Universitas Muhammadiyah Maluku Utara kembali menegaskan komitmennya dalam membangun karakter dan kapasitas sosial mahasiswa melalui pelaksanaan Kuliah Kerja Sosial dan Dakwah (KKSD) Angkatan XXXVII Gelombang II Tahun Akademik 2025/2026.
Kegiatan pembekalan resmi dibuka langsung oleh Rektor UMMU Ranita Rope pada Kamis (14/5/2026), bertempat di Lantai 3 Gedung Rektorat UMMU. Kegiatan tersebut dihadiri Ketua BPH UMMU Makbul Ah Din, Wakil Rektor I Abdul Halil Hi.Ibrahim, Wakil Rektor III Abubakar M.Nur , Ketua Lembaga Riset, Pengabdian, Publikasi dan HAKI (LRP2H) Hamida Rahman , Kepala Divisi Penelitian Rahmat Abd Fatah, serta Kepala Divisi Pengabdian Suryadi M.Ali.
Sebanyak 257 mahasiswa akan mengikuti KKSD selama 40 hari. Dari jumlah tersebut, 133 mahasiswa akan ditempatkan di wilayah Oba, , meliputi Desa Talasi, Desa Todapa, Desa Tului, Desa Bale, Desa Woda, dan Desa Akedotilow. Sementara 124 mahasiswa lainnya akan melaksanakan pengabdian di Kota Ternate.
Dalam sambutannya, Rektor UMMU menekankan bahwa KKSD tidak boleh dipahami hanya sebagai program akademik formal untuk memenuhi kewajiban kuliah. Lebih dari itu, KKSD merupakan ruang pembentukan mental, kedewasaan sosial, serta kemampuan mahasiswa untuk menghadapi kenyataan hidup yang penuh dinamika.
Menurut Rektor Ranita Rope, setiap proses kehidupan selalu menghadirkan tantangan. Karena itu, mahasiswa dituntut memiliki kemampuan beradaptasi, bukan justru tenggelam dalam keluhan dan sikap saling menyalahkan.
“Proses apapun itu selalu ada kendala. Bukan menyalahkan, bukan keluhan, namun menjalaninya. Karena itu dibutuhkan kemampuan beradaptasi,” tegas Rektor UMMU.
Karena itu, Rektor berharap mahasiswa tidak hanya berangkat sebagai peserta KKSD, tetapi pulang sebagai pribadi yang mengalami pertumbuhan pengalaman dan cara pandang.
“Saya berharap anda pergi dan pulang sehat, namun berubah karena tambahnya pengalaman,” ujar Ranita Rope.
Lebih jauh, Prof. Ranita menilai KKSD merupakan implementasi nyata dari seluruh proses pendidikan yang telah dijalani mahasiswa sejak pertama kali masuk kuliah. Pengetahuan akademik, menurutnya, baru menemukan makna ketika mampu dihadapkan langsung dengan realitas sosial masyarakat.
Ia kemudian menggambarkan kehidupan perkuliahan sebagai proses bertahap yang terus meningkat. Dalam setiap tahapan, mahasiswa sebenarnya sedang memasuki “level” kehidupan yang baru. Namun, banyak orang gagal berkembang karena tidak menyadari bahwa dirinya sedang berada dalam proses kenaikan level tersebut.
“Saya sering menggambarkan begini, kuliah itu ber-level. Kendala utama pada tahapan ini ialah ketika tidak menyadari bahwa anda sedang menaiki level. Maka dia tidak mempersiapkan bekal untuk menghadapi dinamika yang akan terjadi,” ungkap Prof. Ranita Rope.
Prof. Ranita juga menekankan bahwa setiap proses selalu meninggalkan dampak. Semakin besar kesungguhan seseorang dalam menjalani proses, semakin besar pula perubahan yang akan dihasilkan dalam dirinya.
“Semakin kuat kita membenturkan diri pada proses, semakin besar efek dari benturan itu. Proses sekecil apapun pasti berdampak, tinggal sejauh apa kesungguhan proses yang dilakukan, maka sejauh itu pula dampak yang akan diterima diri anda,” kata Rektor.
Ketua Badan Pembina Harian(BPH) UMMU, Makbu Ah Din dalam sambutannya juga menegaskan bahwa pendidikan tinggi bukan sekadar ruang memperoleh gelar akademik, tetapi juga arena pembentukan karakter, daya tahan mental, dan sensitivitas sosial. Melalui KKSD, mahasiswa diharapkan mampu belajar langsung dari masyarakat, memahami persoalan sosial secara nyata, serta membangun empati dan tanggung jawab sosial sebagai bagian dari identitas intelektual.
“KKSD UMMU bukan hanya aktivitas seremonial kampus, melainkan bagian dari proses pembentukan manusia yang utuh, yaitu manusia yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga matang dalam menghadapi realitas kehidupan”. Tutup Makbul Ah Din. (Intan)


















Leave a Reply