SOCDEMPOST.ID

Klik ide-Sebar Makna-Rebut Perubahan

Advertisement

TOILET

Oleh; Rahmat Abd Fatah

[Periset Sosiologi Politik Pembangunan dan Demokrasi lokal, Universitas Muhammadiyah Maluku Utara]

Di setiap kota, ada bangunan yang jarang masuk brosur wisata, jarang dipamerkan dalam pidato pembangunan, dan hampir tak pernah dibanggakan di media sosial pemerintah (penyelenggara kota). Namanya “Toilet umum”. Ia tidak seindah taman kota. Tidak heroik seperti monumen perjuangan. Tidak fotogenik seperti pantai dan benteng tua. Tetapi justru di sanalah kualitas sebuah kota sering kali paling jujur terlihat.

Toilet kota adalah ruang paling demokratis di dunia. Semua orang masuk ke sana tanpa jabatan, tanpa gelar, tanpa status sosial. Pejabat, tukang ojek, mahasiswa, turis asing, semuanya tunduk pada hukum biologis yang sama. Tidak ada yang bisa bernegosiasi dengan perut. Karena itu, di banyak kota modern, toilet umum diperlakukan bukan sebagai fasilitas tambahan, tetapi sebagai bagian inti dari peradaban kota.

Sejarawan kota Catalina Pollak Williamson, lewat risetnya tentang toilet publik di Inggris pada rtikel “Fountain: from Victorian necessity to modern inconvenience”, menunjukkan bagaimana kota-kota maju dulu memandang toilet sebagai kebutuhan mutlak warga, setara dengan air bersih dan jalan raya. Toilet bukan kemewahan, tetapi hak publik. Sejarah Panjang ini ditegaskan Kembali oleh Larry W. Mays yang menelusuri sejarah toilet dari peradaban kuno Mesopotamia hingga kota modern dunia, dalam artikelnya “Evolution of toilets worldwide through the millennia”. Kesimpulannya sederhana tapi mendalam, bahwa setiap lonjakan peradaban selalu berjalan seiring dengan keseriusan mengelola sanitasi publik. Matthew Gandy melalui studinya tentang paris “The Paris sewers and the rationalization of urban space” menegaskan bahwa “Modernisasi kota tidak bisa dilepaskan dari sistem sanitasi. Infrastruktur air dan toilet membentuk tata ruang kota modern sekaligus menjadi alat negara dalam mengatur kebersihan, kesehatan, dan keteraturan social”.

Sementara itu Can Mehmet Hersek  dalam artikelnya “Historical Evaluation of Public Toilets as Public Spaces”. Menemukan bahwa Toilet umum bukan hanya fasilitas teknis, tetapi ruang sosial yang mencerminkan nilai peradaban, kesetaraan, dan perhatian negara terhadap warganya. Dan Perkembangannya selalu sejalan dengan kemajuan kota. Bahkan lebih tajam lagi Daniel J. Walther dalam artikelnya “Race, Space and Toilets in the German Colonial Order”. Dia bilang bahwa Toilet dan kebersihan dipakai sebagai alat politik kolonial untuk membedakan “beradab” dan “tidak beradab”. Karena itu sanitasi menurutnya menjadi instrumen kekuasaan dalam mengatur tubuh dan ruang social.

Anna Jaglarz(AJ) dalam artikelnya “Public Toilets: Determinant of the Progress of Civilization or a Necessary Evil?”. Tegas bilang bahwa Kualitas toilet umum berkorelasi dengan tingkat kesadaran sosial dan kemajuan peradaban. Kota maju selalu menjadikan sanitasi publik sebagai prioritas utama. Pada artikelnya“Designing Public Toilets in the Historic Urban Landscape”. AJ juga bilang bahwa Toilet umum yang terawat meningkatkan kenyamanan ruang publik dan daya tarik kota wisata, dimana desain dan perawatan sanitasi menjadi bagian penting dari pengalaman urban modern. Dan dalam  “The Evolution of Public Hygiene and Sanitary Facilities”. AJ tegaskan juga bahwa Urbanisasi selalu diikuti kebutuhan akan sanitasi publik yang manusiawi. Kota yang gagal mengelola toilet umum mengalami penurunan kualitas hidup warganya.

Di Tokyo, toilet umum bersih seperti ruang tamu hotel. Di Singapura, bau tak sedap hampir dianggap pelanggaran moral dan karena itu rentan anda ditenda jika lupa membersihkan setelah dipakai. Di Seoul, toilet umum dilengkapi musik lembut dan sensor otomatis. Di Eropa, toilet kota dipelihara seperti taman kecil, jadi ada bunga, pencahayaan bagus, bahkan seni mural. Kota-kota itu paham satu hal sederhana, bahwa kalau orang bisa nyaman buang air atau menemukan Kesan yang baik, mereka akan nyaman hidup di kota itu. Toilet bukan sekadar lubang sanitasi. Ia adalah wajah kecil dari tata kelola besar.

Baca Juga :  Luka Dan Duka Yang Tak Pernah Usai Dibumi Fagogoru 

Sekarang mari kita pulang ke Ternate.

Di taman kota yang indah dan ramai, apalagi hari minggu, berdiri toilet umum yang lebih cocok disebut monumen ketidakpedulian. Pintu rusak. Air tidak mengalir. Bau lebih konsisten daripada jam kantor. Pengunjung datang menikmati udara segar, lalu pulang membawa pengalaman yang tak akan mereka unggah ke media sosial karena terlalu traumatis untuk dikenang.

Di taman lain, toilet rusak bertahun-tahun tanpa perbaikan (lihat beritanya: https://witness.tempo.co/article/detail/6731/rusak-sejak-2020-toilet-di-taman-toboko-tak-kunjung-diperbaiki.html?utm_source=chatgpt.com). Ini seperti waktu berjalan, presiden berganti, pandemi datang dan pergi, tapi toilet tetap setia dalam kondisi rusaknya. Seolah ia menjadi situs Sejarah. Lalu di pusat kota, warga kembali mengeluh. Toilet ada, tapi fungsinya entah ke mana. Kadang ada bangunan, tapi tak ada air. Kadang ada air, tapi tak ada kebersihan. Kadang semuanya ada, kecuali rasa kemanusiaan (lihat beritanya: https://www.halmaheranesia.com/2023/09/26/toilet-umum-di-taman-kota-ternate-rusak-parah/).

Baca Juga :  Labirin Kepentingan di Balik Menjamurnya PLTU Captive

Ironinya makin lengkap ketika warung-warung tampak rapi, kopi rempah harum, gorengan tersusun cantik namun toiletnya seperti habis dilanda perang kecil, ini pengalaman pribadi saya bersama istri yang bermaksud ingin kembali mengenang kisah pertemuan pertama kami di tempat ini, dahulu namnya tapak tiga, dan padahal tempat ini belum lama dibangun. Mungkin imajinasi kotanya begini: “Kami serius soal estetika depan. Soal kebutuhan dasar, nanti dulu”. Toilet di Ternate seperti bukan lagi fasilitas publik. Ia berubah menjadi alat uji mental. Siapa yang kuat menahan, dia pemenang. Siapa yang nekat masuk, dia pahlawan. Siapa yang keluar tanpa trauma, dia legenda urban. Secara tidak sadar, warga sedang dilatih hidup dalam pembangunan versi irid: “indah di luar, rapuh di dalam”.

Dalam sosiologi politik pembangunan, ini bukan hal sepele. Infrastruktur dasar seperti air bersih, sanitasi, toilet umum itu adalah ukuran paling nyata dari kemampuan negara atau suatu kota melayani rakyatnya. Bukan baliho, bukan slogan, bukan laporan serapan anggaran. Toilet yang tidak terurus, itu bukan soal teknis tetapi itu soal prioritas. Penyelanggara Kota(negara) yang kuat bukan yang pandai membangun proyek besar, tapi yang mampu mengurus hal kecil secara konsisten. Karena kehidupan rakyat justru berlangsung di hal-hal kecil itu, yaitu buang air, minum, makan, berjalan kaki, dan bernapas nyaman.

Warga kota di situasikan setiap minggu berduyun-duyun datang ke Taman Nukila dan taman yang lain, menikmati alam dan makanan yang berjejer, tetapi warganya “dilarang ke toilet”- “silahkan banyak orang ke seni, makan yang banyak, nikmati semua, “cuman satu yang tara boleh”; ke Toilet. Silahkan ke rumah masing-masing. Miris, kan?. Toilet kota yang rusak adalah tanda negara hadir setengah-setengah. Dalam perspektif sosiologi perkotaan, taman kota, trotoar, dan toilet umum adalah tempat perjumpaan sosial. Di sanalah warga merasa diakui sebagai manusia, bukan sekadar angka penduduk. Ketika ruang publik nyaman, kepercayaan sosial tumbuh. Ketika ruang publik dibiarkan rusak, yang tumbuh adalah apatisme dan sinisme.

Baca Juga :  JEJAK FATIMA, LANGKAH RANITA

Maka jangan heran jika kritik paling pedas hari ini datang bukan dari ruang rapat DPRD, tetapi dari status media sosial tentang toilet bau. Itu bukan sekadar keluhan. Itu ekspresi politik warga. Warga sedang berkata: “Kami tidak minta gedung tinggi. Kami cuma minta bisa buang air dengan bermartabat”. Dalam dunia pariwisata modern, toilet bahkan menjadi penentu citra kota. Wisatawan bisa lupa nama hotel, lupa harga makan siang, tapi mereka jarang lupa pengalaman toilet paling buruk sepanjang perjalanan.

Satu toilet rusak bisa menghancurkan seribu foto indah. Ternate bisa punya laut tercantik, gunung termegah, sejarah termegah tetapi jika pengalaman dasar pengunjung berakhir dengan toilet yang bau dan rusak, maka kenangan indah itu akan bercampur aroma yang tak diundang. Lucunya, penyelenggara kota (pemerintah) sering sibuk bicara “kota berbudaya”, “kota wisata”, “kota maju”. Padahal peradaban selalu dimulai dari sanitasi. Sejarah menunjukkan bahwa kota besar runtuh bukan karena kurang slogan, tetapi karena gagal mengelola air dan kebersihan. Romawi maju karena saluran airnya. Eropa modern sehat karena revolusi sanitasi. Jepang tertib karena kebersihan jadi etika publik. Dan kita? Masih bernegosiasi dengan kloset.

Toilet kota seharusnya menjadi simbol kepedulian. Di Ternate, ia justru menjadi simbol kealpaan. Ironinya tajam, bahwa kita membangun ruang publik untuk dikunjungi, tetapi lupa membangun kenyamanan untuk manusia yang berkunjung. Toilet akhirnya menjadi metafora besar pembangunan kita indah dalam rencana, lemah dalam perawatan. Padahal merawat sering jauh lebih penting daripada membangun. Opini ini bukan sekadar tentang bau dan air. Ini tentang bagaimana negara hadir dalam kehidupan paling nyata warganya. Tentang bagaimana pembangunan seharusnya dimulai dari martabat manusia, bukan dari proyek yang mudah difoto.

Jika pemimpin ingin membaca karakter kota yang ia pimpin, ia tak perlu membuka dokumen setebal kamus. Cukup masuk ke toilet umum. Di sanalah kejujuran pembangunan terlihat. Bersih  berarti negara bekerja. Kotor dan rusak berarti negara lupa. Dan selama toilet kota masih menjadi cerita horor urban, selama itu pula pembangunan kita masih lebih sibuk membangun citra daripada membangun kehidupan [].

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *