SOCDEMPOST.ID

Klik ide-Sebar Makna-Rebut Perubahan

Advertisement

Pantai Dedeta Kecil: Ketika Surga Ada, Tapi Dibiarkan Biasa Saja

Oleh: Ibnu Haikal Basir – (Mahasiswa Loloda)

Kabupaten Halmahera Utara, khususnya wilayah Loloda Kepulauan, bukanlah ruang geografis yang miskin keindahan. Ia justru seperti lembaran alam yang terlalu indah untuk disebut biasa. Namun, seperti ironi yang berulang di banyak daerah, keindahan sering kali hanya berhenti sebagai cerita, bukan sebagai kekuatan.

Di tengah lanskap itu, Pantai Dedeta Kecil hadir sebagai paradoks: ramai dikunjungi, tetapi sepi perhatian.

Setiap momentum hari besar mulai dari Idul Fitri, Lebaran Ketupat, hingga Idul Adha pantai ini mendadak hidup. Manusia datang berbondong-bondong: keluarga, pemuda, mahasiswa, bahkan warga dari desa-desa sekitar. Mereka membawa satu tujuan sederhana: menikmati laut, angin, dan rasa bebas yang jarang mereka dapatkan di keseharian.

Namun, justru di titik ini, kita perlu jujur: apakah keramaian itu sudah cukup untuk disebut sebagai kemajuan wisata?

Jawabannya belum.

Yang terjadi hari ini lebih mirip euforia musiman, bukan pembangunan yang terencana. Pantai Dedeta Kecil bekerja sendiri tanpa sistem, tanpa manajemen, tanpa visi jangka panjang. Ia populer, tetapi belum produktif. Ia dicintai, tetapi belum dimaksimalkan.

Baca Juga :  Refleksi Milad Ke- 62 IMM : Antara Geopolitik Pusat Dan Daerah 

Padahal, indikator sosialnya sudah sangat jelas. Dalam perspektif pembangunan pariwisata, konsistensi kunjungan adalah “modal awal” yang paling mahal. Banyak destinasi lain harus mengeluarkan biaya promosi besar untuk menarik wisatawan. Dedeta Kecil tidak. Ia sudah punya itu secara alami.

Lalu, mengapa potensi ini seperti dibiarkan berjalan tanpa arah?

Gagasan menjadikan Pantai Dedeta Kecil sebagai “Dinasti Wisata” bukan sekadar metafora berlebihan. Ini adalah konsep strategis. Dinasti, dalam konteks ini, berarti keberlanjutan bahwa pantai ini tidak hanya ramai hari ini, tetapi tetap hidup puluhan tahun ke depan. Ia menjadi ikon, bukan sekadar lokasi.

Namun, sebuah dinasti tidak pernah lahir dari kebetulan. Ia dibangun dari kesadaran kolektif dan tata kelola yang serius.

Baca Juga :  Hermeneutik Perpisahan Rektor

Di sinilah letak persoalan utama: kita masih memandang wisata sebagai tempat, bukan sebagai sistem.

Pantai Dedeta Kecil belum disentuh dengan pendekatan yang utuh. Tidak ada pengelolaan fasilitas yang memadai, belum terlihat penguatan ekonomi kreatif berbasis masyarakat, dan minimnya intervensi kebijakan membuat potensi ini seperti berjalan di tempat.

Padahal, jika dikelola dengan benar, dampaknya bukan hanya estetika, tetapi ekonomi.

Warung lokal bisa tumbuh, UMKM bisa bergerak, pemuda bisa mendapat ruang produktif, dan desa bisa memiliki sumber pendapatan baru yang berkelanjutan.

Lebih dari itu, pantai ini sebenarnya telah memainkan fungsi sosial yang penting: sebagai ruang “healing” masyarakat Loloda. Dalam konteks sosial modern, kebutuhan akan ruang rekreasi bukan lagi pelengkap, tetapi bagian dari keseimbangan hidup. Dedeta Kecil sudah menjawab kebutuhan itu tanpa disadari, tanpa didesain.

Ironisnya, justru karena ia “sudah bekerja”, kita menjadi lengah untuk mengembangkannya.

Baca Juga :  Hermeneutik Perpisahan Rektor

Sudah waktunya cara pandang ini diubah. Pemerintah desa, pemerintah daerah, serta pemuda dan mahasiswa tidak bisa lagi berjalan sendiri-sendiri. Kolaborasi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Dibutuhkan perencanaan konkret: mulai dari penataan kawasan, pengelolaan berbasis komunitas, hingga branding destinasi yang terarah.

Jika tidak, kita hanya akan terus mengulang pola lama: ramai saat hari besar, sepi dalam perencanaan.

Pantai Dedeta Kecil bukan sekadar bentang pasir dan laut. Ia adalah peluang yang sedang menunggu untuk diputuskan apakah akan dibiarkan menjadi cerita musiman, atau ditetapkan sebagai warisan ekonomi dan identitas daerah.

Karena pada akhirnya, masalahnya bukan pada potensi.

Tetapi pada keberanian untuk mengelola potensi itu secara serius.

Dan jika kita masih menunda, jangan heran jika suatu hari nanti, orang luar yang lebih dulu melihat nilainya sementara kita masih sibuk menyebutnya “permata tersembunyi.” []

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *