Oleh: Mulan Totounu, Fersha, dan Safrin (Mahasiswa UMMU)
Di timur Indonesia, mentari menyinari Dedaunan pala dan cengkeh bukit- Bukit tinggi Maluku Kie Raha berjejeran seperti lukisan tua yang di rawat dengan penuh kasih. Pagi yang cerah itu ucapan yang tidak asing lagi “Selamat pagi,” ( tabea) sebuah ucapan sederhana namun penuh makna, memulai aktivitas di pagi hari. Saling menyapa telah menjadi kebiasaan masyarakat setempat, bahkan di tengah kesibukan masing-masing. Ketika bertemu di jalan maupun di tempat lain, masyarakat merasa penting untuk bertegur “sapa” sebagai bentuk penghormatan dan kebersamaan.
Sistem sosial mencakup tindakan dan hubungan antaranggota masyarakat, sedangkan sistem budaya mencakup nilai, adat istiadat, serta kepercayaan yang mengikat masyarakat melalui aturan-aturan tertentu. Masyarakat di Maluku Utara, khususnya masyarakat di Halmahera Barat, masih bebas berinteraksi satu sama lain dan tetap memegang teguh adat, kepercayaan, serta aturan yang telah diwariskan secara turun-temurun dan tidak boleh dilanggar.
Salah satu contohnya dapat dilihat dalam pelaksanaan upacara perkawinan adat di Kecamatan Tabaru, Halmahera Barat. Acara adat tersebut sangat penting sebagai bentuk penyatuan pasangan asli suku Tabaru yang biasanya disebut Modoka. Dalam tradisi tersebut, masyarakat diwajibkan mengenakan pakaian adat Tabaru, seperti kebaya. Saat menyambut mempelai atau tamu, suasana adat semakin sakral dan meriah dengan iringan alat musik tifa dan gong, disertai tarian cakalele dan tide-tide sebagai simbol penghormatan Kepada Leluhur.
Menurut Talcott Parsons dalam bukunya The Social System (1951), sistem sosial adalah jaringan interaksi antaraktor yang terstruktur berdasarkan harapan peran bersama (role expectations) dan nilai-nilai bersama. Ia juga mendefinisikan sistem budaya sebagai sistem simbol, seperti bahasa, nilai, dan keyakinan, yang diinternalisasi oleh individu dan mengatur perilaku sosial. Parsons menyebut fungsi budaya sebagai latent pattern maintenance atau pemeliharaan pola laten, yaitu budaya menyediakan pola nilai yang melembaga dalam kehidupan masyarakat.
Hubungan antara sistem sosial dan sistem budaya dapat diibaratkan seperti dua hal yang saling melengkapi. Sistem budaya berfungsi sebagai pedoman, arah, atau aturan bagi sistem sosial. Sebaliknya, sistem sosial merupakan tindakan nyata yang menjalankan nilai-nilai dalam sistem budaya tersebut. Kedua sistem ini saling berkaitan dan membentuk sistem sosial budaya dalam kehidupan masyarakat.
Dalam budaya terdapat tiga komponen pokok, yaitu lembaga budaya, isi budaya, dan efek budaya atau norma-norma. Lembaga budaya menjelaskan siapa yang menghasilkan budaya, siapa yang mengontrolnya, dan bagaimana kontrol tersebut dilakukan. Isi budaya membahas simbol atau hasil budaya yang dihasilkan, sedangkan efek budaya membahas konsekuensi yang muncul dalam kehidupan masyarakat. Selain itu, terdapat pula perbedaan budaya antara golongan bangsawan dan petani, antara budaya istana dan budaya rakyat, yang masing-masing memiliki simbol, norma, dan nilai tersendiri.
Dalam memahami masyarakat modern, sistem sosial dan sistem budaya memiliki peranan yang sangat penting. Masyarakat modern ditandai dengan perkembangan teknologi, kemajuan pendidikan, perubahan pola pikir, dan meningkatnya interaksi global. Perubahan tersebut memengaruhi cara masyarakat berinteraksi, bekerja, dan menjalani kehidupan sehari-hari. Di satu sisi, modernisasi memberikan kemudahan dalam komunikasi dan akses informasi, tetapi di sisi lain juga membawa tantangan terhadap nilai-nilai budaya lokal.
Fenomena sosial yang dapat dianalisis dalam masyarakat modern saat ini adalah berkurangnya interaksi langsung antarindividu akibat penggunaan teknologi dan media sosial yang berlebihan. Dahulu masyarakat lebih sering berkumpul, saling menyapa, dan bekerja sama secara langsung dalam kehidupan sehari-hari. Namun saat ini banyak orang lebih sibuk dengan telepon genggam dan media sosial sehingga komunikasi tatap muka mulai berkurang. Hal tersebut dapat menyebabkan menurunnya rasa kepedulian sosial dan solidaritas antara anggota masyarakat.
Contoh lain dari fenomena sosial modern adalah lunturnya budaya gotong royong di sebagian masyarakat perkotaan. Kesibukan pekerjaan dan gaya hidup individualis membuat sebagian orang lebih mementingkan kepentingan pribadi dibandingkan kepentingan bersama. Padahal gotong royong merupakan salah satu nilai budaya Indonesia yang mencerminkan persatuan dan kebersamaan. Jika nilai tersebut terus berkurang, maka hubungan sosial dalam masyarakat dapat menjadi renggang.
Selain itu, pengaruh budaya luar juga menjadi fenomena sosial yang sangat terlihat di kalangan generasi muda. Banyak anak muda yang lebih tertarik mengikuti budaya asing dibandingkan mempelajari budaya daerah sendiri. Misalnya penggunaan bahasa daerah yang mulai jarang digunakan, berkurangnya minat terhadap tarian tradisional, serta kurangnya partisipasi generasi muda dalam kegiatan adat. Fenomena ini menunjukkan bahwa modernisasi dapat memengaruhi sistem budaya masyarakat apabila tidak diimbangi dengan kesadaran untuk melestarikan budaya lokal.
Namun demikian, modernisasi tidak selalu memberikan dampak negatif. Teknologi juga dapat dimanfaatkan untuk melestarikan budaya daerah, seperti memperkenalkan tarian tradisional, musik adat, dan bahasa daerah melalui media sosial atau platform digital. Dengan cara tersebut, budaya lokal dapat dikenal lebih luas oleh masyarakat luar bahkan hingga mancanegara.
Dalam kehidupan sosial, segala sesuatu berkaitan dengan masyarakat, hubungan kemasyarakatan, dan interaksi antarmanusia dalam kehidupan bersama. Oleh karena itu, dalam membentuk sistem sosial diperlukan sikap saling bekerja sama dan gotong royong dalam kehidupan bermasyarakat. Pendidikan juga memiliki peranan penting dalam menjaga sistem sosial dan budaya. Melalui pendidikan, generasi muda diajarkan nilai moral, sopan santun, rasa hormat kepada orang tua, serta pentingnya menjaga budaya daerah.
Sistem sosial dan budaya yang kuat akan menciptakan kehidupan masyarakat yang aman, tertib, dan harmonis. Sebaliknya, apabila masyarakat mulai melupakan budaya dan nilai-nilai sosial yang ada, maka dapat terjadi konflik sosial, kurangnya rasa persaudaraan, serta hilangnya identitas budaya daerah. Oleh karena itu, masyarakat harus mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan budaya dan adat istiadat yang telah diwariskan oleh leluhur.
Sebagai masyarakat Maluku Utara, kita memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan melestarikan budaya daerah sebagai warisan yang sangat berharga. Budaya bukan hanya sekadar tradisi, tetapi juga merupakan identitas suatu masyarakat. Dengan mempertahankan budaya dan memperkuat hubungan sosial, maka kehidupan masyarakat akan tetap terjaga dengan baik dan penuh rasa kebersamaan.
Pada akhirnya, sistem sosial dan sistem budaya merupakan dua unsur penting yang tidak dapat dipisahkan dalam memahami masyarakat modern. Keduanya saling mendukung dalam membentuk kehidupan masyarakat yang teratur dan harmonis. Modernisasi memang membawa banyak perubahan sosial, tetapi masyarakat tetap harus menjaga nilai budaya, adat istiadat, dan rasa persatuan agar identitas budaya tetap terpelihara di tengah perkembangan zaman.















Leave a Reply