Oleh: El Dino LMID Ternate
Bulan agustus merupakan bulan di mana manusia manusia nusantara menacapkan merdeka bukan hanya di dalam hati,tapi nyawa menjadi pengantar kemerdekaan itu,17 agustus 1945 menandakan babak baru membangun negara yang namanya indonesia.
Pergolakan pertarungan intelektual dalam menjamu negara yang baru merdeka membuat banyak intelektual mendiskusikan pemerintahan dan asas negara yang nanti nya menjadi panutan dan dasar kita bernegara lahir lah pancasila dan undang-undang dasar 1945 sebagai tolak ukur yang sah. sukarno, hatta, sutan sjahrir, Haji Agus salim, Soedjatmoko,dan banyak toko toko lain nya menjadi titik api yang pertarungannya bukan hanya di indonesia tapi sampai ke PBB, merekah mampu bersaing secarah intelektual, selain itu rayat juga menjadi peran penting dalam kita merdeka.
Penulis teringat kembali sosok yang sangat krtis dalam memaknai kemerdekaan yakni Tan malaka toko repoblik yang terkubur bersama sejarah hanyak fisik yang terkubur tapi idenya sampai hari ini masi hidup, bahwa tan perna mendatangi sukarno, hatta dan Haji agus Salim, tepat di tgl 24 januari 46.
kepada kalian para sahabat tahukah kalian kenapa Aku tidak tertarik pada kemerdekaan yang kalian ciptakan aku merasa bahwa kemerdekaan itu tidak kalian rancang untuk kemaslahatan bersama. kemerdekaan kalian diatur oleh segelintir manusia tidak menciptakan Revolusi besar hari ini aku datang padamu wahai sukarno sahabatku harus aku katakan bahwa kita belum merdeka karena merdeka haruslah seratus persen hari ini aku melihat bahwa kemerdekaan hanyalah milik kaum elit yang mendadak bahagia menjadi borjuis suka cita menjadi amtenar pegawai negri, kemerdekaan hanyalah milik kalian bukan milik rayat kita mengalami perjalanan yang salah tentang arti merdeka dan apabilah kalian tidak segera memperbaiki nya maka sampai kapanpun bangsa ini tidak akan pernah merdeka hanya para pemimpinya yang akan mengalami kemerdekaan karena hanya mereka yang merdeka adil dan makmur itu di rasakan dengarlah perlawanaku ini karena apabilah kalian tetap bersikap seperti itu maka inilah hari terakhir aku datang sebagai seorang sahabat dan saudara besok adalah hari di mana aku akan menjelma menjadi musuh kalian karena aku akan tetap berjuang untuk merdeka 100%.
Peyampain Tan malaka kini menjadi nyata kemerdekaan hanya berputar pada kalangan elit hari ini, kita harus bertanya kalau kita merdeka kenapa tana petani harus di rampas, kalau merdeka, kenapa pendidikan mahal, kalau merdeka kenapa gaji buruh tidak naik, kalau merdeka kenapa gaji guru tidak naik. Kemerdekaan hanyalah kepalsuan belakang, merdeka macam apa yang tana petani nya di rampas, petani yang terpenjara hanya saja dia mempertahankan tana nya Kemerdekaan hanya untuk mereka yang berkuas dan rakus. Kemerdekaan indonesia, yang seharusnya menjadi pesta kebahagian rakyat, kini berubah menjadi panggung kemewahan parat elit penguasaan. di dalam pagar istana, para pejabat larut dalam euforia: tertawa, berjoget, dan berpose di atas panggung mewah. Mereka menikmati gaji jumbo, tunjagan tahunan, serta fasilitas tak terbatas yang terus mengalir dari uang negara. Ironisnya, semua kemewahan itu bersumber dari keringat rayat.
Sementara di luar pagar, rayat hanya menjadi penonton denggan wajah letih, dengan piring berisi nasi dan lauk seadanya, mereka menanggung beban pajak yang tiap tahun dinaikkan. Rakyat di minta berkorban, sementara penguasa berpesta inikah arti keadilan sosial bagi seluruh rayat indonesia? Atau justru keadilan hanya berlaku untuk segelintir orang yang duduk di kursi empuk kekuasaan.
jika begini wajah kemerdekaan, bukankah kemerdekaan itu sendiri telah di bajak? selama rayat masih di paksah menanggung beban demi pesta-pesta kekuasaan, selama pejabat terus mengibarkan bendera kepalsuan di atas istana megahnya, maka kemerdekaan hanya tinggal slogan kosong tampa rapuh.
Sebagai negara yang merdeka otomatis harus menjamin kemerdekaan rayat indonesia, dan menjamin kemerdekaan itu tetap ada. seperti kutipan dalam UUD 1945, bahwa kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebap itu penjajahan di atas dunia harus di hapuskan di karenakan tidak sesuai dengan prikemanusia dan pri keadilan, maka dari itu kemerdekaan adalah bagian terpenting yang harus di jaga, bangsa mana yang merdeka secarah ekonomi politik pembagunan yang merata, semua di caplok oleh kalangan elit nasional dan memperkaya kelompok mereka sendiri.
Maluku utara juga adalah bagian dari pada indonesia yang otomatis segala hal yang di lakukan nasional juga akan berdampak terhadap maluku utara.sejarah maluku utara begitu istimewa. Maluku utara sendiri memiliki empat kusultana yang dalam kaca mata sejarah sangat memiliki peran penting dalam mengusir penjajah. Hingga tiba pada titik di mana maluku utara bergabung ke dalam indonesia dan mala petakapun mulai terjadi.
Maluku utara kini di hadiakan kado istimewa dari nasional, yakni pertambangan yang berhamburan di berbagai kabupaten kota, penulis teringat kembali seperti kutipan mantan presiden joko widodo bahwa, profinsi maluku utara merupakan provinsi yang sangat bahagian, tapi kenyataan yang kita alami adalah kerusakan hutan, sungai yang tercemari, petani yang terpenjara, kesehatan yang buruk, udara yang tercemari. apakah ini adalah bentuk kebahagian.
Apakah merdeka itu harus memenjarai petani yang mempertahankan tana nya, atau kan merdeka itu harus merusak lingkungan, apakah merdeka itu harus mencemari sungai itulah kondisi maluku utara sekarang.
Maluku utara kini milik caplokan kekuasaan nasional segala kekayaan alam yang di miliki maluku utara semua di rampas atas nama kesejahteraan rayat, di momentum kemerdekaan tepat di tgl 17 agustus 2025 kita merayakan hari kemerdekaan yang ke 80, semua orang merayakan itu, kenapa kita tidak harus bertanya makna dari kemerdekaan itu seperti apa, atau kan makna nya seperti goyang gemoynya DPRI RI kemarin yang asik goyang di tengah kondisi rayat yang kerpuruk.
Kemerdekaan di raih bukan denggan goyangan gemoy DPRI RI kemarin tapi kemerdekaan di raih dengan dara dan airmata pengorbanan kebebasan individu demi kebebasan banyak orang tapi kenyataan sosial hari ini telah membuktikan pemerintah kita hari ini tidak bisa menjawab keluh dan kesah rayat. momentum kemerdekaan sebenarnya adalah sebuah momentum yang meyakini kita bahwa sejarah bangsa ini adalah sejarah perjuangan ,tampa perjuangan mungkin indonesai tidak akan terbebas dari belenggu penjajahan,
Ingat kata kata Wiji thukul : bagi kami merdeka itu bukan soal bebas teriak “merdeka”!setiap 17 agustus, merdeka itu saat rakyat bisa hidup tenang tanpa takut di usir dari tanah sendiri. merdeka itu saat bisa menanam tampa ijin dari mereka yang tak perna tahu rasa lapar, merdeka saat bisa bersuara tampa di bungkam, kalau itu belum ada, maka benar kemerdekaan ini masitai.














Leave a Reply