Oleh : Jihan Samad –Pjs Ketua Umum HMI Komisariat FKIP Unkhair Ternate
Usia Halmahera Timur terus bertambah, sejak melapaskan diri dari Halmahera Tengah untuk mengurus daerah administrasinya masing-masing pada 2003. Sebelum tahun 2003, diskursus di setiap meja warung kopi begitu hangat untuk melepaskan diri. Demi menciptakan kesejahteran dan pemerataan di semua sektor.
Tapi cita-cita untuk kesejahteran itu hilang arah paska Izin Usaha Pertambangan (IUP) itu diberikan. Perioritas Pemerintah yang awalnya adalah demi terciptanya kesejahteraan, kini berali ke Investasi Pertambangan.
Dilansir dari JATAM, sejak ANTAM mulai masuk dan beroperasi pada 2006 lalu. Dulunya, kawasan Moronopo ini, adalah tempat warga Maba dan Buli menangkap ikan. Di sini ikan bertelur. Para nelayan pun menjadikan tempat ini untuk menambatkan perahu, juga tempat transit.
Ketika ANTAM beroperasi, semua kemudian berubah. Lahan pertanian/perkebunan di lereng gunung beralih-fungsi menjadi wilayah tambang.
Sejak izin tambang itu diterbitkan, petani dan nelayan tergeser dari tempat produksinya. Bahkan tidak ada tempat untuk mereka memprotes kerusakan yang dibikin oleh industri ekstraktif tersebut. Padahal, di setiap tahun datang musim hujan selalu mengakibatkan longsor dan banjir. Ini bukan diakibatkan karena curah hujan yang berlebihan, melainkan pembabatan hutan secara membabi’buta sehingga tak ada lagi penghalang ketika hujan turun.
Kita bisa lihat yang diterbitkan Kementerian ESDM pada tahun 2000, dengan luas konsesi mencapai 39.040 hektar. Selain menambang nikel, ANTAM juga membangun tempat pemurnian (smelter) nikel, berlokasi di Mabapura, tepatnya di Tanjung Buli.
Hal ini berbedah dengan petani yang ada di Kecematan Maba Selatan. Jika petani dan nelayan di Kecamatan Maba mulai cemas dengan kehadiran Industri Ekstraktif yang dengan terang-terangan menyerobot lahan dan merusak sungai dan laut meraka.
Petani di Maba Selatan berbedah, karena sejak 1985 para petani telah hidup dalam ketakutan teror dan pembunuhan. Teror dan pembunuhan tidak berhenti di tahun 1985, malahan 2004-2006-2013-2014-2019-2022 adalah deretan teror dan pembunuhan di Maba Selatan.
Ketidak seriusan pemerintah untuk mengungkap siapa dalang dari teror dan aktor pembunuhan berantai ini’lah yang membikin petani di Maba Selatan cemas, karena perlahan-lahan meraka akan dilengserlan dari tempat-tempat produksi mereka mempertahan hidup. Karena setiap petani yang pergi ke kebun untuk memanen hasil taninya, meraka selalu dihantui teror dan pembunuhan di hutan yang dulunya nyaman ketika berada didalamnya.
Di HUT Halmahera Timur ke 23, dengan tema, Harmoni untuk Pembangunan Berkelanjutan. Menjadi harapan untuk pemerintah bisa kembali pada cita-cita para pendahulu. Sebab pembangunan akan berlanjut dan harmoni akan tercipta bila warganya hidup dengan aman, sejahterah, dan merdeka di atas tanah yang meraka percayai adalah milik mereka sendiri.
Dengan kekayaan alam yang melimpah, sudah semistinya warganya hidup dengan penuh kesejahteraan. Tapi hal itu tidak akan mungkin terjadi, karena kekayaan alam yang dimiliki diincar oleh beberapa orang dilingkaran elit. Ini yang menyebabkan kesejahteraan itu tidak merata, sebab kekayaan yang dihasilkan dari ekspolitasi hutan, pencemaran sungai dan laut hanya berputar disekolom kecil penjahat berwajah suci.
Terakhir, Usut tuntas teror dan pembunuhan berantai di Maba Selatan. Karena damai bagi kami adalah hutan aman bagi petani.
















Leave a Reply