SOCDEMPOST.ID

Klik ide-Sebar Makna-Rebut Perubahan

Advertisement

JEJAK FATIMA, LANGKAH RANITA

Oleh: Rahmat Abd. Fatah (Dosen Sosiologi Universitas Muhammadiyah Maluku Utara).

Pada tahun 859 M, di Fez, berdiri institusi yang diakui sebagai universitas tertua di Dunia yang masih beroperasi hingga kini. Di baliknya ada satu sosok yang cerdas dan inspiratif. Fatima bint Muhammad Al-Fihriya Al-Qurashiya, seorang perempuan Muslim dari Tunisia yang menggunakan warisan kekayaan keluarganya untuk mendirikan masjid dan pusat pendidikan di Maroko pada abad ke-9.

Fatima tidak membangun universitas karena ambisi jabatan. Ia membangunnya karena keyakinan bahwa ilmu adalah jalan memuliakan manusia sebagai konsekuensi imannya.

Dari masjid kecil yang ia dirikan, tumbuh pusat kajian agama, matematika, astronomi, hukum, dan filsafat. Dunia kemudian menyaksikan bahwa pendidikan tinggi bukan monopoli Eropa abad pertengahan. Jauh sebelum Bologna dan Oxford menjadi simbol, seorang perempuan Muslim telah lebih dulu menanam akar peradaban akademik itu.

Sejarah ini penting bukan sebagai romantisme masa lalu, tetapi sebagai argumen logis bahwa kepemimpinan perempuan dalam dunia pendidikan bukanlah anomali. Ia adalah kontinuitas sejarah. Dalam perjalanan modern, kita melihat tonggak-tonggak itu kembali muncul-sejarah kemudian bergerak, dan perempuan terus menulis babnya.

Di Inggris, Rosemary Murray memimpin University of Cambridge pada 1975 dan meruntuhkan dinding tradisi yang lama menutup akses kepemimpinan bagi perempuan. Di Amerika Serikat, Carol Christ mengarahkan University of California, Berkeley menuju penguatan riset global. Minouche Shafik memimpin Columbia University dan menegaskan bahwa universitas elite pun membuka ruang bagi kapasitas, bukan sekadar tradisi. Martha E. Pollack di Cornell University, Ana Mari Cauce di University of Washington, serta Evelyn Welch di University of Bristol, semuanya memimpin dengan visi dan kompetensi yang sama tegasnya.

Di Indonesia, Ilfi Nur Diana memimpin UIN Maulana Malik Ibrahim Malang juga tentu kita tahu lahirnya Universitas ‘Aisiyah di Yogyakarta. Bandung, Surakarta, dan Palembang serta berbagai institusi aisiyah lainnya, dipelopori oleh perempuan hebat, artinya bahwa transformasi itu juga tumbuh di tanah air.

Maka ketika Prof. Dr. Ranita Rope, M.Sc terpilih sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah Maluku Utara(UMMU) periode 2026–2030, adalah suatu penanda sekaligus petanda (baca semiotik Ferdinand de Saussure). Bahwa kapasitas dapat mengeliminasi budaya ke-akuan(laki-laki).

Sejak berdirinya UMMU pada 2001, kepemimpinan berada di tangan empat lelaki cerdas-inspiratif, yakni Prof. Yunus Namsa, Dr. Kasman Hi. Ahmad, Drs. Ishak Djamaluddin, dan Prof. Dr. Saiful Deni. Mereka telah dengan begitu baik membangun fondasi, memperkuat budaya akedemik, meneguhkan identitas dan penguatan Institusionalisasi.

Kini UMMU memasuki fase diferensiasi dan akselerasi. Tantangannya bukan lagi sekadar bertahan, tetapi menembus batas. Digitalisasi pendidikan, internasionalisasi riset, tata kelola berbasis data, reputasi global, dan pembinaan karakter mahasiswa dalam lanskap media sosial yang liar serta penegasan masjid kampus sebagai pusat ilmu dan peradaban. Juga tentu kantin dan kafe kampus sebagai tempat bersulang ide dan gagasan-bukan sekedar urusan perut, begitupula toiletnya, karenanya desain-hendaknya menjawab tabtangan zamannya.

Di titik inilah kepemimpinan transformasional menjadi kebutuhan.
Prof. Dr. Ranita Rope hadir sebagai kontinuitas sejarah sekaligus pembaruan. Ia tidak berdiri untuk meniadakan empat pemimpin sebelumnya, tetapi untuk melanjutkan logika sejarahnya. Jika para rektor sebelumnya membangun rumahnya, maka kepemimpinan sekarang dapat memperluas jendelanya agar cahaya ilmu masuk lebih jauh dan merata.

Baca Juga :  Kampus di Era Narasi Digital

Secara simbolik, terpilihnya seorang perempuan sebagai rektor pertama dalam sejarah UMMU adalah penegasan bahwa institusi ini tidak terjebak dalam pola lama. Secara substantif, ini adalah pesan bahwa kualitas dan kapasitas adalah dasar legitimasi.

Fatima al-Fihri mewarisi ruh nilai, bahwa membangun kampus adalah membangun manusia masa depan. Rosemary Murray dan para pemimpin perempuan dunia membuktikan bahwa kepemimpinan akademik adalah soal kompetensi dan visi. Dan di Maluku Utara, sejarah kecil pendidikan itu hendak dimulai.

Periode 2026–2030 akan dikenang bukan karena ia dipimpin perempuan, tetapi karena ia mampu menjawab zaman atau tidak. Sejarah selalu memberi kesempatan, tetapi hanya visi yang membuatnya memiliki makna yang dalam.

Dari Fez hingga Ternate, dari abad ke-9 hingga abad ke-21,  ilmu terus bergerak bersama mereka yang berani memimpinnya dengan integritas.

Dan setiap peradaban besar selalu dimulai dari keberanian menerima perubahan sebagai bagian dinamika masa depan. Selamat mengemban amanah kepemimpin, Prof.Dr. Ranita Rope,M.Sc [].

Baca Juga :  Jejak Pembelajar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *