SOCDEMPOST.ID

Klik ide-Sebar Makna-Rebut Perubahan

Advertisement

ketidakstabilan Harga bawang merah di Maluku Utara serta harapan masyarakat terhadap kebijakan pemerintah

Oleh: Aria Wahyuni– Mahasiswa Program Studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Maluku 

Pasar Gamalama selalu menjadi detak jantung ekonomi bagi masyarakat Kota Ternate. Namun, dalam beberapa waktu terakhir, suasananya berubah menjadi panggung kecemasan bagi para pedagang Barito (bawang, rica, tomat).

Ketidakstabilan harga bawang merah yang terus naik-turun tak menentu membuat aktivitas jual beli tidak lagi berjalan normal, melainkan menjadi spekulasi yang penuh risiko bagi modal usaha mereka.

Kenaikan harga BBM menjadi salah satu pemicu utama di balik macetnya pasokan bawang merah ke Ternate.  Sebagai daerah kepulauan yang sangat bergantung pada pasokan luar seperti Manado dan Makassar, setiap kenaikan biaya transportasi laut dan darat langsung berdampak pada harga di tingkat agen.

Rantai distribusi yang panjang ini membuat pedagang eceran di Pasar Gamalama menerima harga modal yang sudah terlampau tinggi sejak dari pelabuhan.

Baca Juga :  Literasi digital di era kecerdasan buatan: peluang, tantangan dan etika 

Ironisnya, pada bulan Juli 2026 ini, terdapat anomali pasar yang membingungkan di mana harga rata-rata secara umum dilaporkan mulai melandai di kisaran Rp60.000 per kg. Namun, di sudut-sudut lapak Pasar Gamalama, beberapa pedagang terpaksa tetap menjual dengan harga melonjak tinggi.

Hal ini terjadi karena mereka masih memegang stok lama yang dibeli saat harga modal melambung tinggi, sehingga mereka tidak memiliki pilihan selain mempertahankan harga agar tidak mengalami rugi bandar.

Dilema ini membuat para pedagang kini memilih strategi untuk sangat berhati-hati dalam memesan pasokan baru dari agen.

Mereka dihantui ketakutan: jika menyetok bawang merah dalam jumlah banyak saat harga melonjak, mereka akan merugi besar apabila kapal pengangkut dari Manado tiba-tiba masuk dan membuat harga pasar jatuh dalam hitungan hari. Sikap menahan diri ini justru kerap memicu kelangkaan stok buatan di pasar tradisional.

Baca Juga :  Komitmen di Tengah Zaman yang Bising

Merespons kondisi tersebut, para pedagang menaruh harapan besar agar Pemerintah Kota Ternate tidak tinggal diam dalam mengendalikan harga. Intervensi nyata sangat mendesak dilakukan, salah satunya melalui perluasan program Gerakan Pangan Murah (GPM) oleh Dinas Pangan dan Bank Indonesia. Program ini terbukti efektif memotong jalur distribusi, sehingga masyarakat bisa mendapatkan harga bumbu dapur yang lebih rasional tanpa mencekik keuntungan pedagang pasar tradisional.Selain pasar murah, stabilitas jangka panjang hanya bisa dicapai jika pemerintah daerah berani memberikan subsidi ongkos angkut logistik pangan dan mempercepat operasional Koperasi Merah Putih di Ternate sebagai pusat pemasaran UMKM.

Jika biaya sewa truk dan kapal angkutan bahan pokok disubsidi menggunakan anggaran daerah, harga komoditas penting seperti bawang merah dari luar pulau dapat ditekan secara signifikan sebelum menyentuh meja dagangan di Pasar Gamalama.Pada akhirnya, menstabilkan harga bawang merah bukan sekadar tentang angka statistik inflasi di atas kertas, melainkan tentang keberlangsungan hidup para pedagang kecil di Ternate.

Baca Juga :  Analisis Penyebab dan Dampak Kenaikan Harga Bawang Merah di Pasar Gamalama Kota Ternate

Pemerintah Kota Ternate harus segera memperkuat fungsi pengawasan terhadap distributor besar agar tidak ada penimbunan barang di tengah situasi BBM saat ini.

Hanya dengan komitmen bersama, para penjual di Pasar Gamalama bisa kembali berdagang dengan tenang dan mengantongi sedikit keuntungan yang layak untuk menghidupi keluarga mereka.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *