadr, ada tiga syarat yang harus dipenuhi agar sebuah masyarakat bisa bangkit [1] memilki ajaran yang benar, [2] beriman kepada ajaran tersebut, dan [3] memahami serta menngiternalisasi ajaran itu dalam kehidupan social. Ketiganya harus berjalan bersama. Jika satu saja hilang, mka kebnagkitan akan menjadi semu.
Kini saantya kita menata masa depan Maluku utara dengan kesadaran baru. Kesadran bahwa kita tidak bisa terus bergantung pada sistem digital. Kita tidak bisa meminjam cara berpikir orang lain untuk memahami diri kita sendiri. Kita harus membumikan kembali nilai nilai agama dan budaya yang telah terbukti menjaga harmoni social selama berabad abad. Dan tugas ini tidak bisa dibebankan pada pemerintah atau elit tertentu. Dibutuhkan manusia manusia baru yang lahir dan tumbuh dari masyrakat yang memahami realitanya secara alami, yang menyatu dengan denut nadi kehidupan rakyat, yang tidak mengambil jarak, tetapi justru menjadi bagian dari perjungan kolektif. Manusia manusia inilah yang akan menjadi pelopor kebangkitan Maluku utara.
Mereka akan memainkan peran kloferik dalam menyeruhkan kesdaran, membngkitakan semangat, dan memulihkan jati diri masyarakat yang telah lama terkikis.
Mereka akan menjadi “Nabi social” yang mengajak masyarakat keluar dari kebingungan dan keterasingan, menuju kebebasan dan keberdayaan. Zaman yang serbah ada ini, manusia dijuluki sebagai manusia satu dimensi, manusia instan segalah yang dibutuhkan susa terpenuhi, maka kerja akal atau fikiran tidak lagi dibutuhkan untuk bagaimana mengembalikan suatu kedudukan atau fitrah manusia yang seharusnya, manusia multih fungsi dari berbagai macam hasil karya yang dibuat. Dari perkembangan teknologi, moralitas manusia tidak lagi di tata dengan baik, tidak bisa membedakan ruang public, mana ruangan prifat yang tidak seharusnya dipublikasikan.
Perluh disadari bahwa tingkat kesadaran manusia suda tidak ada lagi, manusia bebas untuk melakukan segala bentuk keinginan yang menjadi tujuan mereka. Di zaman sekrang ini, manusia gampang untuk mencari uang, citus citus yang dihadirkan membuat manusia malas dalam bekerja, banting tulang untuk mencari nafka. Namun hadirnya segala aplikasi yang membuat manusia gampang mencari uang,pekerjaan, apalagi dengan konten kreator yang dilakukan demi mendapat uang. Diliahat dari semua ini, tingkat kesadaran moralitas yang harus dibenahi. Inilah era digitalisasi, segalah sesuatu serbah maju, informasi diterima baik itu dari tingkat lokal sampai nasioanal. (*)














Leave a Reply