Socdempost.id–Ternate , Ketua Forum Keluarga Alumni Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (Fokal IMM), Prof. Dr. Ma’mun Murod, M. Si., menggelar dialog santai bersama jajaran Dewan Pimpinan Daerah (DPD) IMM Maluku Utara. Meski berlangsung dalam suasana akrab dan penuh kekeluargaan, pertemuan tersebut sarat dengan pesan tentang kepemimpinan, gerakan kader, dan masa depan Muhammadiyah.
Dalam arahannya, Prof. Ma’mun Murad menegaskan bahwa kader IMM harus menjaga idealisme sebagai fondasi utama dalam setiap gerakan. Menurutnya, idealisme tidak boleh dikorbankan demi kepentingan sesaat.
“Jagalah idealisme. Kalau pun harus turun, jadilah seorang yang realistis, jangan sampai menjadi pragmatis.” pesannya kepada para kader.
Ia juga mengingatkan bahwa IMM harus mengambil posisi sebagai gerakan yang kritis sekaligus konstruktif. Sikap kritis diperlukan untuk mengawal kebijakan publik, namun kritik harus disertai solusi yang membangun.
Prof. Ma’mun menjelaskan bahwa Muhammadiyah memiliki dua peran besar, yakni sebagai organisasi dakwah dan organisasi kader. Karena itu, Muhammadiyah berkewajiban melahirkan kader sebanyak-banyaknya yang memiliki integritas, kapasitas, dan komitmen terhadap nilai-nilai persyarikatan.
Ia menambahkan, salah satu media dakwah Muhammadiyah yang paling strategis adalah kampus. Melalui perguruan tinggi, Muhammadiyah tidak hanya mencetak lulusan, tetapi juga menyiapkan kader yang mampu memimpin dan memberi manfaat bagi masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Ma’mun juga menyinggung kepemimpinan di Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU). Menurutnya, kader Muhammadiyah merupakan pihak yang paling berhak memimpin perguruan tinggi Muhammadiyah, karena memahami visi, nilai, dan arah gerak persyarikatan.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa amal usaha Muhammadiyah tidak boleh hanya dipandang sebagai institusi pendidikan semata, melainkan harus menjadi penopang utama gerakan dakwah Muhammadiyah.
Terkait penyampaian aspirasi, Prof. Ma’mun menegaskan bahwa demonstrasi merupakan hak yang sah. Namun, langkah tersebut sebaiknya menjadi pilihan terakhir setelah seluruh jalur komunikasi dan dialog tidak lagi berjalan.
“Boleh melakukan demonstrasi di UMMU, tetapi harus bersifat konstruktif. Jika komunikasi sudah benar-benar buntu, barulah demonstrasi menjadi pilihan,” ujarnya.
Melalui dialog tersebut, Prof. Ma’mun berharap kader IMM Maluku Utara tetap menjadi kelompok intelektual yang mampu menjaga idealisme, memperkuat tradisi keilmuan, serta menghadirkan kritik yang solutif demi kemajuan Muhammadiyah, perguruan tinggi, dan bangsa. (Tim)
















Leave a Reply