SOCDEMPOST.ID

Klik ide-Sebar Makna-Rebut Perubahan

Advertisement

Rifandi Umaternate, Aktivis dan Koordinator MAFINDO Malut, Diwisuda sebagai Magister Administrasi Publik UMJ

Jakarta Rifandi Umaternate, pemuda asal Desa Kawata, Kepulauan Sula, resmi diwisuda sebagai Magister Administrasi Publik Universitas Muhammadiyah Jakarta pada Sabtu, (22/11/2025). Ia menapaki perjalanan studinya di Jakarta dengan membawa rekam jejak organisasi yang kuat, baik di lingkup kampus maupun masyarakat sipil.

Rifandi mulai dikenal di Ternate sejak memimpin Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Cabang Kota Ternate. Dalam Musyawarah Cabang XV pada 31 Juli 2022, ia terpilih sebagai ketua dengan perolehan 27 suara dari 30 peserta yang mewakili 11 komisariat. Masa kepemimpinannya berakhir pada 2023, sebelum tongkat estafet diserahkan kepada pengurus periode 2024–2025.

Perannya tidak berhenti di internal mahasiswa. Rifandi kemudian aktif sebagai Koordinator Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO) Maluku Utara, sebuah organisasi yang fokus pada edukasi publik terkait hoaks dan literasi digital. Pada 2024, ia terlibat dalam kampanye “prebunking” menjelang Pilkada, mengingat potensi penyebaran misinformasi di masa politik meningkat tajam.

Baca Juga :  HPMPG Sukses Gelar Dialog Publik tentang Ancaman Pendidikan di Era Digital

Dalam salah satu pemaparannya, Rifandi menyoroti tingginya produksi hoaks pada 2024.

Divisi Litbang Mafindo merilis temuan hoaks semester pertama (Januari–Juni) 2024 sebanyak 2.119. Dari jumlah itu, hoaks pemilu menjadi topik terbesar, mencapai 31,6%. Menariknya, hoaks pemilu justru paling banyak ditemukan di TikTok sebesar 26,7%, disusul YouTube 25,4% dan Facebook 23,7%,” ujar Rifandi

Menurutnya, tren ini menegaskan bahwa ruang digital bukan sekadar tempat bertukar informasi, tetapi juga arena pembentukan opini publik.
Ketertarikan Rifandi pada dunia literasi digital juga tampak ketika ia terlibat dalam kegiatan AI Goes to School pada 23 September 2025 bersama para guru MI dan MTs se-Kota Ternate melalui Kementerian Agama. Kegiatan ini memperkenalkan pemanfaatan kecerdasan buatan bagi pendidik.

“Semangat belajar dan semangat berbagi berpadu dalam satu ruang yang penuh makna. Kami mendiskusikan bagaimana kecerdasan buatan dapat menjadi sahabat baru di ruang kelas bukan menggantikan guru, tetapi memperkuat perannya”. Ungkapnya.

Selain terlibat dalam isu literasi digital, Rifandi dikenal sebagai mahasiswa yang memegang prinsip ketekunan. Baginya, proses merupakan bagian penting dari pembentukan karakter.

Tidak ada proses yang sia-sia. Bahkan kesalahan pun menyimpan hikmah yang menumbuhkan. Menjadi manusia sejati bukanlah soal pencapaian, tetapi kesediaan untuk terus tumbuh, meski perlahan”. tuturnya

Ia juga menekankan pentingnya berpikir kritis dalam menghadapi derasnya informasi digital.

Informasi bergerak lebih cepat dari refleksi. Literasi digital bukan hanya tentang apa yang kita baca, tetapi bagaimana mengolahnya agar kita benar-benar berpikir di dalamnya”. katanya.

Setelah menyelesaikan studinya, Rifandi berencana mengikuti program penguatan bahasa Inggris di Pare, Kediri sebagai persiapan mendaftar beasiswa LPDP untuk melanjutkan pendidikan doktoral. Ia berharap pendidikan yang ia tempuh dapat menjadi kontribusi nyata bagi perkembangan Maluku Utara, khususnya dalam bidang kebijakan publik, literasi digital, dan penguatan masyarakat sipil [Editor]

Baca Juga :  Coaching Proposal Bima 2026 Digelar di UMMU, Puluhan Dosen Antusias Ikuti Pendampingan Riset

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *