Oleh: Mita Halid, Desi Desa – Mahasiswa Program Studi Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial Dan Politik Universitas Muhammadiyah Maluku Utara
Bagiku Solohi mengajarkan tentang kesabaran, tentang sunyi, tentang Keberanian yang tumbuh dari kehidupan yang keras. Ia bukan sekedar anyaman bambu dan rotan yang dipikul di punggung ibu-ibu kampung di Maluku Utara. Solohi adalah simbol Hidup yang melekat dengan alam. Ia memuat hasil kebun, kayu bakar, kelapa, cengkeh, pala, dan hasil alam lainnya. bahkan Solohi adalah harapan keluarga yang digendong pulang melewati jalan-jalan yang sunyi, tanah yang licin dan berbatu.
Di banyak kampung di kepulauan Halmahera, Tidore hingga pesisir Patani, perempuan berjalan dengan Solohi di punggungnya sejak mentari belum sepenuhnya bangun. Melaka memikul hasil alam (Petani) sambil menggendong tanggung jawab rumah tangga yang nyaris tak perna selesai. Dalam diam, perempuan Halmahera jika pergi ke kebun status gender urusan belakang semua setara kerja laki- laki dan perempuan sama naik pala, cengkeh, bahkan kelapa Mereka bekerja tanpa tepuk tangan, tanpa panggung, bahkan sering tanpa pengakuan.
Solohi bukan hanya sebuah bendah Budaya. Ia adalah instrumen peradaban perempuan Maluku Utara. Dari setiap anyaman tersimpan filosofis tentang ketahanan hidup. Tentang bagaimana ibu berjalan kaki meski pundaknya nyeri dan hidup tidak selalu berpihak padanya. Di balik Solohi, ada sebuah tangan kasar karena cangkul, ada peluh yang jatuh di kebun pala dan cengkih, ada wajah-wajah perempuan yang dipaksa kuat oleh keadaan.
Namun di hari ini, Solohi perlahan kehilangan maknanya di tengah gelombang arus modernitas yang datang tanpa kompromi. Anak-anak muda mulai malu membawa identitas budayanya sendiri. Mereka lebih mengenal tren luar daripada sejarah kampungnya. Budaya perlahan dipinggirkan, seolah tradisi hanyalah benda kuno yang tidak lagi relevan dengan zaman. Padahal di situlah akar kehidupan masyarakat Maluku Utara pernah tumbuh dengan kuat.
Dalam perspektif sosiologis, alam adalah ibu yang menghidupi manusia. Alam memberi makan, memberi air, memberi ruang hidup bagi seluruh makhluk ciptaan Tuhan. Karena itu hubungan manusia dan alam seharusnya bukan hubungan penakluk dan yang ditaklukkan, melainkan hubungan yang saling menjaga. Tetapi hari ini hubungan itu mulai rusak. Gunung dibongkar, hutan dibabat, sungai dikotori, laut dicemari. Atas nama investasi dan pembangunan, alam diperlakukan seperti barang dagangan yang bisa dihabiskan kapan saja.
Ironisnya, dari semua itu, perempuanlah yang paling dahulu merasakan dampaknya. Ketika hutan hilang, perempuan kehilangan sumber pangan keluarga. Ketika sungai tercemar, perempuan harus berjalan lebih jauh mencari air bersih. Ketika tanah adat berubah menjadi wilayah tambang, perempuan kehilangan ruang hidup sekaligus kehilangan warisan budaya yang diwariskan turun-temurun. Solohi yang dulu penuh hasil kebun, kini perlahan hanya menjadi simbol nostalgia atas kampung yang mulai kehilangan dirinya sendiri.
Eksploitasi besar-besaran di Maluku Utara tidak hanya menghancurkan lingkungan, tetapi juga menggerus nilai-nilai sosial masyarakat. Banyak generasi muda mulai meninggalkan pertanian, perikanan dan budaya lokal karena tergoda oleh kehidupan industri yang dianggap lebih modern. Padahal modernitas tanpa identitas hanya akan melahirkan manusia yang tercerabut dari akar budayanya sendiri. Kita sedang menyaksikan bagaimana kampung-kampung kehilangan cerita, sementara masyarakat perlahan kehilangan hubungan emosional dengan tanah yang membesarkan mereka.
Perempuan Maluku Utara sebenarnya tidak pernah meminta kemewahan. Mereka hanya ingin alam tetap hidup agar dapur tetap mengepul. Mereka ingin hutan tetap hijau agar anak-anak masih mengenal suara burung dan aroma tanah setelah hujan. Mereka ingin budaya tetap dijaga agar Solohi tidak hanya dikenang sebagai benda museum, tetapi tetap hidup sebagai identitas masyarakat.
Solohi adalah lambang ketabahan perempuan Maluku Utara. Ia tidak lahir dari ruang nyaman, tetapi dari perjuangan panjang melawan kerasnya hidup. Karena itu menjaga Solohi bukan hanya menjaga budaya, melainkan menjaga ingatan kolektif tentang perempuan-perempuan yang selama ini diam-diam menopang kehidupan.
Jika hari ini kita membiarkan alam dihancurkan dan budaya dipinggirkan, maka sesungguhnya kita sedang mengubur masa depan kita sendiri. Sebab ketika hutan terakhir tumbang dan sungai terakhir tercemar, yang hilang bukan hanya pohon dan air, tetapi juga identitas, sejarah, dan harapan masyarakat Maluku Utara.
Dan mungkin saat itu, Solohi hanya tinggal cerita tentang perempuan-perempuan tangguh yang pernah menggendong kehidupan di punggung mereka, sebelum dunia modern mengambil semuanya.














Leave a Reply