SOCDEMPOST.ID

Klik ide-Sebar Makna-Rebut Perubahan

Advertisement

Agama dan Perubahan Sosial

Oleh: Angga Abdullah

(Mahasiswa Sosiologi UMMU)

“Agama tidak hadir untuk menghentikan perubahan zaman, tetapi untuk memastikan manusia tidak kehilangan kemanusiaannya di tengah perubahan itu (RAF).

 

Perubahan sosial adalah sesuatu yang tidak pernah berhenti dalam kehidupan masyarakat. Cara manusia hidup, bekerja, bergaul, bahkan cara memandang dunia terus berubah mengikuti perkembangan zaman. Dulu orang hidup dalam hubungan sosial yang sederhana dan dekat. Hari ini, kehidupan menjadi jauh lebih terbuka, cepat, sekaligus rumit. Teknologi berkembang pesat, pendidikan semakin luas, dan pola pikir masyarakat ikut berubah bersama arus modernitas.

Dalam sosiologi, perubahan sosial dipahami sebagai perubahan yang terjadi dalam pola hubungan dan kehidupan masyarakat. Wilbert E. Moore, seorang sosiolog asal Amerika Serikat yang banyak mengkaji perubahan sosial dan modernisasi, menjelaskan bahwa perubahan sosial adalah perubahan penting yang terjadi dalam struktur sosial, pola perilaku, dan hubungan sosial masyarakat. Gagasannya banyak digunakan dalam kajian pembangunan dan masyarakat modern. Sementara itu, William F. Ogburn, sosiolog Amerika yang terkenal melalui teori cultural lag atau ketertinggalan budaya, melihat bahwa perkembangan teknologi sering menjadi penyebab utama perubahan dalam kehidupan sosial manusia. Menurutnya, masyarakat sering kali belum siap menyesuaikan nilai dan moral sosial dengan kecepatan perkembangan teknologi.

Artinya, perubahan sosial bukan hanya soal gedung yang semakin tinggi atau teknologi yang semakin canggih, tetapi juga perubahan dalam cara manusia berpikir, bersikap, dan memperlakukan sesamanya.

Baca Juga :  Etika Bicara di Ruang Publik: Kenali Hukum dan Batasannya

Di tengah perubahan yang terus bergerak itu, agama tetap memiliki tempat penting dalam kehidupan manusia. Sayangnya, agama sering dipahami secara sempit hanya sebagai urusan ibadah dan hubungan manusia dengan Tuhan. Padahal, agama tidak berhenti pada ritual semata. Agama juga berbicara tentang cara manusia memperlakukan orang lain, membangun kepedulian sosial, menjaga keadilan, dan menebarkan kasih sayang dalam kehidupan bersama.

Émile Durkheim, seorang sosiolog klasik asal Prancis yang dikenal sebagai salah satu pelopor utama ilmu sosiologi modern, menjelaskan bahwa agama adalah sistem kepercayaan dan praktik yang berkaitan dengan hal-hal suci yang kemudian menyatukan orang-orang dalam sebuah komunitas moral. Pemikiran Durkheim tentang agama banyak dituangkan dalam bukunya The Elementary Forms of Religious Life. Dari pandangan ini, agama sebenarnya memiliki fungsi sosial yang sangat besar. Agama bukan sekadar persoalan pribadi, melainkan juga kekuatan yang dapat membangun solidaritas dan mempererat hubungan antarmanusia.

Masalahnya, dalam kehidupan modern hari ini, agama kadang hanya tampil sebagai simbol. Ia hadir dalam seremoni, identitas, dan slogan, tetapi sering kehilangan makna sosialnya. Tidak sedikit orang yang rajin menjalankan ibadah, tetapi masih mudah merendahkan orang lain, menyebarkan kebencian, atau tidak peduli terhadap keadaan sekitar. Agama akhirnya dipisahkan dari kehidupan sosial sehari-hari.

Padahal inti ajaran agama justru terletak pada kemanusiaan itu sendiri. Ukuran keberagamaan seseorang bukan hanya seberapa sering ia beribadah, tetapi juga seberapa besar ia mampu menghadirkan rasa aman, kasih sayang, dan manfaat bagi orang lain. Dalam konteks ini, agama seharusnya menjadi kekuatan moral yang membuat manusia lebih lembut terhadap sesama, bukan sebaliknya.

Baca Juga :  TOILET

Modernitas memang membawa banyak kemudahan. Teknologi membantu manusia bekerja lebih cepat, berkomunikasi tanpa batas, dan memperoleh informasi hanya dalam hitungan detik. Namun, perkembangan teknologi juga melahirkan tantangan baru. Manusia modern sering hidup dalam situasi yang serba cepat, tetapi perlahan kehilangan kedekatan sosial. Hubungan antarmanusia menjadi lebih praktis, tetapi terasa semakin dingin.

Marshall McLuhan, seorang pemikir komunikasi dan media asal Kanada yang terkenal lewat gagasan “the medium is the message”, pernah mengatakan bahwa setiap teknologi baru pada akhirnya menciptakan lingkungan hidup manusia yang baru pula. Pemikirannya banyak memengaruhi kajian media dan komunikasi modern, terutama dalam bukunya Understanding Media. Apa yang kita gunakan setiap hari diam-diam membentuk cara kita berpikir dan bertindak. Karena itu, teknologi tanpa nilai moral dapat berubah menjadi alat yang menjauhkan manusia dari rasa empati dan kepedulian sosial.

Di sinilah agama memiliki peran penting. Agama tidak hadir untuk menghambat perubahan zaman, melainkan memberi arah agar perubahan tetap berjalan secara manusiawi. Agama menjadi pengingat bahwa kemajuan tidak cukup hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, kecanggihan teknologi, atau tingginya pembangunan fisik. Kemajuan juga harus diukur dari seberapa besar manusia masih memiliki rasa peduli terhadap sesamanya.

Baca Juga :  Refleksi Untuk Karang taruna Moreala: Aktif atau Hanya Terlihat Aktif 

Dalam kehidupan masyarakat Indonesia, nilai-nilai agama sebenarnya masih terlihat kuat. Tradisi gotong royong, membantu tetangga yang terkena musibah, berbagi makanan, hingga kepedulian sosial di lingkungan masyarakat tumbuh dari nilai keagamaan yang hidup di tengah masyarakat. Dalam Islam misalnya, konsep zakat, sedekah, dan tolong-menolong menunjukkan bahwa hubungan antarmanusia merupakan bagian penting dari ajaran agama.

Namun, tantangan modernitas perlahan mulai menggeser sebagian nilai sosial tersebut. Sikap individualisme semakin terasa. Banyak orang lebih sibuk mengejar kepentingan pribadi dibanding memperhatikan keadaan sekitar. Kehidupan media sosial juga sering membuat manusia lebih mudah menunjukkan citra diri daripada membangun kepedulian nyata.

Karena itu, agama hari ini perlu hadir dengan wajah yang lebih menenangkan dan membumi. Bukan agama yang penuh kemarahan dan merasa paling benar sendiri, tetapi agama yang mampu membuat orang nyaman untuk berubah menjadi lebih baik. Agama yang menghadirkan keteladanan dalam sikap, bukan sekadar nasihat dalam kata-kata.

Perubahan sosial tidak mungkin dihentikan. Dunia akan terus bergerak maju. Tetapi di tengah perubahan yang semakin cepat itu, manusia tetap membutuhkan nilai yang menjaga dirinya agar tidak kehilangan arah. Dan agama, ketika dipahami sebagai jalan kasih sayang dan kepedulian sosial, dapat menjadi salah satu kekuatan penting untuk menjaga kemanusiaan tetap hidup di tengah dunia modern yang terus berubah[].

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *