Oleh : Lulu Fahriza – Mahasiswa Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Khairun
Beberapa tahun terakhir, Maluku Utara berubah cukup cepat. Industri masuk, proyek-proyek besar mulai jalan, terutama di sektor tambang dan hilirisasi. Banyak yang melihat ini sebagai peluang lapangan kerja terbuka, ekonomi bergerak. Itu tidak salah. Tapi di tengah semua itu, ada satu hal yang sering kita lewatkan: di mana posisi pemuda dalam perubahan ini?
Hari ini, banyak pemuda dihadapkan pada pilihan yang serba cepat. Lulus sekolah atau kuliah, lalu langsung cari kerja. Fokusnya jelas: dapat penghasilan dan bertahan. Itu wajar. Tapi kalau semuanya berhenti di situ, kita bisa kehilangan sesuatu yang lebih penting yaitu cara berpikir.
Di banyak daerah, termasuk Maluku Utara, fenomena ini bukan hal yang sulit ditemukan. Tidak sedikit anak muda yang memilih berhenti di tengah pendidikan karena melihat peluang penghasilan yang lebih cepat di sektor industri. Pilihan ini sering dianggap realistis, apalagi di tengah tuntutan ekonomi. Namun, jika menjadi tren yang terus berulang, hal ini berpotensi melemahkan kualitas sumber daya manusia dalam jangka panjang.
Pelan-pelan, pendidikan mulai dipandang hanya sebagai jalan untuk masuk dunia kerja, bukan lagi ruang untuk belajar memahami, mempertanyakan, dan melihat sesuatu lebih dalam. Akibatnya, kita jadi terbiasa menerima keadaan, tapi jarang mengkritisi. Ikut arus, tapi tidak benar-benar tahu ke mana arahnya.
Padahal, perubahan tidak cuma digerakkan oleh industri. Gagasan juga punya peran besar. Daerah seperti Maluku Utara tidak hanya butuh tenaga kerja, tapi juga butuh pemuda yang bisa berpikir, membaca situasi, dan berani menyampaikan pandangan. Tanpa itu, kita hanya akan jadi pekerja di daerah sendiri, bukan orang yang ikut menentukan masa depannya.
Arus informasi sekarang juga sangat cepat. Media sosial jadi ruang utama kita berinteraksi. Tapi sering kali, kita lebih sibuk scroll daripada berpikir. Lebih cepat bereaksi daripada memahami. Diskusi yang dalam makin jarang, digantikan komentar singkat yang cepat lewat.
Kondisi ini perlahan membentuk kebiasaan baru, di mana opini dibangun dari potongan informasi singkat, bukan dari pemahaman yang utuh. Akibatnya, banyak yang cepat berkomentar, tetapi kurang memiliki dasar argumen yang kuat. Jika dibiarkan, hal ini bisa membuat pemuda kehilangan kemampuan untuk berpikir kritis, padahal itu adalah modal penting dalam menghadapi perubahan.
Kalau ini terus dibiarkan, kita bisa jadi generasi yang aktif di luar, tapi pasif dalam cara berpikir.
Menyelamatkan intelektualitas pemuda bukan berarti kita harus menolak industri. Justru kita harus siap menghadapinya. Tapi kesiapan itu bukan cuma soal keterampilan kerja, melainkan juga soal cara berpikir. Kita butuh lebih banyak ruang diskusi, komunitas belajar, dan gerakan literasi yang hidup di tengah masyarakat.
Upaya ini sebenarnya bisa dimulai dari hal-hal sederhana. Komunitas kecil, forum diskusi mahasiswa, hingga gerakan literasi di lingkungan sekitar dapat menjadi ruang awal untuk melatih cara berpikir yang lebih terbuka dan kritis. Dengan adanya ruang seperti ini, pemuda tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga mampu mengolah dan memaknainya secara lebih mendalam.
Kampus juga tidak boleh hanya jadi tempat datang, duduk, lalu pulang. Harus ada keberanian untuk menjadikannya ruang hidup tempat lahirnya ide, kritik, dan solusi untuk daerah sendiri.
Pemerintah dan para pengambil kebijakan juga punya peran penting. Dukungan terhadap pendidikan, riset, dan pengembangan pemuda tidak boleh setengah-setengah. Ini bukan soal pelengkap, tapi soal masa depan daerah.
Jika kita melihat kondisi hari ini, kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Maluku Utara memang mencatat pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi, bahkan sempat menyentuh angka di atas 30 persen dalam beberapa tahun terakhir karena dorongan industri nikel. Tapi di saat yang sama, muncul fenomena baru di kalangan anak muda, banyak yang lebih tertarik masuk ke dunia tambang daripada melanjutkan pendidikan. Istilah seperti “anak tambang banjir cuan” mulai dianggap biasa, bahkan jadi kebanggaan.
Realitas di lapangan juga tidak selalu seindah yang dibayangkan. Kasus kecelakaan kerja di kawasan industri masih terus terjadi, bahkan memakan korban jiwa. Belum lagi aksi mahasiswa dan buruh pada peringatan Hari Buruh 1 Mei 2026 yang menyoroti soal keselamatan kerja dan upah yang belum sebanding dengan risiko, terutama dengan kenaikan UMP 2026 yang hanya berkisar di angka 3%, sangat kontras dengan pertumbuhan ekonomi daerah yang bombastis. Ini menunjukkan bahwa tanpa kesiapan dan cara berpikir yang kuat, pemuda bisa saja hanya menjadi bagian kecil dari sistem yang besar, tanpa benar-benar punya posisi tawar.
Bahkan, ketergantungan yang terlalu besar pada industri juga menyimpan risiko. Ada kekhawatiran tentang potensi pengurangan tenaga kerja ketika produksi menurun atau kebijakan berubah. Artinya, jika pemuda hanya bergantung pada satu sektor tanpa bekal pengetahuan dan kemampuan lain, masa depan bisa menjadi tidak pasti.
Penting juga bagi pemuda untuk mulai melihat pendidikan sebagai investasi jangka panjang, bukan sekadar jalan menuju pekerjaan. Dengan bekal pengetahuan dan kemampuan berpikir yang baik, pemuda akan memiliki lebih banyak pilihan dalam menentukan masa depan, tidak hanya bergantung pada satu sektor saja.
Pada akhirnya, kita perlu jujur bertanya: kita mau jadi apa di tengah perubahan ini?
Kalau hanya ikut arus, mungkin kita tetap dapat tempat. Tapi belum tentu punya arah. Sebaliknya, kalau kita mau berpikir lebih dalam, menjaga rasa ingin tahu, dan berani bersuara, kita bisa jadi lebih dari sekadar penonton.
Kita bisa jadi bagian dari mereka yang menentukan ke mana arah Maluku Utara ke depan.














Leave a Reply