Oleh: Sulfan Kiye, Eks Ketua Umum Himpunan Pelajar Mahasiswa Maba Tengah Priode 2024-2025
Jika dilihat dari sisi kebudayaan Marwah Halmahera Timur sudah tak terlihat lagi karena dari rentang sejarah panjang Halmahera Timur, dikenal sebagai daerah parah kapita yang pada dasarnya berdiri atas dasar budaya’ “ngaku re rasai Budi re bahasa sopan re hormat” serta takut dan malu menjadi benteng atau hijab dalam menutupi segala sesuatu yang berkaitan dengan Halmahera Timur.
Bahkan dengan kehadiran artis ini telah menggugurkan nilai kebudayaan orang Halmahera Timur karena pada sejatinya yang harus ditampilkan adalah lalayon,cakalale,kabata dan budaya-budaya yang memiliki nilai tauhid untuk membentuk moral masyarakat Halmahera Timur. Namun mirisnya pemahaman Pemda Haltim inilah yang menantinya mengundang bencana yang sangat dahsyat karena falsafah hidup orang Halmahera Timur tidak lagi ditegakkan.
Transisi kebudayaan yang terjadi hari ini telah mengalami kontroversi karena apa yang ditampilkan oleh pemerintah Halmahera Timur ini bersifat kebudayaan Barat yang sejatinya meruntuhkan moral negeri dan regenerasi Halmahera Timur. “Negri tane ngeri zikir ire salawat”.
Dalam hal ini seharusnya Halmahera Timur di usia 23 tahun, sudah seharusnya menghidupkan kembali babak sejarah panjang dan budaya yang telah mengakar pada bumi Halmahera Timur, namun alih-alih Pemda Haltim lebih memilih satu kebudayaan yang pada sejatinya membunuh pertumbuhan darah para kapita atau leluhur yang pada dasarnya karena merekalah bumi Halmahera Timur tidak menjadi negeri yang pernah dijajah tapi negeri yang pernah menjajah negara’ Portugis, spanyol sehingga mengabaikan tahta kerajaan kepada Sultan Nuku.
Seharusnya spirit ini menjadi satu ajang pentas seni yang luar biasa untuk mengenang kembali parah leluhur Halmahera Timur karena mereka juga salah satu dari pasukan yang mempunyai peran penting dalam membebaskan Maluku Utara dari penjajah. Pemerintah Halmahera Timur harus lebih jeli membaca dan melihat ini sebagai satu peluang untuk mengharumkan nama Halmahera Timur, bukan malah menjatuhkan Marwah dan martabat Halmahera Timur dengan menghadirkan salah satu artis yang dalam pandangan kebudayaan cacat secara moral dan nilai kebudayaan itu sendiri.
Kemudian itu cara yang dilakukan oleh pemerintah Halmahera Timur untuk mengenang para pejuang,kapita, leluhur, dan tokoh-tokoh pemekaran Halmahera Timur itu sebenarnya salah karena seharusnya yang dipentaskan harus bersifat kepemimpinan dan memiliki unsur-unsur kebudayaan masyarakat Halmahera Timur. Secara tinjauan sosiologi watak masyarakat Haltim telah di manipulatif sehingga dengan berlangsung eforia HUT KE-23 telah menutupi mata kebenaran tentang kerusakan lingkungan yang terjadi dibeberapa kecamatan diantaranya ialah, kecamatan maba dan kecamatan maba tengah.
Ini juga bagian dari peralihan isu untuk menutupi segala kegagalan pemerintah Halmahera Timur dalam menjaga keseimbangan ekonomi dan ekologi dalam tinjauan pembangunan seharusnya ada pertimbangan penting antara ekonomi dan ekologi namun yang terjadi hanya meningkatkan ekonomi tapi menyampingkan ekologi bahkan dalam ekonomi pun tidak ada kemerahan pembagian, dimanaa guru-guru honorer masih menanti gajian yang tertunda 5 bulan lebih hal ini juga bentuk kegagalan pemerintah Halmahera Timur dalam melaksanakan tugasnya.
Sudah waktunya kita jujur dalam membangun Halmahera Timur, bahwa Halmahera Timur terdiri dari 10 kecamatan kota dan 102 desa yang seharusnya menjadi perhatian penuh pemerintah Halmahera Timur bukan hanya memfokuskan pada ibu kota Halmahera Timur, secara realitas infrastruktur pembagunan yang mumpuni itu hanya terdapat di ibu kabupaten sedangkan diluar itu terdapat banyak kerusakan lingkungan lalu yang dimaksud oleh pemerintah tentang pencapaian pembangunan itu dimana.?
Pemerintah Halmahera Timur harus mengembalikan esensi atau ruh Halmahera Timur dalam mengimani falsafah hidup orang Halmahera Timur, untuk membentuk sumberdaya manusia yang memiliki potensi agar mampu bertarung dalam segala hal. Perlu kiranya kita harus paham betul terkait dengan peradaban dasarnya adalah adab yang lebih dulu dalam sebuah pembangunan sumberdaya manusia dan sumberdaya alam.(*)
















Leave a Reply