SOCDEMPOST.ID

Klik ide-Sebar Makna-Rebut Perubahan

Advertisement

Ekstraktivisme sebagai bentuk baru penjajahan Dari VOC ke korporasi Tambang

Oleh: El Dino LMID Ternate 

400 tahun lalu kapal VOC (Vereenigde oostindische Compagnie ) atau dalam terjemahan bahasa indonesia “ Persatuan perusahaan india timur ” merapat ke banda dan ambon, mereka datang bukan untuk dagang biasa. Mereka bawa tentara, dan monopoli paksa, dan hukum rimba untuk pala dan cengkeh. Logika Voc, monopoli paksa, pembantaian, perampasan tanah, dan kontrol total produksi pala.  Ini bukan perdagangan bebas, tapi akumulasi primitif lewat kekerasan.

Voc juga ngga butuh pasar bebas mereka butuh monopoli caranya? Perjanjian paksa, pembantaian massal di banda 1621, dan sistem hongi tochten- pemusnahan pohon pala liar agar harga tetap tinggi. Tanah dan kerja masyarakat maluku dan maluku utara di rampas paksa untuk kepentingan modal belanda.

Marx menyebut ini primitive accumulation proses awal kapitalisme yang dibangun di atas perampasan paksa, bukan produktifitas. Voc ngak menciptakan kekayaan dari nol mereka merampas, membunuh, lalu mengekspor. Pola ini jadi fondasi kapitalisme global. Dan kita masi hidup di bayang-bayangnya.

Pohon pala pernah bikin belanda gila, mereka bunuh ribuan orang banda Cuma biar harga rempah tetap mahal di amsterdam. Hari ini yang bikin gila bukan pala lagi, tapi nikel. Bedanya darah yang di tumpahkan sekarang disebut “ debu indsutri” dan pembantain kebun diganti denggan “ pembebasan lahan’’ sejarah tidak berulang tapi ai sering menyamar.

Kita akan coba sedikit merobek kenapa Voc menjadikan maluku sebagai target. Maluku utara- ternate, tidore, bacan, jailolo, dan maluku Tengah – ambon, seram, banda. Wilayah-wilayah inilah yang menghasilkan pala, cengkih, dan fuli secara alami di abad 17-18. Harga 1 pon pala di eropa bisa 60 x harga belinya di banda, jadi yang menguasi maluku berati nguasi uang.

Selamat datang di abad 21 tepat pohon pala berusia 200 tahun di tebang demi baterai mobil listrik yang katanya ramah lingkungan, ironisnya bumi yang di selamatkan ada di eropa. Bumi yang dihancurkan ada di halmahera. Kita jual masa depan anak cucu sendiri lalu dikasih label “ investasi strategi nasional” itulah yang sedang kita hadapi hari ini.

Negara seringkali menerjemahkan keadilan itu berangkat dari pengundulan hutan secarah besar-besaran contoh nya adalah PSN pemerintah beranggapan bahwa Psn akan mampu menunjangkan mutuh hidup layak dan kesejahteraan, tapi kenyataan dilapangan memberikan jawaban yang berbeda yang ada adalah kehancuran sistem hidup manusia.

Baca Juga :  Dari  Tana  Kami Tumbuh  Dari Luka Kami Melawan : Hutan patani dalam bayang-bayang kehancuran 

Kita sering menonto berita, membaca koran, dan media masa yang menayangkan bagaimana pemerintah sangat yakin akan PSN, dari pidato yang berkobar-kobar dengan keyakinan akan proyek strategis nasional yang mampu memberikan dampak baik terhadap kehidupan rayat indonesia. Namun penulis ingin memberikan sekapur siri, kakek saya tanam pala ini di tahun 1968, katanya, pohon pala itu kayak anak kalau di rawat dia akan hidup ratusan tahun dan mampu kasih makan cucu sampai cicit Dan itu adalah fakta yang terjadi di lapangan.

Namun ketika negara menjadikan proyek strategis nasional sebegai jembatan kesejahteraan, maka pohon pala kami harus di gusur, mereka bilang ini demi hilirisasi dan masa depan bangsa saya Cuma mikir masa depan bangsa yang mana? Masa depan yang anak saya harus pergi jadi buruh kerja kontrak di smelter, sementara Tanah yang nenek moyang kami jaga selama 5 generasi jadi lubang kosong? Kalau begitu lebih baik sebut saja perampasan. Jangan pakai kata-kata manis.

Negara hari ini  berubah jadi mekelar,  dulu Voc octrooi hak istimewa dari negara belanda untuk berdagang, berperang, dan memerintah. Sekarang korporasi dapat PSN,UU Cipta kerja dan percepatan perzinan. Negara yang seharusnya jadi pelindung warga negara berubah jadi makelar lahan. Ketika masyarakat adat menolak, mereka dilabeli menghambat investasi, ketika petani pala melawan pengusuran, mereka akan diproses hukum. Negara nga netral ia memihak pada akumulasi modal,bukan pada keberlanjutan hidup rakyat, ini kolonialisme baru dengan baju konstitusional.

Sekarang nggak ada bedil Voc yang ada SK ijin tambang ( MOU ) investasi dan narasi hilirisasi untuk indonesai maju tapi efeknya mirip. Hutan dan kebun pala ditebang untuk smelter dan tailing dan limbah. Nelayan kehilangan tangkapan, petani kehilangan lahan, sementara keutungan dilarikan ke jakarta, singapura, china.

Biaya ekologis dan sosial ini sengaja dibuang ke luar pembukuan perusahaan. Itu namanya eksternalisasi dalam bahasa marx ini metabolic rift, hubungan metabolik antara manusia dan alam dirusaki demi akumulasi tampa batas. Dulu Voc kirim pala ke amsterdam, sekarang nikel dikirm pe pabrik baterai di eropa dan AS. Korbanya tetap sama rakyat maluku utara.

Kita suda melihat secarah bersama bagaimana kebijakan yang di bungkus demi kepentingan rayat nyatanya hanya hiasan dalam catur eksploitasi. Kampaye tentang kesejahteraan dan hidup layak semuanya adalah omon-omon untuk menjinak kan rayat agar eksploitasi tetap terjadi, lihat saja papua, kalimantan, dan lebih kususnya maluku utara.

Baca Juga :  Kepemimpinan Bahlil Lahadalia dalam Dinamika Investasi dan Politik Nasional

Kita yang selama ini bertahan hidup denggan hasil alam kita, kini di ganti denggan mesin baja yang merusak, pohon pala, cengkeh, kelapa, di ganti denggan mesin karat dan asap yang membawa penyakit. Sungai yang jerni di ganti limbah yang mampu membunuh bayi dalam kandungan seorang ibu, itulah fakta yang terjadi hari ini, lalu di mana letak kesejahteraan itu? Nyata semuanya adalah kosong.

Kita terlalu baik sehingga orang lain datang merusak dan meng eksploitasi tanah kita dan menghacurkan peradaban kita, kita merasa semua adalah demi kepentingan bersama, padahal mereka datang denggan membawa misi mengambil hasil alam kita, lalu pergi begitu saja, sedangkan yang mereka tinggalkan buat kita hanyalah debu dan penyakit serta hutan yang gundul.

Kita terlalu polos dan muda di tipu, kita juga terlalu baik sehingga mereka menggap kebaikan kita bisa di jadikan alasan untuk mengeksploitasi kita, kebaikan kita di balas denggan kerusakan alam apakah kita hanya perlu diam dan melihat itu semua, maka hati  nurani kita telah mati, itu samahal nya kita merelakan peradaban kita sirna di rusaki mesin tak bermoral itu.

Mereka hanya melihat alam kita, mereka rakus dan bersembunyi di balik jubah kebijakan yang di bunkus lewat janji politik dan keadilan, yang mereka butuhkan dari kita hanya alam kita, sedangkan rayat nya di biarkan miskin, ini metode penjajahan, mungkin dulu kita di jajah belanda, portugis, jepang, spayol, dan kini kita tibah di mana penjaja itu adalah negara kita sendiri itu adalah fakta yang yang terjadi hari  ini. Ini bukan drama korea  yang menjadi ending yang baik, atau drama indosiar tapi ini  soal fakta yang sedang di abaikan oleh kekuasaan.

Untuk terus merampas tanah petani, negara sengaja menciptakan konflik yang panjang di tanah halmahera lihat saja kasus pembantaian di hutan patani tahun 1989, 2000, 2013, 2016, 2019, 2026, inilah rentetan kasus pembantain di hutan patani. Dari pembatain ini ujung-ujung nya adalah tambang, dan tambang. Bagaimana untuk menjaga tambang tetap beroperasi denggan aman? Cara terbaiknya adalah TNI  akan di berikan kewenangan.   lihat saja pertambangan di indonesia hari ini loreng bersenjata itu di berikan kepercayaan untuk menjaga pertambangan.

Baca Juga :  Refleksi Untuk Karang taruna Moreala: Aktif atau Hanya Terlihat Aktif 

Bukan hanya itu TNI pun semakin leluasa masuk kerana sipil,  di beberapa tahun terakhir ini masala yang mencuat di permukaan banyak di lakukan oleh Tni sendiri, mulai dari penyiraman Air keras terhadap Andre yunus sampai mereka menjadi penjaga tambang. Yang terbaru adalah pembentukan batalyon Infanteri Teritorial Pembanguna (yonif TPP).

Kita akan bertanya kenapa negara membentuk itu? Lihat saja peyampaian Mentri pertahanan, Sjafrie Sjamsoeddin dalam rapat komisis I DPR, senayan, jakarta selasa 19/5/2026. Sjamsoeddin menyebut bahwa ketiadaan pasukan militer di tinggakat kabupaten hingga banyaknya begal dan kriminalisasi di pelbagai tempat menjadi alasan pemerintah membententuk 750 batalion baru sampai 2029.

Kita perlu melihat lebih jau, dalam pembanguna yonif TPP ini jika pos kamling di isi oleh aparat bersenjata lengkap apakah rayat akan merasa aman. Tidak sebatas itu saja kita juga perlu melacak bahwa wilayah timur terkususnya maluku utara itu dijadikan wilayah pertambangan hal ini berkaitan denggan yonif TPP, yang akan saling berhubungan denggan pertambangan.

Jika kita menggunakan antonie Gramsci soal negara dan hegemoni kita akan menemukan bahwa yonif batalyon, merupakan  proyek hegemoni. Tambang tidak disebut di tupoksi, tapi hegemoni tidak butuh disebut. Cukup dengan jadi “ baik hati’’ di sektor pangan, negara dapat legitimasi untuk amankan seluruh basis ekonomi termasuk tambang.  Yonif batalion teritorial adalah proyek jangka panjang yang akan terus menciptkan  surplus value menciptakan kekayaan lewat eksploitasi.

Maka negara suda tidak menjamin ruang hidup buat masarakat, negara hanya memikirkan keuntungan lewat eksploitasi alam, sedangkan manusianya hanya di jadikan tumbal atas nama pembangunan, banyak tipu daya dan kata manis yang di ungkapkan kuasaan, tapi perlu kita ingat puisi  wiji thukul

jika rakyat pergi ketika penguasa pidato kita harus hati-hati Barangkali mereka putus asa, kalau rakyat sembunyi dan berbisik-bisik ketika membicarakan masalahnya sendiri penguasa harus waspada dan belajar mendengar bila rakyat berani mengeluh itu artinya suda gawat dan penguasa tidak boleh di bantah kebenaran pasti terancam, apabilah usul ditolak tampa di timbang suara di bungkam kritik dilarang tampa alasan dituduh subversif dan mengganggu keamanan maka hanya ada satu kata lawan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *