SOCDEMPOST.ID

Klik ide-Sebar Makna-Rebut Perubahan

Advertisement

Hermeneutik Perpisahan Rektor

Oleh Rahmat Abd Fatah  (Dosen Sosiologi Universitas Muhammadiyah Maluku Utara)

MEMBACA sambutan dan Vidio pendek pada Wisuda Terkahir kepemimpinan Prof.Saiful Deni melalui perspektif Hermeneutika Hans-Georg Gadamer, itu seperti “Torang” diajak  masuk berdialog dengan teks, visual dan penafsir(Wisudawan, dosen, pegawai dan para tamu undangan). Hal ini dsebut Gadamer sebagai fusion of horizons atau pertemuan cakrawala makna.

Karena itu, sambutan Prof, pada wisuda perpisahan itu bukan sekadar kata-kata, atau rangkaian kalimat, melainkan dibaca sebagai jejak perjalanan panjang seorang anak Tolonuo, Tobelo yang lahir 15 Februari 1973, yang telah dengan begitu baik menapaki hidup sebagai pembelajar terbaik. Latar pendidikannya yang dibentuk oleh tradisi keilmuan IAIN  Ternate, Universitas Gadjah Mada, dan Universitas Brawijaya, itu melebur ke dalam cara ia berbicara, cara ia menimbang kata, dan cara ia memaknai perpisahan.

Gadamer adalah filsuf Jerman yang mengembangkan hermeneutika sebagai cara memahami dunia melalui dialog antara pengalaman dan apa yang “torang”  baca atau hadapi. Gadamer menekankan bahwa setiap pemahaman selalu dipengaruhi oleh pra-pemahaman, tradisi, nilai, dan pengalaman yang sudah “torang” bawa, dan makna baru kemudian lahir ketika cakrawala penafsir bertemu dengan cakrawala teks atau peristiwa. Inilah yang Gadamer bilang sebagai fusion of horizons, atau peleburan cakrawala makna (Fatah,2023).

Sebagai pembelajar sosiologi yang dekat dengan pemikiran Gadamer, saya melihat Dua periode kepemimpinannya sebagai Rektor UMMU bukan hanya sebatas catatan biasa, melainkan luar biasa, dimana horizon historis dan intelektual ikut bekerja dalam setiap kata  yang “torang” dengar di podium wisuda sabtu lalu(15/11). Karena itu yang “torang” saksikan pada wisuda adalah sebuah jejak pengalaman, nilai, dan sejarah hidup yang melebur dalam momen emosional di podium wisuda.

Kalimat Prof, bahwa “setiap orang ada masanya, setiap masa ada orangnya” ditafsir sebagai perjalanan panjang seorang pemimpin yang memahami sifat sementara dari kekuasaan. Dalam interpretasi hermeneutik, kalimat itu tidak berdiri sendiri, tetapi ia memanggil kembali pengalaman dua periode kepemimpinan, dialog dengan tradisi nilai, dan kesadaran moral yang menjadi dasar tindakannya.

Getaran suara dan jeda emosional yang ditampilkan juga bukan sekadar ekspresi spontan, tetapi bagian dari pengalaman batin yang masuk ke dalam teks sambutan, membuat pendengar ikut menghayati makna yang dibawa. Dalam hermeneutika Gadamer, suatu teks hanya dapat dipahami ketika ditempatkan dalam konteks historisnya, dan konteks kepemimpinan Prof. Saiful Deni memberikan lapisan makna yang memperkaya penafsiran.

Prof, memimpin UMMU dalam periode penuh tekanan bagi perguruan tinggi daerah, seperti tuntutan akreditasi, transformasi digital, keterbatasan struktural, dan dinamika internal yang kuat. Ketika Prof berbicara tentang pengabdian, ketika meminta maaf, ketika berterima kasih, kata-kata itu tidak datang dari ruang kosong. Kata-kata itu lahir dari dialog panjang antara dirinya dan kenyataan yang dihadapi selama hampir satu dekade. Sebagaimana dalam persektif Gadamer, bahwa pemahaman selalu terjadi dalam lingkaran historis pembelajaran,  intelektual dan kepemimpinan, hingga menjadi bagian dari horizon makna yang menyatu dalam sambutan itu.

Pada saat yang sama, horizon pembaca atau pendengar juga ikut bermain. Ketika civitas akademika dan para tamu  mendengar ucapannya Prof, mereka tidak hanya mendengar kata-kata, tetapi juga menghubungkannya dengan pengalaman bersama selama ini, seperti kerja kolektif, kedekatan sosial, tradisi kampus yang hangat, serta tekanan dan dinamika yang  dihadapi bersama.

Di sinilah terjadi peleburan cakrawala, dimana pemahaman tidak lagi milik pembicara saja, tetapi juga milik pendengar yang membawa perspektif mereka sendiri. Dukungan para dosen, pegawai, dan mahasiswa yang Prof sebut berulang kali itu, memperlihatkan sebagaimana Gadamer bilang bahwa, pemahaman tak pernah bersifat individual, melainkan hasil perjumpaan antar pengalaman sosial.

Jejak pembelajar, intelektual dan kepemimpinan juga tidak dapat dipisahkan dari horizon makna sambutannya. Kedisiplinan prof, dalam membaca dan menulis membuat setiap kalimatnya terukur dan tidak berlebihan. Pengalamannya meneliti masyarakat kepulauan memperkuat kepekaannya pada relasi sosial dan nilai-nilai lokal, yang tampak ketika prof menggambarkan kampus sebagai “ladang pengabdian”. Kedekatannya dengan keluarga juga dapat dibaca dari awal  visual “pamitan ke istri tersayang” saat akan ke kampus, begitupula kelembutan intonasi, lagu yang dinyanyikan saat sambutan, dapat dibaca bahwa Prof memaknai perpisahan sebagai urusan hati, bukan sekadar tanggung jawab struktur kelembagaan dan administrasi.

Begitupula Sikap terbukanya terhadap kritik membangun kredibilitas yang membuat sambutannya dinilai sangat baik dan tulus. Dalam perspektif Gadamer, semua aspek ini adalah bagian dari pra-pemahaman, atau kerangka pengalaman yang membentuk cara seseorang menafsirkan dunia dan kemudian mengekspresikannya dalam bahasa. Karena itu, sambutan Prof tersebut bukan hanya teks formal, melainkan refleksi hidup tentang bagaimana ia belajar, tumbuh, dan bekerja.

Karena itulah saya melihat sambutan wisuda terakhir kepemimpinan Prof menjadi ruang hermeneutik di mana rasionalitas seorang pemimpin dan kehangatan seorang manusia bertemu. Teks sambutan, konteks kepemimpinan serta perjalanan intelektual dan pembelajar saling menyatu dalam satu momen yang menggantikan acara wisuda menjadi ruang refleksi bersama. Dalam pandangan Gadamer, pemahaman yang utuh terjadi ketika pembaca mampu melihat peristiwa itu sebagai dialog antara masa lalu dan masa kini, antara pengalaman pribadi dan pengalaman kolektif, antara kata-kata yang terucap dan emosi yang melatari.

Dan tentu Vidio pendek perpisahan Prof. Saiful Deni, jika dibaca dalam perspektif hermeneutika Gadamer, menghadirkan pertemuan antara ruang personal dan ruang institusional melalui rangkaian simbol yang sarat makna. Pamit singkat kepada istri tersayang melalui telepn, saat akan berangkat ke kampus, kemudian perjalanan kamera melintasi langit Ternate, hingga masuk ke ruang kerja rektor, itu dapat dibaca sebagai horizon sejarah kepemimpinan yang prof jalani.

Adegan duduk di meja kerja sambil membuka laptop, kemudian berdiri dan menatap piagam, serta jabat tangan dengan pimpinan dan pegawai, dilatari lagu tentang persahabatan, membentuk dialog emosional antara pengalaman pribadi dan memori kolektif civitas akademika. Begitupula cuplikan saat mengajar, memimpin rapat, dan meninjau pembangunan gedung pascasarjana memperlihatkan Prof.Saiful Deni sebagai figur pengabdi. Melalui telepon yang menyatakan masa jabatan usai namun tugas keilmuan tetap berlanjut, itu dabat dibaca sebagai upaya melekatkan horizon nilai yang lebih luas.

Karenanya vidieo itu menjadi peristiwa hermeneutik, dimana ruang bahasa visual, emosi, dan pengalaman sosial saling berjumpa membentuk pemahaman baru tentang makna perpisahan.

Dengan begitu maka wisuda kepemimpinan akhir rektor, di sabtu(15/11) kemarin terbilang sarat makna, rektor menutup masa tugasnya dengan sangat baik, meminjam istilah Pak Dr. Andi Tambrin saat menyampaikan orasi ilmiah pada wisuda tersebut adalah “Pak Rektor mengakhiri masa jabatan dengan Husnul Khatimah” [].

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *