SOCDEMPOST.ID

Klik ide-Sebar Makna-Rebut Perubahan

Advertisement

Akhlak di Era Digital: Ketika Agama Menjadi Penjaga Kesadaran Sosial

Oleh: Fahregi samaunMahasiswa Sosiologi Universitas Muhammadiyah Maluku Utara.

Kemajuan teknologi telah mengubah cara manusia hidup, berkomunikasi, bahkan memandang dirinya sendiri. Media sosial kini bukan sekadar ruang berbagi informasi, melainkan telah menjadi bagian dari budaya masyarakat modern. Setiap hari manusia hidup di tengah arus komentar, opini, tren, dan informasi yang bergerak sangat cepat. Dalam situasi seperti ini, manusia sering kali kehilangan ruang untuk berpikir jernih. Segala sesuatu ingin direspons secara instan, termasuk kemarahan, kebencian, dan penilaian terhadap orang lain.

Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa perkembangan teknologi tidak selalu berjalan seiring dengan perkembangan moral manusia. Dunia digital yang seharusnya mendekatkan manusia justru sering melahirkan konflik, ujaran kebencian, penyebaran hoaks, hingga hilangnya rasa empati. Banyak orang merasa bebas berbicara tanpa batas karena bersembunyi di balik layar. Akibatnya, media sosial perlahan berubah menjadi ruang yang bising, penuh amarah, dan minim etika.

Di tengah kondisi itu, agama memiliki posisi yang sangat penting sebagai penuntun moral masyarakat. Agama bukan hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga membentuk kesadaran sosial dalam kehidupan sehari-hari. Dalam perspektif Al-Qur’an, manusia diajarkan untuk menjaga perkataan, menghormati sesama, serta menjauhi tindakan yang merugikan orang lain.

Baca Juga :  Telah Kritis Jejak Era Digitalisasi 

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 6:

Jika datang kepada kalian seorang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya.”

Ayat ini memiliki makna yang sangat relevan dengan kehidupan digital saat ini. Penyebaran informasi di media sosial sering terjadi tanpa proses tabayyun atau pemeriksaan kebenaran. Banyak orang langsung membagikan berita hanya karena sesuai dengan emosi atau pandangannya. Akibatnya, hoaks menyebar lebih cepat dibandingkan fakta. Dalam konteks ini, Al-Qur’an sebenarnya telah memberikan pedoman agar manusia bersikap kritis, hati-hati, dan bertanggung jawab dalam menerima informasi.

Tidak hanya itu, Al-Qur’an juga mengingatkan manusia tentang pentingnya menjaga lisan dan perilaku. Dalam Surah Qaf ayat 18 disebutkan bahwa setiap perkataan manusia akan dicatat dan dipertanggungjawabkan. Jika dahulu ucapan hanya terdengar oleh orang di sekitar, kini setiap tulisan di media sosial dapat tersebar luas dan meninggalkan dampak besar bagi kehidupan orang lain. Karena itu, etika digital sesungguhnya tidak bisa dipisahkan dari nilai-nilai agama.

Dalam kajian sosiologi, persoalan ini juga mendapat perhatian serius. Sosiolog Prancis, Émile Durkheim, menjelaskan bahwa agama memiliki fungsi sosial sebagai perekat masyarakat. Menurut Durkheim, agama membentuk nilai bersama yang menjaga keteraturan dan solidaritas sosial. Ketika nilai moral melemah, masyarakat akan mengalami kondisi yang disebut anomie, yaitu keadaan ketika manusia kehilangan pedoman dalam bertindak. Situasi inilah yang banyak terlihat di media sosial saat ini: orang mudah marah, saling menyerang, dan kehilangan batas etika karena lemahnya kontrol moral.

Baca Juga :  Di Balik Angka-Angka: Kegagapan Manajerial dalam Tata Kelola Morotai

Pandangan lain datang dari Max Weber yang melihat agama sebagai kekuatan yang mampu memengaruhi perilaku manusia dalam kehidupan sosial. Weber menjelaskan bahwa nilai agama dapat membentuk cara berpikir, pola tindakan, bahkan tanggung jawab individu dalam masyarakat. Dalam konteks era digital, pemahaman agama yang baik dapat membantu seseorang lebih bijak menggunakan teknologi, tidak mudah terprovokasi, dan tetap memiliki kesadaran moral saat berinteraksi di ruang publik.

Sementara itu, Peter L. Berger memandang agama sebagai “kanopi suci” yang memberi makna dan arah bagi kehidupan manusia. Di tengah dunia modern yang serba cepat dan penuh perubahan, manusia membutuhkan pegangan agar tidak kehilangan identitas dan nilai kemanusiaannya. Media sosial sering membuat manusia terjebak dalam budaya pencitraan, validasi, dan persaingan sosial. Banyak orang ingin terlihat sempurna di hadapan publik digital, tetapi kehilangan ketenangan dalam dirinya sendiri. Dalam keadaan seperti itu, agama hadir untuk mengingatkan bahwa nilai manusia tidak diukur dari popularitas, melainkan dari akhlak dan kemanfaatannya bagi orang lain.

Baca Juga :  Bahaya Pergaulan Di Era Digital Menurut Ajaran Islam 

Masalah utama masyarakat modern sebenarnya bukan kurangnya teknologi, tetapi kurangnya kesadaran moral dalam menggunakan teknologi. Manusia mampu menciptakan kecerdasan buatan, internet cepat, dan media sosial global, tetapi belum tentu mampu mengendalikan ego, amarah, dan nafsunya sendiri. Karena itu, pendidikan akhlak menjadi sangat penting, terutama bagi generasi muda yang tumbuh di tengah budaya digital.

Agama seharusnya tidak hanya dipahami sebagai ritual ibadah semata, tetapi juga sebagai pedoman etika sosial. Nilai-nilai seperti kejujuran, kesabaran, tanggung jawab, dan kepedulian harus hadir dalam aktivitas sehari-hari, termasuk di dunia maya. Media sosial membutuhkan lebih banyak empati, bukan sekadar opini. Membutuhkan lebih banyak kejujuran, bukan sensasi. Dan membutuhkan lebih banyak kesadaran moral, bukan sekadar kebebasan tanpa batas.

Pada akhirnya, kemajuan teknologi tidak dapat dihentikan, tetapi arah penggunaannya dapat dikendalikan. Di sinilah agama berperan sebagai penjaga kesadaran manusia agar tetap memiliki akhlak di tengah perubahan zaman. Sebab manusia yang maju bukan hanya manusia yang cerdas secara teknologi, melainkan manusia yang mampu menjaga moral dan kemanusiaannya di tengah dunia yang semakin digital.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *