Oleh: Sulfan kiye mantan ketua umum himpunan pelajaran mahasiswa Maba tengah (HIPMMAT)
Karbala menjelma sebagai cermin retak yang memantulkan wajah kepemimpinan yang menyemai pencerahan Al-Husain bin Ali sebagai mercusuar iluminasi berhadapan dengan tirani yang mengaburkan kebenaran. Dalam bayangnya yang setia, potret pengikut-pengikut yang menenun lukisan kesetiaan dengan benang pengorbanan, menolak tunduk pada sistem yang memadamkan nur pengetahuan dan mengorupsi hakikat keadilan.
Lihatlah karavan suci yang melintasi gurun takdir, membawa obor-obor pencerahan di tengah badai obskurantisme. Di tengahnya, sepasang pengantin baru, aroma bulan madu masih melekat, memilih menunda kebahagiaan pelaminan demi berlabuh pada armada iluminasi yang lebih agung. Mereka memahami bahwa cinta sejati menemukan takarannya dalam perjuangan melawan sistem yang menggelapkan akal pikiran.
Dalam kafilah penuh berkah itu, Anas bin Kahil, sahabat renta bagai pohon kurma yang lapuk namun masih berbuah bijaksana, menjadikan tubuhnya sajadah bagi perlawanan terhadap kezaliman yang memadamkan cahaya ilmu.
Mantan budak Abu Zar, jiwa pemberani yang membebaskan diri dari belenggu obskurantisme, melepaskan zirahnya bagai perenang yang rindu menyelam ke telaga pencerahan, meraih cawan kerinduan pada Kebenaran Yang Maha Terang.
Gema itu, hingga kini, masih menggetarkan relung hati yang merindu kebenaran, menyeru jiwa-jiwa untuk bangkit dan menolak lupa. Dalam setiap era ketika sistem-sistem obskurantis bangkit dengan wajah-wajah baru fundamentalisme, otoritarianisme, anti-intelektualisme spirit Karbala mengingatkan bahwa pencerahan memerlukan pengorbanan, bahwa kemerdekaan berpikir memerlukan keberanian untuk berkata tidak pada tirani, dan bahwa cahaya kebenaran akan selalu mengalahkan kegelapan kebohongan, meskipun harus dibayar dengan darah para pencerah.
Karbala bukan hanya peristiwa sejarah ia adalah prinsip abadi, manifesto pencerahan yang terus relevan selama masih ada manusia yang memilih cahaya di atas kegelapan, pengetahuan di atas kebodohan, kebenaran di atas kepalsuan.
Raja julkarnain dalam bahasa Maba adalah kolano wol cowo dan kolano wol cepo ( Raja matahari terbit dan Raja matahari terbenam ) sedih rasanya ketika tanah negri leluhur-ku di abaikan dalam catatan sejarah. Padahal stuler bertesis Halmahera adalah negeri asal-usul penduduk berbahasa astronesia, dan penghuninya diam tak melakukan apapun. Sedih rasanya ketika kutahu negri dilupakan dalam catatan sejarah, padahal parah pelaut cina telah mengunjungi-nya sejak 400 tahun sebelum Masehi.
Suba jou suba jou dara mendidi bagaikan arus Lautan negri haliyora , namun syair Lala meredupkan sukma menenangkan tuan dalam amarah. Haliyora ma due Sangaji teriak, oreceeeleeee-2 Tarik tanjung daratan dekat.
Allah Humma salli Wasallim ala sayyidina muhammadin Saiful Rijallullah Allah Humma salli Wasallim alla sayyidina Muhammadin Fil Awalina Wal Akhirina Wat Jairina wal batina fiddin Wat Dunya Wal Akhirat.
Lailahaillallah Muhammadar Rasullullah saifullah julfikar illa bil maut illa bil ajal . Lailahaillallah Muhammadar Rasullullah saifullah julfikar hasbullah illa bil maut illa bil ajal, Lailahaillallah Muhammadar Rasullullah saifullah julfikar habibullah illa bil maut illa bil ajal, Lailahaillallah Muhammadar Rasullullah saifullah julfikar Nurul askil illa bil maut illa bil ajal .
Seketika juanga terbang bagaikan goheba raksasa gelombang dan angin pun tunduk di bawah landasannya. Kepada Kabata dan kora-kora kami bersumpah Sio rela minyou tailama ketika memandang lautan teduh maka penguasa laut akan surut .
Sio Jiko Mabirahi ma dodagi marasai toma Jiko sonyinga.Tosi horu sidanga Ngolo ima Cahaya. Djiu-djiu si ridopolo oo isaley,isalaw ma kolano ge Ngori.(Yang sulit dalam cinta adalah merindukan pada hakikat yang ada namun tidak terlihat oleh mata).















Leave a Reply