SOCDEMPOST.ID

Klik ide-Sebar Makna-Rebut Perubahan

Advertisement

Ada Hambatan Apa di BUMDes Moreala? Ketika Aset Ada, Tapi Pemanfaatannya Masih Dipertanyakan

Oleh: Muhammad fajrin sufrin –ketua umum HPMM 

BUMDes atau Badan Usaha Milik Desa dibentuk untuk menjadi salah satu motor penggerak ekonomi masyarakat desa. Harapannya, berbagai potensi yang dimiliki desa dapat dikelola secara mandiri sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun, kondisi yang terjadi di Desa Moreala, Kecamatan Patani Barat, Kabupaten Halmahera Tengah, Provinsi Maluku Utara, membuat banyak masyarakat bertanya-tanya: sebenarnya ada hambatan apa di BUMDes Moreala sehingga dalam beberapa tahun terakhir tidak terlihat berjalan secara maksimal?

Menurut saya, pertanyaan ini sangat wajar muncul karena BUMDes dibentuk bukan hanya sebagai pelengkap administrasi desa, tetapi sebagai lembaga yang diharapkan mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Ketika keberadaannya tidak lagi terlihat aktif, masyarakat tentu ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Salah satu program yang pernah dijalankan adalah pengolahan tepung sagu. Program ini bahkan sempat dipromosikan melalui media sebagai salah satu bentuk pemanfaatan potensi lokal desa. Namun yang menjadi perhatian adalah proses pengolahan sagu tersebut masih dilakukan menggunakan alat-alat tradisional milik masyarakat. Sementara mesin dan fasilitas yang berada di bawah pengelolaan BUMDes tidak terlihat digunakan secara maksimal dalam kegiatan produksi tersebut.

Baca Juga :  Ilmu Komunikasi Bukan Sekadar Bicara: Membongkar Stigma yang Salah

Dari situ muncul pertanyaan yang menurut saya cukup penting. Jika mesin dan peralatan sudah tersedia, mengapa proses produksi masih dilakukan secara tradisional? Apakah mesin tersebut mengalami kerusakan, tidak memiliki operator, atau ada kendala lain yang menyebabkan fasilitas tersebut tidak dimanfaatkan sebagaimana mestinya?

Pertanyaan ini muncul bukan tanpa alasan. Dari pengalaman pribadi, saya pernah mengunjungi langsung gedung BUMDes Moreala. Di dalam bangunan tersebut masih terdapat beberapa mesin dan peralatan yang pernah disediakan untuk mendukung kegiatan usaha desa. Namun yang saya lihat, alat-alat tersebut hanya tersimpan di dalam ruangan dan tidak menunjukkan tanda-tanda sedang digunakan. Bahkan sebagian di antaranya sudah mulai berkarat karena terlalu lama tidak dimanfaatkan. Melihat kondisi tersebut, saya merasa cukup prihatin karena aset yang seharusnya dapat membantu masyarakat meningkatkan produktivitas justru terlihat terbengkalai.

Selain itu, beberapa warga yang saya temui juga mengaku tidak mengetahui apakah mesin-mesin tersebut masih digunakan atau tidak. Mereka mengatakan sudah cukup lama tidak melihat adanya aktivitas pengolahan atau kegiatan usaha yang melibatkan fasilitas BUMDes. Hal ini tentu menambah pertanyaan di tengah masyarakat mengenai kondisi sebenarnya dari aset-aset yang pernah diadakan untuk menunjang usaha desa tersebut.

Baca Juga :  Antara Potensi dan Realita: Kritik atas Arah Pembangunan Desa Moreala, Patani Barat

Menurut saya, persoalan ini bukan hanya soal mesin yang tidak digunakan, tetapi juga soal efektivitas pemanfaatan aset desa. Sebab setiap fasilitas yang diadakan tentu memiliki tujuan dan harapan agar bisa membantu masyarakat. Jika alat-alat tersebut hanya tersimpan bertahun-tahun tanpa digunakan, maka manfaat yang diharapkan dari keberadaan BUMDes menjadi sulit tercapai.

Di sisi lain, minimnya informasi yang diterima masyarakat juga menjadi persoalan tersendiri. Banyak warga mengetahui bahwa BUMDes pernah memiliki program dan fasilitas, tetapi tidak mengetahui bagaimana perkembangannya saat ini. Akibatnya muncul berbagai pertanyaan yang belum terjawab secara jelas.

Menurut saya, masyarakat tidak sedang mencari siapa yang harus disalahkan. Yang dibutuhkan adalah keterbukaan mengenai apa saja hambatan yang dihadapi BUMDes Moreala. Apakah kendalanya ada pada pengelolaan, sumber daya manusia, perawatan alat, pendanaan, atau faktor lainnya. Dengan adanya keterbukaan, masyarakat bisa memahami situasi yang sebenarnya sekaligus ikut memberikan masukan untuk perbaikan ke depan.

Baca Juga :  Telah Kritis Jejak Era Digitalisasi 

Desa Moreala memiliki potensi yang cukup besar untuk dikembangkan, terutama dalam sektor sagu dan usaha-usaha produktif lainnya. Namun potensi tersebut akan sulit berkembang jika fasilitas yang sudah tersedia tidak dimanfaatkan secara optimal. Karena itu, menurut saya sudah saatnya dilakukan evaluasi yang terbuka mengenai kondisi BUMDes Moreala agar masyarakat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana langkah yang akan diambil untuk menghidupkan kembali peran BUMDes di desa ini.

Sebab pada akhirnya, pertanyaan yang masih muncul di tengah masyarakat bukan hanya “apakah BUMDes Moreala masih ada?”, tetapi juga “ada hambatan apa sebenarnya sehingga mesin-mesin yang pernah diadakan kini hanya tersimpan di dalam ruangan, sementara manfaatnya belum banyak dirasakan oleh masyarakat?”. Pertanyaan ini bukan untuk menyudutkan siapa pun, melainkan sebagai bentuk kepedulian agar BUMDes Moreala dapat kembali menjalankan fungsinya sebagai penggerak ekonomi masyarakat desa.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *