SOCDEMPOST.ID

Klik ide-Sebar Makna-Rebut Perubahan

Advertisement

Jejak Pembelajar

Sore(20/10/), saat pantai kastela dipeluk senja, bersama Mahasiswa sosiologi UMMU Rahmat Abd Fatah atau yang biasa disapa Raf. Memberikan motivasi literasi. Di sela kekosongan waktu, Tim socdempost.id meminta waktu untuk bercerita tentang proses pembelajar Raf. Disusana senja yang indah dan sejuk, Raf begitu tenang dan penuh ceria menceritakan proses pertumbuhan dengan segala dinamika kehidulan yang dilaluinya.

Raf lahir di sebuah desa kecil bernama Saketa, di selatan Halmahera. Desa itu dikelilingi laut yang luas dan kebun yang tak pernah habis ditumbuhi pohon kelapa, kakao, dan jagung. Tegasnya.

Pada pagi 10 Juli 1985, udara masih lembap, dan embun menempel di dedaunan, ketika tangisan pertama Raf pecah di antara doa orang tuanya, Yaitu Abbah, Hi. Abdul Fatah, dan Ummah, Rakiman Ende. Mereka adalah sosok yang sangat menginspirasi. Dari keduanya, kata Raf, ia mewarisi dua pusaka, yaitu kerakter dan doa.

Masa kecil Raf berlari di jalan panjang yang menghubungkan rumah ke kebun. Dua jam perjalanan, kadang lebih, dengan kaki kecil yang menyusuri tanah licin, bebatuan, dan semak belukar. Cerita Raf. Di kebun itu, Raf bercerita, mereka mengenal kebahagiaan sederhana. Libur sekolah berarti bukan tidur panjang, melainkan hari penuh sukacita. Mereka memancing ikan, menangkap udang, memanjat pohon kelapa, menanam jagung, atau sekadar duduk menatap senja sambi “batotango” atau memancing di tepian pantai.

Selepas SLTP di desanya,  Raf memiliki keinginan yang kuat untuk meninggalkan kampung, mengejar masa depan. Dengan uang Rp 300.000 rupiah, pemberian Mama sambungnya: Mama Atu. Tanpa izin Abba(Ayahnya). Raf berangkat ke Ternate. Pelabuhan Bastiong menjadi rumah pertama Raf di kota itu. Tiga hari Raf tidur di ruang tunggu, di antara kapal yang berlabuh. Lapar adalah teman, tetapi harapan lebih kuat. Kenangnya saat itu.

Raf mendatangi rumah kepala sekolah SMP untuk melegalisir ijazah. Jalan kaki, menembus panas, dari Bastiong ke Jati. Legalisir itu akhirnya Raf dapatkan dihari ketiga. Dan seperti takdir yang digariskan, di hari ketiga saat jalan menuju Toboko, Raf mendengar namanya dipanggil.

Ternyata Seorang gurunya di desa Saketa, namanya Bu Ani, keluar tawaran yang membuat Raf bergetar(Totofore), saya diminta tinggal di rumahnya, dan ia membiayai uang masuk sekolah saya. Malam itu, Raf menangis dalam diam. Allah mendengar doanya. Kenangnya.

Baca Juga :  JEJAK FATIMA, LANGKAH RANITA

Tinggal di rumah Bu Ani adalah babak baru. Raf belajar tentang kedisiplinan waktu, tentang kerja keras. Setiap Sabtu atau Minggu, Raf menyeberang laut ke Topo Tiga, Tidore, untuk mengambil pisang atau hasil kebun lain. Kerja itu tidak membuat Raf lelah, justru menambah semangat.

Tetapi di balik semangat itu, ada satu kegelisahan Raf. Bagaimana dengan restu Abba nya? Setiap malam, Raf berdoa agar Abba meridai langkahnya. Dan doa itu terjawab. Enam bulan kemudian, Abba datang ke Ternate. Mereka berpelukan, lama, hingga air mata jatuh. Di pelukan itu, Raf tahu ia telah pulang ke pangkuannya, sekaligus lahir kembali. Begitulah cerita Raf mengenang perjuangannya.

Dari pelukan Abba, kata Raf semangatnya semakin tergandakan, seminggu sekali diundang oleh RRI Ternate berbicara tentang problematika Remaja, terpilih sebagai Ketua OSIS, menjuarai cerdas cermat kelas IPS se Kota Ternate hingga terpilih mengikuti PIR(Pekan Ilmiah Remaja) di Malino Sulawesi Selatan dan itulah pertama kali naik pesawat melalui bantuan Wali Kota saat itu, Syamsir Andili(alm).

Setelah SMA Muhammadiyah Ternate, harapannya melanjutkan studi pupus, oleh Abba diminta istrahat setahun. Namun takdir Allah berkata lain, melalui panggilan dengan pengeras suara di sekolah, Raf dipanggil ke ruangan kepala sekolah. Ayah begitu mereka memanggil beliau, matanya basah. Raf takut informasi itu akan mengguncang jiwanya. Tetapi ternyata Raf dipeluk oleh kepala sekolah dengan penuh haru dan gembira beliau mengucapkan selamat. “Mat, Alhamdulillah “ngana”- kamu dapat beasiswa sampai selesai di Universitas Muhammadiyah Malang”.

 Di awal semester satu sampai tiga menjadi mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang tahun 2004. Raf memilih bekerja sambil kuliah, hari-hari setelah kuliah Raf habiskan di dapur warung lalapan, mencuci piring, mengulek sambal. Bau bawang, cabai, dan minyak goreng menempel di tubuhnya. Tetapi dari warung itu, Raf belajar tentang kehidupan.

Di awal semester(2004), ia mengikuti LK-1 Himpunan Mahasiswa Islam(HMI-MPO) di salah satu Masjid Dau Malang dan Intermediate Training PII se-Jawa Timur di Pare Kediri. Dari HMI ia menegukan keyakinan muslimnya dan dari PII ia menguatkan semangat pembelajarnya. Di HMI ia pernah menjadi ketua PTKP Cabang. Tetapi kemudian tidak berlangsung lama, karena ia harus mengikuti Darul Arqam Dasar(DAD) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Renaissance FISIP. Sebagai tanggungjawab moral karena mendapatkan Beasiswa melalui Muhammadiyah. Tetapi kemudian ia terlampau mencintai IMM.

Baca Juga :  Coaching Proposal Bima 2026 Digelar di UMMU, Puluhan Dosen Antusias Ikuti Pendampingan Riset

Semester berikutnya, melalui IMM. Raf masuk ke lingkaran diskusi yang lebih dalam. Malang Corruption Watch(MCW) menjadi ruang belajarnya tentang teori sosial, problem politik, dan kesadaran kritis. Dari sana, Raf masuk lebih dalam ke dunia organisasi. Tahun 2005 ia menjadi ketua Bidang Organisi IMM, Ketua bidang Hikmah 2006.Ketua Senat Mahasiswa Fisip. Dan Koordinator Eksternal Korkom IMM.

Puncak organisasi intera Tahun 2007, ia terpilih menjadi Presiden Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang. Raf mengatakan tidak terlalu bangga pada gelarnya, tetapi pada pertemuan dengan beragam pikiran. Organisasi bagi Raf bukan sekadar struktur, melainkan perjumpaan gagasan yang menyegarkan. Karena itu kenangnya di masa ia menjadi Ketua BEM Univerisitas. Hampir semua organisasi Ekstra Kampus menjadi pengurus harian. Sebut saja HMI, PMII, KAMMI dan LMND.

Skripsi Raf sempat tertunda. Ia terlalu tenggelam dalam aktivitas organisasi. Namun pada tahun 2010, ia menutup bab itu setelah di telepon Abba-nya. Raf diwisuda. Lalu ia sempat ke Jakarta memenuhi undangan pendirian organisasi Kemasyarakatan Nasional Demokrat besutan Surya Paloh. Di Hotel Borobudur. Dan bermaksud menjadi anak rantau di Jakarta pasca Malang. Ia juga sempat ke Bogor bekerja, setelah  sebulan kemudian kembali ke Ternate. Abba kurang setuju dua permintaannya yaitu menikah dan tinggal di Malang, atau merantau ke Jakarta. Maka ia kembali ke Maluku Utara, ke Universitas Muhammadiyah Maluku Utara.

Di universitas inilah, ia mengajar, meneliti, mengabdi. Tetapi lebih dari itu, ia menemukan ruang baru pada tahun 2017. Raf dan beberapa teman mahasiswa; sebut saja Sri Dania Ambar, Ekklesia Hulahi, Rifandi Umaternate, M.Muslah Pratama, Nurul Azmi Pora, Su dan Nadia Narto. mendirikan Unit Kegiatan Mahasiswa Jurnalistik (UJ) UMMU. Raf kumpulkan anak-anak muda dari berbagai latar agama dan organisasi, mendirikan Kemah Literasi Dasar(KLD), bukan sekadar latihan menulis, melainkan perjalanan masuk ke dalam diri. Dari sana lahir suara-suara yang mewarnai koran, mahasiswa yang terbang ke luar negeri, wisudawan terbaik yang membuat orang tua mereka tersenyum. Ucap penuh bangga,Raf. Ia selalu berkata pada mereka: “IPK bukan milikmu. Ia adalah warisan untuk generasi setelahmu. Ia adalah senyum orang tua di hari wisuda.”

Baca Juga :  Coaching Proposal Bima 2026 Digelar di UMMU, Puluhan Dosen Antusias Ikuti Pendampingan Riset

Kini, ia telah menempuh perjalanan panjang. Dari anak kebun, ia menjejak ruang akademik. Dari rotan Abbah, ia menulis disertasi. Dari Bastiong, ia menembus podium universitas. Dan akhirnya, ia meraih gelar doktor sosiologi dengan predikat cumlaude, menyelesaikan studi yang terbilang cepat 2 Tahun 10.Bulan.

Tetapi katanya, “Saya tetaplah anak Saketa. Bau tanah kebun masih melekat di tubuh saya. Bisikan laut masih terdengar di telinga saya. Doa Abbah masih bergema di dada saya. Dan saya percaya, hidup ini bukan untuk diri sendiri. Hidup adalah jalan panjang untuk menumbuhkan kehidupan bagi yang lain. Tanah mengajarkan kesabaran. Laut mengajarkan keberanian. Dan do’a mengajarkan kerendahan hati. Dari ketiganya, saya terus belajar menjadi pembelajar sejati”.

Kini, Raf adalah Dosen sosiologi Di Universitas Muhammadiyah Maluku Utara(UMMU). Sekaligus sebagai Kepala bidang Penelitian LPPM UMMU yang bertugas menumbuhkan budaya riset di kalangan dosen, melanjutkan kinerja kepala bidang yang lama (Alm) Amalan Tomia. Sekedar diketahui, Raf adalah kepala LPPM UMMU periode 2017-2020, karena itu Raf dipandang sosok yang tepat menumbuhkan budaya riset dikalangan dosen.

Dibalik proses tersebut ada ekspektasi besar yang dibangun sejak menjadi aktivis Mahasiswa, yaitu terbuntuknya kelompok minoritas krtis-kreatif yang mampu menyoroti sekaligus memberi solusi bagi problem demokrasi dan kepemimpinan lokal.

Raf bercerita ia memiliki ekspektasi membangun pondok pesantren mahasiswa, dimana mahasiswa semester awal boleh tinggal gratis tetapi ia harus disiplin dan semangat paada kurikulum pondok.

Kata Raf. Setidaknya mahasiswa pondok harus memiliki kualifikasi bahasa(Inggris, Arab dan Mandarin), kualifikasi pengetahuan sejarah islam dan Sirah Nabawiyyah yang kuat, kualifikasi logika dan filsafat, kualifikasi metodologi dan Jurnalistik, serta praktek Kewirausahaan sosial.

Ketika menjawab pertanyaan tentang kenapa ekspektasi tersebut penting. Ia mengatakan “Bagi saya tugas ilmuan Sosial harusnya bukan sekedar mengajar, meneliti dan menngabdi dalam perspektif administratif, tetapi lebih substantif dari itu adalah membebaskan kemanusiaan.

Dan jalannya adalah menyiapkan generasi pemenang yang cintanya hanya kepada Allah dan dengan asbab cinta itu ia siap dengan situasi apapun terus menebari kebaikan dan kebermanfaatan pada kemanusiaan, didasari oleh kapasitas yang ia miliki, prinsipnya ialah Ilmu amaliah dan amal ilmiah. [Red]

One comment
Roman Joyner

Hi

I’m a Website Promotion & Advertising Consultant, leading a team of 30+ professionals who specialize in helping businesses grow online.

We focus on delivering measurable results through:

SEO: Getting your website ranked higher on Google to attract more visitors and inquiries.
Social media: Creating engaging posts, reels, and ad campaigns across Facebook, Instagram, LinkedIn, and YouTube to build awareness and trust.
PPC Advertising: Running targeted ad campaigns on Google and social platforms to generate qualified leads and boost grow your revenue.

If you’re looking for real results — not just clicks — I’d be glad to send you a short proposal outlining how we can help your business stand out online.

Best regards,

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *