SOCDEMPOST.ID

Klik ide-Sebar Makna-Rebut Perubahan

Advertisement

Adab Terhadap orang Tua Dalam Prespektif Islam Dan Krisis Moral Masyarakat Modern 

Oleh: Julkifran Jainudin – Mahasiswa Sosiologi Universitas Muhammadiyah Maluku Utara

Ditengah perkembangan zaman yang semakin modern, hubungan antara anak dan orang tua perlahan mengalami perubahan yang cukup signifikan. Kemajuan teknologi, perubahan pola hidup, serta meningkatnya budaya individualisme membuat ikatan emosional dalam keluarga tidak lagi sekuat dahulu. Banyak anak hidup serumah dengan orang tua, tetapi terasa jauh secara batin. Percakapan hangat mulai tergantikan oleh layar telepon genggam, sementara penghormatan kepada orang tua sering dianggap sebagai sesuatu yang kuno dan tidak relevan dengan kehidupan modern.

Dalam situasi seperti ini, Islam hadir membawa nilai yang sangat mendalam tentang pentingnya adab kepada orang tua. Islam tidak hanya memandang hubungan anak dan orang tua sebagai hubungan biologis semata, tetapi sebagai hubungan spiritual, moral, dan sosial yang harus dijaga sepanjang hidup. Berbakti kepada orang tua bukan sekadar tradisi budaya, melainkan bagian dari ibadah dan ukuran kualitas akhlak seseorang.

Secara sosiologis, keluarga merupakan institusi pertama tempat manusia belajar tentang nilai, etika, dan cara memperlakukan orang lain. Seorang anak pertama kali mengenal kasih sayang, tanggung jawab, kesabaran, dan penghormatan melalui lingkungan keluarga. Karena itu, hubungan harmonis antara anak dan orang tua memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan karakter masyarakat secara luas.

Sosiolog Émile Durkheim pernah menjelaskan bahwa masyarakat hanya dapat bertahan apabila memiliki solidaritas moral yang kuat. Dalam konteks keluarga, solidaritas itu lahir melalui rasa hormat, kasih sayang, dan tanggung jawab antaranggota keluarga. Ketika nilai penghormatan kepada orang tua mulai hilang, maka yang rusak bukan hanya hubungan keluarga, tetapi juga tatanan sosial masyarakat. Anak yang terbiasa membentak orang tua cenderung tumbuh menjadi pribadi yang sulit menghargai orang lain. Sebaliknya, anak yang dibesarkan dengan adab dan penghormatan akan lebih mudah memiliki empati sosial dalam kehidupan bermasyarakat.

Baca Juga :  Agama dan Perubahan Sosial

Islam telah mengatur persoalan ini jauh sebelum teori-teori sosial modern berkembang. Allah SWT menempatkan perintah berbuat baik kepada orang tua setelah perintah menyembah-Nya. Dalam Surah Al-Isra ayat 23 Allah berfirman:

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’, dan janganlah engkau membentak keduanya, serta ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.”

Ayat ini menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan etika komunikasi antara anak dan orang tua. Bahkan ucapan kecil yang dapat menyakiti hati orang tua pun dilarang. Dalam perspektif sosiologi komunikasi, bahasa bukan hanya alat berbicara, tetapi juga cerminan moral seseorang. Cara seorang anak berbicara kepada orang tuanya menunjukkan kualitas pendidikan dan nilai yang hidup dalam dirinya.

Sayangnya, fenomena sosial saat ini memperlihatkan gejala menurunnya penghormatan terhadap orang tua. Banyak anak lebih nyaman menghabiskan waktu di media sosial dibanding berbicara dengan keluarganya sendiri. Tidak sedikit pula yang menganggap nasihat orang tua sebagai bentuk “ketinggalan zaman”. Modernisasi yang seharusnya membawa kemajuan justru kadang melahirkan keterasingan dalam keluarga.

Dalam teori sosiologi modern, kondisi seperti ini dikenal sebagai gejala disorganisasi sosial, yaitu melemahnya nilai dan norma dalam kehidupan masyarakat. Ketika keluarga tidak lagi menjadi ruang pendidikan moral, maka anak akan lebih mudah dipengaruhi oleh budaya luar yang belum tentu sesuai dengan nilai agama maupun budaya ketimuran. Akibatnya, lahirlah generasi yang cerdas secara teknologi, tetapi miskin empati dan penghormatan.

Baca Juga :  Aklamasi dan Arah Golkar Daerah

Islam memandang orang tua sebagai sosok yang memiliki kedudukan sangat mulia karena pengorbanannya yang luar biasa. Seorang ibu mengandung dalam keadaan lemah, melahirkan dengan taruhan nyawa, lalu membesarkan anak dengan kasih sayang tanpa batas. Sementara ayah bekerja keras demi memenuhi kebutuhan keluarga, sering kali mengorbankan tenaga, waktu, bahkan impiannya sendiri demi masa depan anak-anaknya.

Allah SWT berfirman dalam Surah Luqman ayat 14:

“Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.”

Ayat ini bukan hanya berbicara tentang kewajiban moral, tetapi juga membangun kesadaran emosional seorang anak agar memahami besarnya perjuangan orang tua. Dalam kajian sosiologi keluarga, kesadaran emosional seperti ini sangat penting untuk menjaga keutuhan hubungan antaranggota keluarga. Keluarga yang dibangun atas dasar penghormatan dan kasih sayang akan melahirkan individu yang lebih stabil secara emosional dan lebih peduli terhadap lingkungan sosialnya.

Lebih jauh lagi, krisis adab kepada orang tua sebenarnya tidak lahir secara tiba-tiba. Ia muncul dari pola kehidupan yang terlalu materialistis dan individualistis. Kesuksesan hari ini sering diukur dari jabatan, kekayaan, dan popularitas, sementara penghormatan kepada orang tua dianggap bukan lagi prioritas utama. Padahal dalam Islam, keberkahan hidup tidak hanya diukur dari materi, tetapi juga dari ridha Allah dan ridha kedua orang tua.

Baca Juga :  Peran Sosiologi Dalam Membaca Masyarakat Modern: Tantangan Dan Adaptasi Di tengah Kemajuan Zaman

Banyak orang sukses secara duniawi, tetapi hidupnya kehilangan ketenangan karena renggang dengan orang tuanya. Sebaliknya, ada orang yang hidup sederhana namun penuh keberkahan karena selalu menjaga hati kedua orang tuanya. Dalam masyarakat tradisional Indonesia, penghormatan kepada orang tua dahulu menjadi nilai utama yang dijaga bersama. Anak-anak diajarkan untuk berbicara sopan, mendengarkan nasihat, dan membantu orang tua tanpa diminta. Nilai-nilai seperti inilah yang perlahan mulai terkikis oleh budaya instan dan individualistik.

Karena itu, persoalan adab kepada orang tua tidak boleh dipandang sebagai urusan pribadi semata. Ini adalah persoalan moral dan sosial yang menentukan masa depan masyarakat. Jika generasi muda kehilangan rasa hormat kepada orang tua, maka masyarakat akan kehilangan fondasi etika dan kemanusiaannya.

Pada akhirnya, Islam mengajarkan bahwa berbakti kepada orang tua merupakan salah satu jalan menuju keberkahan hidup. Menghormati, membantu, menjaga ucapan, serta mendoakan kedua orang tua adalah bentuk akhlak mulia yang mencerminkan kualitas iman seseorang. Adab kepada orang tua bukan hanya kewajiban agama, tetapi juga investasi sosial untuk membangun masyarakat yang beradab, penuh kasih sayang, dan memiliki solidaritas moral yang kuat.

Di tengah dunia yang semakin sibuk dan individualistis, sudah saatnya nilai penghormatan kepada orang tua kembali dihidupkan. Sebab sebesar apa pun kemajuan sebuah bangsa, ia akan kehilangan arah apabila generasinya tidak lagi menghormati orang tua dan kehilangan adab dalam keluarga.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *