SOCDEMPOST.ID

Klik ide-Sebar Makna-Rebut Perubahan

Advertisement

Kepiting Kelapa di Ambang Ancaman, Akademisi Unkhair Hadirkan Penangkaran di Pesisir Halteng

Socdempost.id – Di balik sunyinya pesisir Desa Gemia, Kecamatan Patani Utara, Kabupaten Halmahera Tengah, tersimpan satu kekayaan laut dan darat yang selama ini menjadi sumber penghidupan masyarakat: kepiting kelapa (Birgus latro). Hewan bercangkang keras yang dikenal sebagai salah satu arthropoda darat terbesar di dunia itu kini menghadapi ancaman serius akibat penangkapan yang terus bergantung pada alam.

Selama bertahun-tahun, masyarakat pesisir di Gemia masih mengandalkan hasil tangkapan liar untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Di satu sisi, aktivitas tersebut menjadi sumber pendapatan warga. Namun di sisi lain, eksploitasi tanpa pola budidaya yang terkontrol berpotensi menggerus populasi kepiting kelapa secara perlahan.

Kondisi itu mendorong tim akademisi dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Khairun untuk menghadirkan terobosan baru melalui program domestikasi kepiting kelapa berbasis teknologi tepat guna.

Baca Juga :  IPMB Mengecam Lembaga Inspektorat Kabupaten HAL-SEL Jangan Bermain Kong Kali Kong Soal Hasil Temuan Audit Dana Desa Busua

Program tersebut dikembangkan melalui kegiatan pemberdayaan masyarakat bertajuk “Domestikasi Berbasis Teknologi Tepat Guna di Desa Gemia, Halmahera Tengah”, yang didanai melalui skema pemberdayaan berbasis masyarakat program BIMA Kementerian Ristekdikti tahun 2026.

Tim kegiatan dipimpin langsung oleh dua Narasumber, Dr. Mufti Abdul Murhum, bersama Dr. Sri Endah Widiyanti (Ahli Ekologi Kepiting Kelapa). Waode Munaeni dan Dr. Aqshan S. Nurdin sebagai anggota tim pelaksana.

Dalam keterangannya kepada media ini, Dr. Mufti Abdul Murhum mengatakan bahwa kepiting kelapa merupakan salah satu sumber daya perikanan bernilai ekonomi tinggi yang perlu dijaga keberlanjutannya melalui pendekatan ilmiah dan teknologi budidaya. (Sabtu, 16/05/2026)

“Selama ini masyarakat hanya bergantung pada hasil tangkapan di alam. Jika terus dilakukan tanpa kontrol, maka populasi kepiting kelapa bisa mengalami penurunan. Karena itu kami mencoba menghadirkan solusi melalui domestikasi berbasis teknologi tepat guna,” ujar Dr. Mufti.

Ia menjelaskan, tim peneliti telah mengembangkan beberapa inovasi penting, mulai dari model penangkaran menggunakan wadah terkontrol yang diberi nama Birgus Tera Box, hingga rekayasa pakan buatan untuk mendukung pertumbuhan kepiting kelapa dari fase benih sampai dewasa.

Baca Juga :  Dialog Publik Perempuan dan Krisis Ekologis Kepulauan: AWI Dorong Kebijakan Pembangunan Maluku Utara Lebih Berpihak pada Realitas Kepulauan dan Pengalaman Perempuan

Menurutnya, teknologi tersebut dirancang agar mudah diterapkan oleh masyarakat pesisir, khususnya kelompok penangkar di Desa Gemia.

“Kami ingin masyarakat tidak hanya menjadi penangkap, tetapi juga mampu menjadi pembudidaya. Jadi ada keberlanjutan sumber daya sekaligus peningkatan ekonomi masyarakat,” katanya.

Program pemberdayaan itu diawali dengan kegiatan sosialisasi, koordinasi, dan pelatihan penguatan kapasitas kelompok penangkar yang dihadiri pemerintah desa, tokoh masyarakat, serta anggota kelompok budidaya.

Kepala Desa Gemia, Alfian Faruk, turut hadir dalam kegiatan tersebut sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan penangkaran kepiting kelapa berbasis masyarakat.

Tak hanya berhenti pada pelatihan awal, tim pengabdian juga akan melakukan pendampingan teknis budidaya dan manajemen usaha secara intensif mulai Mei hingga Desember 2026. Pendampingan itu mencakup teknik pemeliharaan, pengelolaan pakan, hingga penguatan tata kelola usaha kelompok.

Baca Juga :  IPMA Sagea-Kiya Tolak Penetapan PJS PB Mahasiswa Fagogoru Se-Indonesia, Dinilai Cederai Demokrasi Mahasiswa

Di tengah meningkatnya ancaman terhadap sumber daya pesisir dan laut di berbagai wilayah Maluku Utara, langkah kecil dari Desa Gemia ini menjadi harapan baru bagi upaya pelestarian kepiting kelapa. Sebab bagi masyarakat pesisir, menjaga keberlanjutan alam bukan sekadar mempertahankan spesies, tetapi juga menjaga masa depan hidup mereka sendiri. (Red)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *