SOCDEMPOST.ID

Klik ide-Sebar Makna-Rebut Perubahan

Advertisement

HMI Komisariat FISIP UMMU Ternate Gelar Literasi: Membaca atau Tertinggal

Socdempost.id– Ternate, Di tengah menurunnya minat baca di kalangan mahasiswa, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat FISIP Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU) memilih melawan arus. Pada Kamis, 30 April 2026, mereka menggelar kegiatan literasi berupa membaca dan diskusi, dimulai pukul 08.00 hingga 15.00 WIT.

Kegiatan ini dimediasi oleh Bidang Perguruan Tinggi, Kemahasiswaan, dan Pemuda (PTKP), yang secara konsisten menjadikan literasi sebagai program rutin dua kali dalam sepekan. Bukan sekadar formalitas organisasi, agenda ini diposisikan sebagai ruang intelektual untuk mengasah nalar kritis mahasiswa yang kian hari kian tergerus oleh budaya instan.

Ketua Bidang PTKP, Sofyan Selang, menegaskan bahwa kampus seharusnya menjadi pusat produksi gagasan, bukan sekadar tempat mengejar gelar. Ia mengingatkan bahwa mahasiswa yang alergi membaca pada dasarnya sedang menjauh dari esensi pendidikan itu sendiri.

“Literasi bukan pilihan, tapi kebutuhan. Kalau mahasiswa tidak membiasakan membaca dan berdiskusi, maka mereka hanya akan menjadi penonton dalam perkembangan ilmu pengetahuan,” tegasnya.

Pernyataan tersebut bukan tanpa dasar. Di banyak kampus, budaya diskusi mulai kehilangan tempat, tergeser oleh rutinitas akademik yang kering dari dialektika. HMI Komisariat FISIP UMMU mencoba mengisi kekosongan itu membangun kembali tradisi berpikir yang seharusnya menjadi identitas mahasiswa.

Baca Juga :  Universitas Muhammadiyah Maluku Utara Cetak Sejarah: Prof. Ranita Rope Jadi Rektor Perempuan Pertama

Lebih jauh, Sofyan menekankan bahwa kegiatan ini bukan sekadar program kerja tahunan, melainkan tanggung jawab moral kader HMI. Literasi, dalam pandangannya, harus menjadi budaya yang hidup bukan hanya slogan yang diulang tanpa praktik.

Kegiatan ditutup dengan diskusi terbuka yang berlangsung hangat, melibatkan sejumlah organisasi eksternal. Forum ini tidak hanya menjadi ruang tukar pikiran, tetapi juga memperlihatkan bahwa ketika literasi dirawat, perbedaan justru melahirkan pemahaman, bukan perpecahan.

Di tengah derasnya arus informasi yang serba cepat, kegiatan seperti ini menjadi pengingat sederhana: mahasiswa yang berhenti membaca, pada dasarnya sedang berjalan mundur. (Red/Jan)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *