Dear you,
Maaf jika baris pertama ini, sekali lagi, adalah tentangmu. Tidak perlu khawatir. Dalam tulisan ini, identitasmu akan tetap menjadi variabel anonim seperti subjek penelitian yang sengaja disamarkan demi etika ilmiah. Nama, inisial, bahkan ciri khasmu tidak akan dicatat. Yang akan dibahas di sini bukanlah siapa dirimu, melainkan apa yang terjadi di antara kita, serta bagaimana relasi itu bekerja secara psikologis dan emosional.
Ingatan tentangmu muncul bukan sebagai kilasan romantik, melainkan sebagai rangkaian data yang tersimpan rapi di ruang bawah sadar. Seperti memori traumatik yang suatu waktu dapat muncul kembali ketika pemicunya tak terduga. Malam itu, kau mengirim pesan singkat, lalu menelepon, suaramu bergetar, terpotong oleh jeda-jeda panjang yang sarat emosi.
“Kau di mana? Aku mau cerita…”
Nada suaramu menjadi indikator klinis pertama bahwa kau sedang berada dalam fase disorganisasi emosi. Saat kau datang, tubuhmu tegap namun jiwamu runtuh. Dalam terminologi psikologi klinis, kau menunjukkan gejala distress pasca-pengkhianatan relasional: kelelahan emosional, kebingungan kognitif, dan kehilangan makna dalam ikatan cinta.
Hatimu patah, dan kepercayaanmu yang seharusnya menjadi fondasi relasi mengalami luka bakar derajat tinggi. Kau bercerita tentang dia, sosok yang selama ini kau jadikan pusat orbit hidupmu. Hubungan yang bagimu menyerupai struktur arsitektur megah kokoh, terencana, dan bernilai historis ternyata bagi dia hanyalah bangunan temporer.
Dalam teori Triangular Theory of Love yang dikemukakan oleh Robert Sternberg, cinta terdiri dari tiga komponen: intimacy, passion, dan commitment. Pada hubunganmu, ketiganya tampak lengkap di satu sisi, namun timpang di sisi lainnya. Kau memberi komitmen, ia hanya memberi ilusi.
Aku tidak banyak berbicara.
Dalam relasi terapeutik, diam sering kali lebih bermakna daripada nasihat. Aku mendengar, mengamati, dan mencatat bukan di buku medis, melainkan di kesadaranku sendiri. Di hadapanku, sosok perempuan yang selama ini kau banggakan menangis terseduh-seduh, terjebak antara memori indah dan realitas yang berlawanan seratus delapan puluh derajat.
Dia mengatakan cinta, namun bertindak sebaliknya. Dalam psikologi sosial, ini dikenal sebagai cognitive dissonance ketidaksesuaian antara ucapan dan perilaku yang menciptakan konflik batin pada pihak yang menerima.
“Kau bertanya, kenapa dia setega itu?”
Aku tahu, pertanyaan itu tidak sepenuhnya ditujukan padaku. Kau sedang bertanya pada dirimu sendiri, berusaha memahami mengapa investasi emosional yang begitu besar berakhir tanpa imbal balik yang setara.
Pertemuan kita menjadi rutin. Dua hingga tiga kali seminggu. Polanya menyerupai hubungan pasien–dokter privat, tanpa antrean, tanpa jarak profesional yang tegas. Dalam literatur psikologi klinis, kondisi ini disebut transference ketika pasien memindahkan kebutuhan emosionalnya kepada figur penolong. Dan aku, alih-alih menjaga jarak, justru terlibat terlalu dalam.
Aku merawat luka-lukamu. Memberimu waktu, validasi, dan kehadiran. Aku menjadi ruang amanmu. Infus emosional itu mengalir terus-menerus, hingga sistem psikis-mu kembali stabil. Namun aku lupa satu hal: dalam attachment theory, individu dengan luka afeksi sering kali hanya membutuhkan tempat singgah untuk pulih, bukan tujuan akhir untuk menetap.
Kau berikrar. Aku lengah. Rasio memperingatkan, afeksi menenggelamkan. Perlahan, kau pulih. Postur tubuhmu kembali tegap. Senyummu kembali menemukan bentuknya. Sayapmu tumbuh sempurna. Dan ketika seseorang telah sembuh, ia cenderung melupakan ruang tempat ia dirawat.
Kunjunganmu berkurang. Komunikasi menipis. Dalam teori relasi, aku tidak pernah menjadi secure base, hanya safe harbor sementara. Aku bukan rumah aku halte. Dan halte, sebagaimana fungsinya, hanya ada untuk disinggahi, bukan ditinggali.
Aku menyalahkan diriku sendiri. Mengapa sejak awal aku membuka celah? Mengapa aku merawat luka yang seharusnya bukan tanggung jawab emosional pribadiku?
Etika profesi runtuh oleh empati yang berlebihan.
Pada akhirnya, kau kembali pada orang yang paling kau cintai. Sistem afeksimu kembali ke pola lama. Aku tersisa di ruang praktik, dikelilingi aroma disinfektan dan kenangan yang tak pernah steril.
Jika kau menganggap perasaanku mengada-ada, mungkin kau perlu mengajukan satu pertanyaan mendasar: apakah mereka yang merawat tidak berhak terluka? Dalam teori emotional labor, mereka yang memberi dukungan emosional sering kali diabaikan kebutuhan afektifnya sendiri. Aku tidak menuntut apa pun. Bukan cinta, bukan balasan. Hanya pengakuan bahwa aku pernah ada. Bahwa aku bukan alat penyembuh sekali pakai.
Serapuh itukah ingatan manusia?
Jika kau lupa, mungkin itu mekanisme pertahanan. Repression, kata Freud. Tapi aku berharap, setidaknya, kau ingat bahwa pernah ada seorang laki-laki berseragam putih yang berdiri di antara kehancuran dan pemulihanmu.
Jika kau memilih terus berpura-pura lupa, mungkin benar: lebih baik kau kehilangan ingatan selamanya, daripada terus mengulang pola yang sama melukai, disembuhkan, lalu pergi.
Dari seseorang yang pernah merawatmu, Dokter yang Terlupakan.
Penulis : Muhajrin Umasangadji








Leave a Reply