Oleh : Erwin Ramalan.
MASYARAKAT adalah sekelompok manusia yang terjalin erat karena sistem tertentu, tradisi tertentu, konvensi dan hukum tertentu yang sama, serta mengara pada kehidupan kolektif. Harus diingat bahwa kehidupan kolektif tidak serta merta bermakna sekelompok orang harus berdampingan di satu tempat tertentu, memanfaatkan iklim yang sama dan mengonsumsi makanan yang sama. Pepohonan disebuah kebun hidup salin berdampingan, menggunakan iklim yang sama dan mengonsumsi makanan yang sama. Demikian juga kawanan hewan yang memakan rumput bersama bergerak bersama-sama.
Kehidupan manusia adalah kehidupan sosial, kehidupan manusia berwatak sosial. Kebutuhan, prestasi, kesenangan, serta kegiatan manusia seluruhnya berwatak sosial, lantaran semua itu terjalin dengan adat, kebiasaan dan sistem kerja pembagian keuntungan serta pembagian pemenuhan kebutuhan tertentu. Yang menjadikan sekelompok tertentu orang tetap bersatu adalah adanya pola pikir dan kebiasaan tertentu yang dominan.
Setiap manusia mempunyai pola pikir yang berbeda-beda. Sehingga ada yang mengatakan bahwa setiap manusia itu unik dalam berpikir ada yang berpikir negatif dan juga berpikir positif, semua hal ini tergantungan dari prespektif masing-masing. Oleh karena itu, menurut penulis makhluk asing adalah makhluk yang berpikir berbeda dari orang lain, karena apabila anda berpikir berbeda dengan orang lain maka anda akan di asingkan.
Penulis akan bercerita sedikit, tentang makhluk asing karena budaya. Menurut hemat saya, pola pikir menentukan anda akan di asingkan atau diterima dalam kalangan suatu kelompok tertentu, karena merubah pola pikir saja anda akan diasingkan dalam keluarga bahkan pada masyarakat. Karena apabila anda mau membuat suatu perubahan pada Daerah tertentu, maka anda akan di asingkan, hal ini sudah menjadi budaya dan tradisi yang mengakar pada pola pikir setip masyarakat. Sebab, pola ini tidak bisa dihindarkan dari kehidupan bermasyarakat, Oleh karena itu ada kata bijak yang mengatakan bahwa “Merubah tradisi atau budaya pada suatu masyarakat maka siap-siap anda akan diasingkan.” Karena hal ini sudah menjadi budaya pada kehidupan masyarakat.
dalam konteks kehidupan bermasyarakat, penulis berkaca di desa wayamli kecamatan Maba Tengah, Halmahera Timur. di desa wayamli masyarakat cenderung bergantung pada perasaan, sehingga sering dikatakan oleh masyarakat setempat bahwa “samua ini tong baku keluarga.” Dari perkataan ini menurut hemat penulis berkataan ini sudah menjadi budaya makanya kerusakan yang terjadi di desa ini menjadi hal yang biasa karena perkataan tadi tong ini baku keluarga.
Budi re bahasa, sopan re hormat dan ngaku re rasai perkataan ini adalah perkataan yang menjadi identitas masyarakat Maba akan tetapi, penulis lebih fokus pada ngaku re rasai, dalam memaknai ngaku re rasai ini penulis mengukiti perkataan dari buku Falsafah Fagogoru yang ditulis oleh : Abd. Samad Addin semoga beliau sehat selalu, beliau berkata Rasai. Filsafat Rasai adalah merasai atau turut merasai yang ada disekitar kehidupan bermasyarakat. Ajaraan-ajaran sosial yang terdapat dalam filsafat sikap ini, mendorong kita memiliki sifat tentang rasa dan kepekaan sosial dalam menjalani kehidupan.
Dari perkataan di atasa menurut hemat penulis adalah sebuah perkataan atau pembahasan yang di bahasan pada lingkungan sosial yang bersifat positif. Akan tetapi penulis lebih fokus pada kehidupan sosial yang bersifat negatif dalam kehidupna masyarakat wayamli. Penulis tidak menyalahkan Falsafah diatas akan tetapi yang penulis takuti adalah salah memaknai Falsafah tersebut dalam kehidupan masyarakat sosial yang bersifat negatif. Sering terjadi dalam kehidupan masyarakat wayamli adalah kebalikan dari itu memaknai Falsafah tersebut secara keseluruhan baik negatif maupun positif.















Leave a Reply