SOCDEMPOST.ID

Klik ide-Sebar Makna-Rebut Perubahan

Advertisement

Hilangnya Orientasi Qimalaha Wayamli Sebagai Pemangku Adat 

Oleh : Sulfan KiyaKetua Umum HIPMMAT Periode, 2024-2025

Fungsi dan peran Qimalaha wayamli sebagai pemangku adat sejatinya menjaga status quo menjaga keseimbangan hutan dan lautan Maba tengah, serta menjaga kestabilan budaya’ dalam merawat nilai-nilai tauhid untuk menciptakan regenerasi yang berbudaya juang yang memiliki Marwah para kapita. Namun mirisnya Qimalaha wayamli hilang arah tak mampu memahami dirinya secara struktural bahkan tak mengantongi babak sejarah para leluhur sehingga melahirkan corak fikiran yang tak memiliki daya saing melawan dan menampakkan identitas budaya.

Sebagai Qimalaha harus lebih jeli melihat ruh Kampoeng yang akhir-akhir ini telah mengalami pergeseran yang mengakibatkan kerusakan moralitas terhadap anak-anak muda, tingkatan kenakalan remaja juga bagian dari tanggung jawab seorang Qimalaha wayamli sebagai pemangku adat, karena sejatinya Qimalaha adalah penjaga keseimbangan dunia dan akhirat yang terus menerus berkoordinasi dengan bobato dunia dan bobato akhirat yang nanti juga menjadi pertanggung jawaban diakhirat nanti.

Baca Juga :  Akhlak di Era Digital: Ketika Agama Menjadi Penjaga Kesadaran Sosial

Kerusakan lingkungan juga bagian dari peran dan tanggung jawab Qimalaha wayamli karena ini berkaitan dengan tanah adat, harusnya Qimalaha berdiri dan melindungi masyarakat adatnya lewat jabatannya sebagai tokoh adat Qimalaha wayamli, bukan malah membangun kompromi dengan pihak perusahaan, ini nantinya cacat secara hukum adat.

Sudah waktunya kita ganti Qimalaha wayamli karena berdasarkan realitas dan silsilah Harusnya yang memimpin Jabatan Qimalaha harus dari keturunan seorang lelaki bukan dari keturunan seorang perempuan, jika dipaksakan maka nanti Qimalaha wayamli akan kehilangan esensi nya serta mengalami pergeseran paradigma untuk memahami Kebudayaannya sendiri.

Urusan seorang Qimalaha wayamli adalah untuk menjamin masyarakat adatnya hidup aman dalam lingkungan dan hutan yang mereka huni, bukan Hadir untuk merusak hutan dan merampas hak orang lain bahkan menjadi Humas salah satu perusahaan. Ini sudah terlalu miris jika terus dibiarkan, maka nanti berdampak pada Kampong-kampoeng yang dibawa kuasa Qimalaha wayamli.

Baca Juga :  Labirin Kepentingan di Balik Menjamurnya PLTU Captive

Untuk menyelamatkan hutan dan masyarakat adat dibawa kuasa Qimalaha wayamli kita sudah seharusnya mengantikan Qimalaha wayamli, dengan dasar keturunan harus dari seorang lelaki bukan perempuan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *