Oleh : muh haltim mandar
(Ketua umum kpm-gotowasi)
Malam itu turun tanpa suara. Tidak ada gendrengan perang, tidak ada sorak-sorai kemenangan. Hanya langit yang tampak lebih dekat dari biasanya, seolah bumi sedang memanggil sesuatu yang lama hilang dari manusia yaitu keberanian untuk melawan kegelapan.
Orang-orang menyebutnya Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Namun sering kali kita merayakannya hanya sebagai ritual sunyi: doa yang dipanjatkan dengan suara lirih, tasbih yang berputar pelan di antara jari-jari, dan harapan pribadi agar dosa-dosa dihapuskan. Padahal jika menelusuri kembali jejak sejarahnya, malam ini bukan sekedar malam pengampunan. Ia adalah malam ketika kata pertama turun kepada Muhammad di kesunyiaan gua Hira kata yang mengguncang struktur dunia.
“iqra.” ( Bacalah)
Perintah yang sederhana, tetapi sekaligus berbahaya bagi setiap sistem yang dibangun di atas kebodohan yang disengaja. Pada masa itu, mekkah berdiri sebagai kota yang makmur sekaligus kejam. Perdagangan berkembang, tetapi keadilan diperdagangkan. Kaum elit mengumpulkan kekayaan, sementara budak dan orang miskin hidup dalam bayang-bayang. Perempuan diperlakukan sebagai barang, anak perempuan bahkan bisa dikubur hidup-hidup. Tuhan-tuhan dipahat dari batu, tetapi yang sebenarnya disembah adalah kekuasan.
Di tengah dunia seperti itu, wahyu pertama turun bukan sebagai doa yang menenangkan, melainkan sebagai gangguan terhadap ketertiban yang mapan. “iqra” adalah perintah untuk membuka mata terhadap realitas. Ia adalah undangan untuk membaca dunia, membaca ketidakadilan, membaca penindasan, membaca struktur yang membuat sebagian manusia yang berdiri di atas penderitaan yang lain. Membaca adalah langkah pertama dalam perlawanan, karena kekuasaan yang zalim selalu membutuhkan rakyat yang tidak membaca.
Malam lailatul Qadar, dengan demikian, bukan sekedar malam spiritual. Melainkan ia adalah malam kelahiran kesadaran. Dan kesadaran itu perlahan-lahan menjalar. Dari satu manusian di gua sunyi, ia menyebar ke rumah-rumah kecil, ke hati para budak, para perempuan, para fakir yang selama ini tidak memiliki suara. Mereke mendengar sesuatu yang baru, bahwa manusia setara di hadapan tuhan, bahwa kekayaan tidak menjadikan seseorang lebih mulia, bahwa menindas orang lemah adalah kejahatan yang tidak bisa disembunyikan oleh ritual. Pesan itu sederhana, tetapi radikal.
Tauhid keesaan tuhan bukan hanya konsep teologis. Ia adalah pernyataan politik yang halus namun tajam. Jika hanya tuhan yang absolut, maka tidak ada manusia yang berhak menjadi tuhan bagi manusia lain. Tidak ada penguasa yang kebal dari kritik. Tidak ada sistem yang terlalu sakral untuk dipertanyakan.
Di sinilah spirit perlawanan lailatul Qadar berakar. Namun sejarah sering kali memperhalus tepi-tepi tajam dari pesan tersebut. Ritual dipertahankan, tetapi keberanian dikikis. Lailatul Qadar diperingati dengan lampu-lampu masjid yang terang, tetapi dunia di luar tetap gelap oleh ketidakadilan. Doa dipanjatkan sepanjang malam, tetapi kehening itu tidak selalu berubah menjadi keberanian di siang hari. Padahal mungkin justru di situlah makna terdalam malam itu: kesunyian yang melahirkan keberanian.
Perlawanan besar jarang dimulai dari keramaian. Ia lahir dari momen ketika seseorang memandang dunia dan berkata dalam hatinya: ada yang salah dengan semua ini. Malam Lailatul Qadar adalah simbol dari momen itu momen ketika manusia berhenti sejenak dari rutinitasnnya dan menyadari bahwa dunia tidak harus seperti ini selamanya. Bahwa kemiskinan yang sistematis bukan takdir. Bahwa penindasan bukan hukum alam. Bahwa kekuasaan yang menindas tidak selalu abadi.
Seribu bulan sekitar delapan puluh tiga tahun adalah usia panjang bagi seorang manusia. Tetapi Al-Qur’an menyatakan bahwa satu malam bisa lebih bernilai dari semua itu. Mungkin karena satu malam kesadaran bisa mengubah arah sejarah yang panjang.
Satu malam seseorang memutuskan untuk tidak lagi diam. Satu malam seseorang menyadari bahwa iman bukan hanya tentang keselamatan pribadi, tetapi juga tentang keberpihakan pada yang tertindas. Satu malam seseorang memahami bahwa doa tanpa keberanian hanyalah bisikan yang hilang dilangit.
Jika demikian, maka Lailatul Qadar bukan hanya malam mencari pahala. Ia adalah malam ketika manusia diingatkan kembali pada tugasnya yang paling sulit: menjadi saksi bagi kebenaran, bahkan ketika kebenaran itu tidak nyaman. Di luar sana dunia mungkin masih dipenuhi ketidakadilan. Tetapi setiap tahun malam itu kembali datang, seperti bisikan dari sejarah yang tidak mau dilupakan. Seolah langit berkata kepada manusia: bahwa perlawan selalu dimulai dari kesadaran. Dan kesadaran sering lahir di malam yang sunyi.
Spirit Lailatul Qadar tidak hanya dapat dipahami sebagai malam spiritual untuk mencari ampunan dan pahala, tetapi juga sebagai simbol lahirnya kesadaran moral yang menantang ketidakadilan. Malam turunnya wahyu pertama kepada Muhammad di gua Hira menandai dimulainya perubahan besar yang menggugat struktur sosial di mekkah pada masa itu struktur yang sarat dengan penindasan, ketimpangan, dan dominasi kaum elit.
Perintah pertama, iqra (bacalah), dapat dimaknai sebagai ajakan untuk membangun kesadaran kritis; membaca realitas, memahami ketidakadilan, dan menyadari bahwa sistem yang menindas manusia bukanlah sesuatu yang harus diterima sebagai takdir. Dari kesadaran inilah lahir keberanian untuk bersikap dan bertindak.
Dalam prespektif perlawanan, Lailatul Qadar menjadi simbol bahwa perubahan besar sering dimulai dari refleksi yang sunyi. Doa, tafakur, dan ibadah pada malam itu seharusnya tidak berhenti pada dimensi pribadi, tetapi juga melahirkan keberpihakan kepada kaum tertindas dan komitmen untuk memperjuangkan keadilan sosial.
Dengan demikian, makna terdalam Lailatul Qadar bukan hanya tentang keberkahan satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, melainkan tentang momen kesadaran yang mampu mengubah arah kehidupan manusia. Ia mengingatkan bahwa spiritualitas sejati tidak berhenti pada ritual, tetapi harus menjelma menjadi keberanian moral untuk melawan ketidakadilan dan membela kemanusian.














Leave a Reply