Oleh Rahmat Abd Fatah
(Pengajar Sosiologi Universitas Muhammadiyah Maluku Utara).
Idul Fitri tahun 2026 hadir dalam dua waktu, dua suasana, dan dua horizon makna. Jumat dan Sabtu “tara” lagi sekadar penanda hari, melainkan menjadi simbol dari dua cara manusia membaca langit, yakni antara hisab dan rukyat, antara kepastian perhitungan dan kesaksian penglihatan.
Nah, di situlah saya berada di antara keyakinan ideologis dan panggilan kultural yang sama-sama hidup dalam diri. Sebagai bagian dari Muhammadiyah, saya memulai Idul Fitri lebih awal. Pagi Jumat itu, di Masjid Kampus Universitas Muhammadiyah Maluku Utara.
Di sana, agama terasa sebagai sistem yang jernih, rasional, terukur, dan pasti.
Namun saya sadar bahwa kehidupan tidak pernah sepenuhnya berada dalam ruang ideologis. Ia selalu meluber ke dalam ruang-ruang kultural, tempat manusia hidup sebagai makhluk sosial yang saling terikat oleh rasa, oleh kebiasaan, oleh kedekatan yang tak selalu bisa dijelaskan dengan logika formal.
Karena itu ketika saya pulang dari masjid, itu tidak sepenuhnya berarti selesai dengan Idul Fitri. Di luar sana, masyarakat masih menunggu hari esok untuk merayakannya. Dan ketika Sabtu datang, saya kembali melangkah ke masjid. Kali ini bukan di lingkungan Muhammadiyah, melainkan di tengah masyarakat umum yaitu di Masjid Fitu, Kota Ternate.
Takbir kembali terdengar, tetapi dengan nuansa yang berbeda. Saya berdiri dalam barisan yang tidak sepenuhnya sama dengan hari sebelumnya, tetapi justru di situlah maknanya, saya tidak kehilangan diri, tetapi menemukan diri dalam yang lain.
Dua kali sholat Id bukanlah pengulangan yang hampa. Ia semacam dialog. Pada hari Jumat, saya berbicara dengan keyakinan dan solidaritas ideologis. Pada hari Sabtu, berbicara dengan kebersamaan kultural. Yang satu menguatkan identitas dan yang lain merawat relasi. Dan di antara keduanya, saya belajar bahwa agama tidak selalu harus memilih salah satu untuk meniadakan yang lain.
Di sinilah nuansa ideologis dan kultural bertemu bukan untuk saling menegasikan, tetapi untuk saling melengkapi. Ideologi memberi arah, menjaga agar keyakinan tidak tercerabut. Sementara kultur memberi ruang, memastikan bahwa keyakinan tidak menjadi tembok yang memisahkan.
Tanpa ideologi, agama bisa kehilangan pijakan. Tanpa kultur, agama bisa kehilangan kehangatan. Dan karena ituSaya menyadari bahwa pilihan ini bukan tanpa risiko tafsir. Akan selalu ada pertanyaan, apakah ini bentuk konsistensi atau justru kompromi?
Namun bagi saya, ini adalah cara untuk merawat dua hal sekaligus, yaitu keimanan dan kemanusiaan. Sebab pada akhirnya, agama tidak hanya diukur dari seberapa teguh kita berdiri dalam prinsip, tetapi juga dari seberapa luas kita mampu merangkul sesama.
Idul Fitri, dalam pengalaman ini, ialah lebih dari sekadar ritual tahunan. Ia menjadi cermin. Bahwa dalam hidup, kita seringkali tidak dihadapkan pada pilihan yang hitam-putih, tetapi pada ruang abu-abu yang menuntut kebijaksanaan. Bahwa menjadi religius tidak selalu berarti menjadi eksklusif, dan menjadi terbuka tidak harus berarti kehilangan arah.
Di antara dua hari raya itu, saya menemukan satu hal bahwa iman itu tidak hanya tumbuh dalam keseragaman, tetapi juga dalam kemampuan untuk berdiri teguh tanpa menutup diri. Bahwa perbedaan, jika dihayati dengan kedewasaan, bukanlah ancaman, melainkan kesempatan untuk memperluas makna kebersamaan.
Maka Idul Fitri tahun ini bukan hanya tentang kembali ke fitrah, tetapi juga tentang belajar menjadi manusia yang utuh, yang mampu menjaga keyakinannya tanpa mengorbankan hubungan sosialnya. Sebab mungkin, di situlah letak kemenangan yang sesungguhnya, ketika kita tidak hanya damai dengan Tuhan, tetapi juga damai dengan sesama.
Sampai di sini apakah anda juga sholat idul Fitri dua kali dalam setahun, atau apakah anda masak daging dan ketupat dua kali, dan ataukah anda “Tambaru doi” dua kali di rumah yang sama?hehe [].














Leave a Reply