SOCDEMPOST.ID

Klik ide-Sebar Makna-Rebut Perubahan

Advertisement

KAJIAN KOHATI: Menjadikan Forum Intelektual sebagai Spirit Awal Perjuangan Kader Perempuan

Socdempost.id_TERNATE— Di tengah tantangan gerakan mahasiswa yang semakin kehilangan ruang refleksi dan tradisi intelektual, KOHATI HMI Komisariat FISIP UMMU kembali menghadirkan ruang berbasis kajian ideologis melalui kegiatan “Bedah Pedoman Dasar Kohati I (PDK I)” yang digelar di Gedung B Universitas Muhammadiyah Maluku Utara, Minggu (24/05/2026).

Kegiatan yang berlangsung dalam forum mingguan tersebut menghadirkan Ketua KOHATI HMI Cabang Ternate periode 2026–2027, Siti Sakina Kasturian, sebagai pemateri utama. Dalam penyampaiannya, ia menekankan bahwa PDK I bukan sekadar dokumen organisasi yang dipenuhi pasal-pasal formal, melainkan fondasi pemikiran yang membentuk arah perjuangan kader perempuan Islam.

Menurutnya, kader Kohati tidak cukup hanya memahami organisasi secara administratif, tetapi juga harus mampu membaca landasan teologis, sosial, dan kemanusiaan yang terkandung dalam Pedoman Dasar Kohati.

“PDK I bukan hanya membahas pasal organisasi, tetapi bagaimana kader mampu menganalisis mukaddimah, memahami landasan teologisnya, serta mengaitkannya dengan nilai-nilai Al-Qur’an, seperti dalam Surah Al-Maidah dan Al-Baqarah,” ujarnya di hadapan peserta kajian.

Ia menjelaskan, Islam sejak awal telah menempatkan laki-laki dan perempuan dalam posisi yang setara sebagai khalifah di muka bumi. Karena itu, narasi yang menganggap Islam tidak berpihak pada perempuan dinilai sebagai cara pandang yang lahir dari minimnya pembacaan mendalam terhadap ajaran Islam itu sendiri.

Baca Juga :  Menyoroti Pendidikan & Tata Kelola MBG, Aliansi Mahasiswa Maluku Utara Bersuara 

Dalam forum tersebut, Siti juga menyoroti bagaimana sebagian kalangan masih memandang feminisme dan emansipasi semata-mata sebagai produk Barat. Padahal, kata dia, konsep keadilan gender, tanggung jawab sosial, hingga peran kemanusiaan telah lama dibahas secara substansial dalam Islam.

“Selama ini banyak orang menganggap Islam agama yang kaku dan kurang berpihak kepada perempuan. Padahal ketika dikaji lebih dalam, persoalan emansipasi, posisi laki-laki dan perempuan, hingga tanggung jawab manusia sebagai khalifah fil ardh telah selesai dibahas dalam Islam,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia berharap kajian tersebut menjadi bekal intelektual bagi kader-kader Kohati FISIP agar mampu tampil sebagai representasi organisasi yang tidak hanya aktif secara struktural, tetapi juga kuat dalam argumentasi keislaman dan wacana sosial.

Baca Juga :  Universitas Muhammadiyah Maluku Utara Cetak Sejarah: Prof. Ranita Rope Jadi Rektor Perempuan Pertama

“Saya berharap dua tahun ke depan mereka bisa menjadi kader yang siap berbicara di ruang-ruang publik, menjadi narasumber, dan membawa nilai-nilai Islam sebagai sandaran berpikir,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua KOHATI Komisariat FISIP UMMU, Lestia Pora, mengatakan bahwa forum kajian tersebut diharapkan menjadi langkah awal bagi kader Kohati FISIP untuk terus berproses dan menjaga semangat intelektual di tubuh HMI.

“Semoga kajian ini menjadi langkah awal bagi Kohati FISIP untuk terus berproses, menjaga semangat belajar, dan melahirkan kader-kader yang lebih progresif ke depan,” ujarnya.

Di tengah realitas organisasi mahasiswa yang mulai terjebak dalam pragmatisme dan rutinitas seremonial, forum-forum kajian seperti ini menjadi penting untuk menghidupkan kembali tradisi berpikir kritis, terutama bagi kader perempuan yang selama ini kerap diposisikan hanya sebagai pelengkap struktur organisasi. (Jan)

Baca Juga :  BEM Unutara Diduga Ancam Kader Forum Insan Cendikia, Berawal dari Story WhatsApp

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *