Oleh: Muhammad fajrin sufrin– ketua umum HPMM
Pendidikan merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan kemajuan suatu daerah. Melalui pendidikan yang baik, kualitas sumber daya manusia dapat meningkat dan mampu menghadapi berbagai perubahan zaman. Namun, kondisi pendidikan di Desa Moreala, Kecamatan Patani Barat, Kabupaten Halmahera Tengah, masih menghadapi berbagai tantangan yang perlu mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah maupun masyarakat.
Saat ini perkembangan teknologi telah membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan. Teknologi tidak lagi hanya menjadi alat pendukung pembelajaran, tetapi sudah menjadi kebutuhan yang membantu siswa memperoleh informasi, mengembangkan keterampilan, dan memperluas wawasan. Sayangnya, kondisi tersebut belum sepenuhnya dirasakan oleh peserta didik di Desa Moreala.
Berdasarkan kondisi yang terlihat di lapangan, fasilitas pendidikan yang mendukung pembelajaran berbasis teknologi masih cukup terbatas. Ketersediaan komputer di sekolah belum memadai dan kualitas jaringan internet juga belum sepenuhnya mendukung proses pembelajaran digital. Akibatnya, siswa belum bisa memanfaatkan teknologi secara maksimal seperti yang sudah dilakukan di banyak sekolah lain.
Berdasarkan pengalaman pribadi, saya melihat secara langsung adanya perbedaan yang cukup jelas antara kondisi pendidikan di Desa Moreala dan di Pulau Gebe. Ketika berada di Pulau Gebe, saya melihat bahwa hampir setiap sekolah, baik tingkat SMP maupun SMA, sudah memanfaatkan teknologi sebagai bagian dari proses pembelajaran. Sekolah-sekolah di sana telah memiliki fasilitas komputer yang memadai serta akses internet dan Wi-Fi yang dapat digunakan untuk menunjang kegiatan belajar mengajar. Kondisi tersebut membantu siswa lebih mudah mengakses informasi, mencari referensi pembelajaran, serta meningkatkan kemampuan mereka dalam menggunakan teknologi digital.
Sementara itu, kondisi yang saya lihat di Desa Moreala masih sangat berbeda. Ketersediaan fasilitas komputer dan akses internet di sekolah masih sangat terbatas. Bahkan, penggunaan komputer dalam kegiatan pembelajaran belum menjadi hal yang umum bagi sebagian siswa. Akibatnya, masih banyak siswa yang belum memahami penggunaan komputer secara baik karena minimnya kesempatan untuk belajar dan berinteraksi langsung dengan teknologi. Rendahnya literasi digital ini menjadi tantangan tersendiri di tengah perkembangan zaman yang semakin menuntut kemampuan teknologi sebagai salah satu keterampilan dasar yang harus dimiliki oleh generasi muda.
Saya juga pernah melihat beberapa siswa yang masih kesulitan mengoperasikan komputer karena jarang mendapatkan kesempatan untuk belajar secara langsung. Kondisi ini berbeda dengan yang saya lihat di Pulau Gebe, di mana penggunaan komputer sudah menjadi hal yang biasa di lingkungan sekolah. Menurut saya, persoalan ini tidak bisa terus dianggap sebagai hal yang biasa karena pendidikan adalah investasi jangka panjang bagi masa depan desa. Jika sejak sekarang generasi muda tidak diberikan fasilitas dan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan mereka, maka akan semakin sulit bagi mereka untuk bersaing di masa depan yang semakin bergantung pada teknologi dan informasi.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa masih terdapat kesenjangan dalam akses pendidikan berbasis teknologi antara Desa Moreala dan wilayah lain seperti Pulau Gebe. Ketika siswa di daerah lain mulai terbiasa menggunakan komputer, internet, dan berbagai platform pembelajaran digital, sebagian siswa di Desa Moreala masih mengalami keterbatasan dalam mengakses fasilitas tersebut. Jika kondisi ini terus berlanjut, siswa di Desa Moreala berisiko tertinggal dalam penguasaan keterampilan digital yang saat ini sangat dibutuhkan, baik untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi maupun untuk menghadapi dunia kerja di masa depan.
Menurut saya, pemerintah desa maupun pemerintah daerah perlu memberikan perhatian yang lebih serius terhadap kondisi ini. Pembangunan pendidikan tidak hanya berfokus pada pembangunan gedung sekolah atau fasilitas fisik semata, tetapi juga harus memperhatikan kebutuhan teknologi yang semakin penting dalam dunia pendidikan saat ini. Penyediaan komputer, peningkatan kualitas jaringan internet, penyediaan Wi-Fi di lingkungan sekolah, serta pelatihan literasi digital bagi guru dan siswa merupakan langkah yang perlu diprioritaskan.
Selain persoalan fasilitas pendidikan, menurut saya pemerintah juga perlu membuka ruang komunikasi yang lebih luas bagi masyarakat. Masyarakat seharusnya diberikan kesempatan untuk menyampaikan pendapat, kritik, maupun pertanyaan mengenai berbagai persoalan yang terjadi di desa, termasuk masalah pendidikan. Jangan sampai ada anggapan bahwa masyarakat dibatasi ketika ingin bertanya atau menyampaikan aspirasi. Sebab, partisipasi masyarakat merupakan bagian penting dalam proses pembangunan yang baik dan transparan.
Ketika masyarakat diberikan ruang untuk berbicara, berbagai permasalahan yang terjadi di lapangan dapat diketahui dengan lebih cepat dan dicarikan solusi secara bersama-sama. Sebaliknya, jika ruang diskusi dan penyampaian pendapat terlalu terbatas, maka banyak persoalan yang mungkin tidak tersampaikan kepada pihak yang memiliki kewenangan untuk mengambil kebijakan. Oleh karena itu, pemerintah desa perlu membangun komunikasi yang terbuka dan melibatkan masyarakat dalam setiap upaya pembangunan, terutama yang berkaitan dengan pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia.
Menurut saya, kritik dan pertanyaan dari masyarakat tidak seharusnya dipandang sebagai bentuk perlawanan terhadap pemerintah, melainkan sebagai bentuk kepedulian terhadap kemajuan desa. Kritik yang disampaikan dengan baik justru dapat menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki berbagai kekurangan yang masih ada. Dengan adanya komunikasi yang baik antara pemerintah dan masyarakat, berbagai program pembangunan dapat berjalan lebih efektif serta sesuai dengan kebutuhan yang benar-benar dirasakan oleh warga.
Di sisi lain, masyarakat juga memiliki peran penting dalam mendukung kemajuan pendidikan. Kesadaran akan pentingnya pendidikan harus terus ditingkatkan agar semua pihak dapat bersama-sama mendorong perubahan yang lebih baik. Pendidikan bukan hanya tanggung jawab sekolah atau pemerintah, tetapi juga menjadi tanggung jawab bersama demi masa depan generasi muda.
Oleh karena itu, sudah saatnya pembangunan pendidikan di Desa Moreala diarahkan tidak hanya pada pembangunan fisik, tetapi juga pada penguatan fasilitas teknologi, peningkatan literasi digital, dan keterbukaan dalam menerima aspirasi masyarakat. Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka kesenjangan pendidikan akan semakin besar. Sebaliknya, apabila pemerintah dan masyarakat dapat bekerja sama untuk memperbaiki kualitas pendidikan, Desa Moreala memiliki peluang besar untuk melahirkan generasi yang lebih cerdas, kreatif, kritis, dan mampu bersaing di era digital tanpa kehilangan kepedulian terhadap kemajuan daerahnya sendiri.














Leave a Reply