Ternate. Pagi itu(4/12/2025), Masjid Amrullah A. Baharudin di pusat Kampus Universitas Muhammadiyah Maluku Utara tampak berbeda. Udara Ternate yang biasanya riuh oleh lalu-lalang mahasiswa seakan melambat ketika satu per satu peserta Baitul Arqam Mahasiswa UMMU gelombang kedua memasuki serambi masjid. Di mata mereka, terlihat ada campuran gugup, penasaran, dan harapan atmosfer khas proses kaderisasi yang telah lama menjadi denyut tradisi Persyarikatan dan khsusunya di Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU).
Tema kegiatan tahun ini, “Dari Kampus untuk Peradaban: Merawat Warisan 113 Tahun Menyemai Aksi Nyata di Bumi Kie Raha”. Tema ini bukan sekadar hiasan pada spanduk. Ia seperti napas sejarah Muhammadiyah yang kembali di tanam di tanah tempat kampus ini berdiri.
Di sudut ruangan, Master of Training (MOT), Sulemang Buamona, menatap para peserta yang duduk rapi. Nampaknya Ia tahu betul bagaimana perjalanan tiap mahasiswa hingga tiba di ruangan itu.
Sebanyak 247 peserta tidak lolos pada gelombang pertama. Hanya 131 yang memenuhi syarat, Tekanan seleksi itu bukan untuk menakut-nakuti, melainkan memastikan bahwa Baitul Arqam menjadi ruang serius bagi pembentukan karakter dan ideologi. Tuturnya
Kegiatan wajib mahasiswa baru ini digelar dalam dua gelombang untuk angkatan 2025. Gelombang pertama berlangsung pada 28–30 November, disusul gelombang kedua pada 4 Desember 2025. Materinya padat sekaligus mendasar, yakni praktik ibadah, pembelajaran Al-Qur’an, dan pendalaman nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan. Di dalamnya, ada upaya sistematis untuk mempertemukan mahasiswa dengan akar intelektual dan spiritual Muhammadiyah.
Di depan para peserta, Kepala Lembaga Pengkajian dan Pengamalan Islam (LPPI) Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU) Hindra Sarifuddin, berdiri dengan keteduhan khas seorang pendidik. Ia menegaskan kembali bahwa Baitul Arqam bukan pelengkap kegiatan kampus, melainkan bagian dari sistem akademik UMMU.
“Ini kewajiban bagi seluruh mahasiswa baru. Ia bukan sekadar kegiatan tambahan, tetapi bagian dari proses perkuliahan,” katanya dalam sambutan pembukaan.
Hindra berharap pelaksanaan dapat menjangkau hingga tiga gelombang agar seluruh mahasiswa angkatan 2025 tersentuh oleh program ini. Lebih dari itu, ia ingin nilai-nilai moral dan akhlak terpuji menjadi buah yang terlihat setelah peserta usai mengikuti kegiatan.
Di antara materi yang berlangsung, terselip momen-momen kecil yang memperlihatkan wajah lain Baitul Arqam. Ada peserta yang tersenyum lega setelah mampu membaca ayat dengan lebih lancar, ada pula yang menunduk lama saat merenungkan makna ibadah. Kegiatan ini menjadi ruang bagi pertemuan antara kesadaran baru dan perjalanan akademik yang baru mereka mulai.
Dengan selesainya gelombang kedua, UMMU kembali menegaskan komitmennya dalam memperkuat kaderisasi. Di serambi Masjid Amrullah hari itu, terlihat bukan hanya materi yang diberikan, melainkan sebuah perjalanan awal tentang lahirnya generasi baru UMMU yang diharapkan tumbuh sejalan dengan prinsip-prinsip Muhammadiyah [Riski].













Leave a Reply