Oleh : Salman Tidore, –Kader HMI Fisip Ummu Ternate
Berjabat tangan atau bersalamaan adalah sunnah yang disyari’atkan dan adab mulia para shahabat Radhiyallahu anhum yang dipraktikkan sesama mereka tatkala berjumpa, seperti yang di sampikan
Imam Nawawi rahimahullah yang juga mengatakan bahwa, “Berjabat tangan adalah sunnah tatkala bersua berdasarkan hadits hadits yang shahih dan ijma’ para Imam.”
Islam sudah mengajarkan kita bahwa bersalaman bukan sekadar menyentuhkan telapak tangan, melainkan bentuk penghormatan, kasih sayang, dan doa yang diam-diam berpindah lewat kulit yang saling bertemu.
Namun seringkali kita lupa untuk meringkantangan kita untuk bersalaman dengan teman kiata, keluarga kita apalagi pada sosok seseorang ibu, padahal dari tangan ibulah kita ajarkan makan disaat kita masi belita, kita di ajarkan bagaiman caranya berjalan, hingga dari tangan ibulah kotoran kita dibersikan ketika kita masi belita dan belum bisa berbuat apa-apa. Seiring bertambahnya usia bertambalah kekuatan kita namun sebesar apapun kekuatan yang kita miliki kita tetap membutuhkan sosok seseorang ibu walaupun tangan itu hanya sekedar bersalaman dan memintah maaf kepadanya. Karena ketika seorang anak mencium tangan ibunya, sesungguhnya ia sedang belajar merendahkan ego di hadapan cinta yang paling tulus. Ada keberkahan yang mengalir dari tangan seorang ibu; tangan yang pernah begadang saat anaknya demam, tangan yang diam-diam mengusap air mata agar anaknya tidak ikut sedih.
Banyak orang baru memahami hangatnya genggaman itu ketika tangan tersebut mulai melemah dimakan usia, atau bahkan telah terbungkus kain putih untuk terakhir kalinya. Dalam Islam, ridha ibu adalah jalan menuju ridha Allah. Maka bersalaman dengannya bukan hanya adab, tetapi juga bentuk ibadah yang sering diremehkan oleh anak-anak yang terlalu sibuk mengejar dunia. Dan kini saya memahami satu hal yang paling menyakitkan: kita sering merasa punya banyak waktu untuk mencium tangan ibu, sampai akhirnya waktu itu benar-benar habis. “Seorang ibu dapat tertawa ketika memandikan anaknya, tetapi seorang anak akan menangis ketika memandikan ibunya.”
Bersalaman dengan ibu memiliki makna yang jauh lebih dalam, terutama saat Hari Raya Idulfitri tiba. Setelah salat Ied, anak-anak berbaris mendekati ibunya, menundukkan kepala, lalu mencium tangan dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Di momen itu, kata “maaf” terasa lebih jujur daripada hari-hari biasa. Banyak anak yang sebenarnya sulit mengungkapkan rasa sayang, tetapi lewat bersalaman mereka mencoba meminta ampun atas suara yang pernah meninggi, atas pesan yang jarang dibalas, atas pulang yang selalu ditunda. Tradisi itu menjadi pengingat bahwa sebesar apa pun seseorang tumbuh, di hadapan ibunya ia tetap seorang anak kecil. Kadang seorang ibu hanya tersenyum sambil berkata, “Iya, Nak, Ibu sudah maafkan.” Padahal diam-diam hatinya penuh rindu yang tidak pernah selesai. Lebaran bukan tentang baju baru atau meja makan yang penuh, melainkan tentang tangan ibu yang masih bisa dicium sebelum semuanya berubah menjadi kenangan. Dan bagi mereka yang ibunya telah tiada, suasana lebaran sering berubah menjadi tempat paling sunyi untuk menahan tangis.
Anak perantau sering lupa bahwa ada tangan ibu yang perlahan kehilangan hangat karena terlalu lama tidak digenggam. Mereka sibuk mengejar mimpi di kota orang, sibuk menghitung uang, sibuk membangun masa depan, sampai lupa bahwa ada seseorang di rumah yang setiap malam menunggu kabar sederhana: “Ibu sudah makan?” Banyak anak baru sadar setelah pulang dan melihat rambut ibunya semakin putih, langkahnya mulai lambat, dan tangannya tidak lagi sekuat dulu saat menyuapi mereka makan. Sentuhan tangan ibu sebenarnya bukan hal mewah, tetapi justru itulah yang paling dirindukan ketika ibu telah pergi. Tidak ada teknologi yang bisa menggantikan rasa tenang saat mencium tangan ibu sebelum berangkat mencari rezeki. Dan tidak ada penyesalan yang lebih panjang daripada kehilangan kesempatan memeluknya untuk terakhir kali.
Saya pernah berpikir bahwa hidup adalah tentang perjalanan yang jauh. Ternyata hidup hanyalah tentang seberapa sering kita pulang untuk memeluk ibu. Kini rumah masih berdiri, kamar masih sama, bahkan aroma dapur kadang masih terasa, tetapi tidak ada lagi suara yang memanggil nama saya dari balik pintu. Kehilangan ibu membuat seseorang mendadak dewasa tanpa diberi pilihan. Ada rindu yang tidak bisa ditelepon, ada penyesalan yang tidak bisa diulang, dan ada doa yang selalu pecah bersama air mata setiap selesai salat.
Dulu, sebelum saya merantau, ibu sering berdiri di depan pintu sambil menggenggam tangan saya erat-erat. Ia tidak banyak bicara, tetapi matanya menyimpan ribuan kekhawatiran yang tidak pernah diucapkan. Kini saya mengerti, setiap salam perpisahan dari ibu sebenarnya adalah doa panjang yang dibungkus senyuman agar anaknya tidak ikut sedih. Seorang ibu selalu terlihat kuat, padahal hati merekalah yang paling mudah hancur ketika melepas anak pergi jauh.
“Pergilah, Nak…
Kalau dunia membuatmu lelah, jangan lupa pulang.
Jangan malu menangis kalau hidup terasa berat. Ibu tidak bisa selalu menemanimu berjalan,
tetapi doa ibu akan berjalan lebih dulu melindungimu.
Kalau nanti kamu berhasil, jangan lupa rendah hati.
Dan jika suatu hari kamu kehilangan arah, ingatlah…
pernah ada seorang ibu yang selalu percaya bahwa anaknya akan baik-baik saja.”
Hari ini saya baru sadar, bersalaman dengan ibu ternyata bukan sekadar tradisi. Itu adalah kesempatan terakhir untuk merasakan surga menyentuh tangan kita secara langsung. Dan betapa banyak anak yang baru memahami arti sebuah genggaman setelah tangan itu benar-benar tak lagi bisa digapai. (*)














Leave a Reply