Bagaimana petani bisa sejatrah, jika tana yang di jaga di rampas. bagaimana nelayan bisa maju jika lautnya di cemari oleh limbahnya tambang, lalu apa yang harus di harapkan dari pemerintah?_ R. Photon
Pasar Gamalama merupakan salah satu pusat perdagangan bahan pokok utama di Kota Ternate, bahan barang pokok kerap mengalami gejolak harga, salah satunya pada komoditas bawang merah. Dalam beberapa waktu terakhir, harga yang biasanya berkisar Rp40.000–Rp65.000 per kilogram melonjak hingga menyentuh Rp65.000, bahkan pernah mencapai Rp110.000-Rp90.000 per kilogram di puncak kelangkaan. Fenomena ini bukan sekadar perubahan angka, melainkan cerminan dari struktur pasokan yang rentan dan dampak yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
Akar utama Kenaikan Harga
Pertama, ketergantungan pasokan dari luar daerah. Sebagian besar bawang merah yang dijual di Pasar Gamalama dikirim dari Sulawesi Utara, terutama Manado, serta daerah lain seperti Nusa Tenggara Barat . Ketika sentra produksi belum memasuki masa panen atau hasil panen menurun akibat curah hujan tinggi, volume kiriman berkurang drastis sementara permintaan tetap ada.
Kedua, hambatan distribusi dan tingginya biaya logistik. Cuaca buruk sering menghambat pelayaran antarpulau, menyebabkan keterlambatan pengiriman dan penumpukan biaya angkut. Ditambah lagi kenaikan harga BBM dan panjangnya rantai distribusi dari produsen ke agen, lalu ke Makassar atau Manado sebelum sampai ke Ternate membuat harga jual di pasar menjadi jauh lebih mahal.
Ketiga, fluktuasi permintaan dan momen khusus. Menjelang hari raya atau musim hajatan, kebutuhan bawang merah meningkat tajam, sementara stok yang terbatas memicu lonjakan harga yang lebih cepat dari biasanya.
Dampak yang Terjadi di Lapangan
Bagi masyarakat konsumen, kenaikan ini membebani anggaran rumah tangga, terutama kalangan berpenghasilan rendah. Banyak yang terpaksa mengurangi jumlah pembelian atau mengganti dengan bumbu alternatif, sehingga pola masak menjadi lebih sederhana dan berisiko menurunkan kualitas gizi keluarga.
Bagi pedagang dan pelaku usaha, situasi ini menempatkan mereka di posisi sulit. Pedagang eceran harus menaikkan harga jual namun kehilangan pembeli, sementara pelaku kuliner seperti warung makan dan katering terancam menyusutnya keuntungan atau kehilangan pelanggan jika menaikkan harga menu. Akibatnya, aktivitas perdagangan di pasar menjadi lebih sepi dan omzet pedagang menurun signifikan.
Secara ekonomi daerah, kenaikan harga bawang merah ikut menyumbang inflasi pangan dan menunjukkan kerentanan pasokan pangan Ternate yang belum didukung produksi lokal memadai.
Olehnya itu, Kenaikan harga bawang merah di Pasar Gamalama bukan sekadar masalah pasar semata, melainkan hasil dari ketergantungan pasokan eksternal, kendala logistik kepulauan, dan lemahnya produksi lokal. Untuk mengatasinya, diperlukan langkah terpadu: memperkuat produksi bawang merah di sekitar Maluku Utara, menjamin kelancaran distribusi antarpulau, serta intervensi pemerintah yang tepat waktu agar stabilitas harga dapat terjaga dan beban masyarakat dapat diringankan.


















Leave a Reply