Mataram – Di balik meriahnya Pelatihan Instruktur Nasional (PIN) dan lokakarya Perkaderan Pemuda Muhammadiyah di Mataram (2-7/12/2025), ada seorang figur yang jarang tampil ke depan, namun keteguhan yang membuat kegiatan besar itu berjalan tanpa kendala yang berarti. Ia adalah Ilham. Ketua Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah (PWPM) Nusa Tenggara Barat. Seorang kader Muhammadiyah yang tumbuh dari tradisi panjang pengkaderan, ditempa oleh pengalaman, dan digerakkan oleh prinsip hidup yang sederhana tetapi mendalam.
“Segala sesuatu mungkin tidak bisa dihitung, tapi bisa dihitung”. Ia menegaskan prinsip itu bahwa, bahkan tanpa uang yang cukuppun sebuah kegiatan bisa terlaksana jika didasri oleh niat yang benar untuk mendapatkan keberkahan Allah”.
Ilham lahir di Bima, April 1986. Di masa mudanya, ia bukan tipe “kutubuku” semata. Lapangan sepak bola menjadi ruang latihannya; posisi penyerang mengajarinya tentang timing, membaca peluang, dan keberanian mengambil risiko. Mungkin dari sanalah ia belajar bahwa serangan terbaik lahir dari keyakinan dan keputusan yang tidak bertele-tele.
“Dalam tutur lembutnya, ia sering berkata “Manusia itu hidup karena keyakinan. Kalau kita yakin dan berusaha, sesuatu itu pasti bisa”.
Perjalanan organisasinya panjang dan terjal, tetapi selalu dilalui tanpa keluhan. Ia mengabdi sebagai Bidang Kader IMM selama dua periode (2010–2014), kemudian melanjutkan tugasnya di Pemuda Muhammadiyah NTB sebagai Bidang Kader dari 2014 hingga 2022. Dari sana ia dibentuk, diuji, dan dilatih mengenali denyut gerakan, karakter manusia, serta seni berorganisasi, sesuatu yang sering ia tekankan sebagai fondasi kerja kolektif.
Kiprahnya makin matang saat dipercaya menjadi Sekretaris Majelis Pendidikan Kader (MPK) PWM NTB periode 2015–2020. Di periode 2022–2027, ia menempati posisi Wakil Ketua MPKSDI PWM, sekaligus menakhodai PW Pemuda Muhammadiyah NTB. Jejak panjang ini menunjukkan bahwa PIN di Mataram bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri; ia lahir dari konsistensi seorang kader yang menyiapkan dirinya bertahun-tahun untuk satu kata yaitu pengkhidmatan.
Dalam mempersiapkan PIN, Ilham memegang prinsip bahwa
“Tidak ada kegiatan yang gagal karena anggaran. Jalan saja. Yang penting komunikasi, usaha, dan kepasrahan”.
Bagi sebagian orang, itu terdengar terlalu berani. Tetapi bagi Ilham, keberanian justru adalah inti dari pengkaderan. Ia percaya bahwa kebaikan akan dibalas dengan kebaikan, bahwa langkah yang dilandasi niat tulus tidak akan ditinggalkan oleh Allah.
“Niat, baginya, adalah dasar nilai utama. “Yang penting kita mantapkan niat,” ujarnya. “Apakah karena ingin keuntungan atau karena mengharap keberkahan Allah?” Di titik itulah satu demi satu kesulitan PIN menemukan jalannya masing-masing. Orang-orang datang membantu, pintu-pintu terbuka, dan momentum menjadi energi kolektif”.
Pelatihan Instruktur Nasional di Mataram akhirnya digelar dengan khidmat dan sukses, bukan karena tanpa hambatan, tetapi karena hambatan itu tidak membuat tim berhenti. Ada tangan-tangan yang bekerja tanpa banyak bicara. Ada keyakinan yang dirawat setiap hari, ada komunikasi yang tidak putus dan ada kepasrahan yang justru melahirkan keberanian baru.
Saat akhir kegiatan dan sesaat sebelum peserta beranjak ke bandara, Ilham menyampaikan permohonan maaf kepada semua pihak atas kekurangan-kekurangan yang mungkin muncul. Nada suaranya pelan, tetapi matanya menyimpan harapan besar. Ia menautkan doa yang menjadi gambaran seluruh perjalanan kaderisasi di Muhammadiyah.
“Semoga PIN melahirkan generasi baru instruktur negarawan yang hatinya takut kepada Allah, yang rindunya adalah kemajuan bangsa, dan yang kesungguhannya adalah mentransformasikan kompetensi terbaik yang dimilikinya”.
Di balik suksesnya PIN, berdirilah seorang kader yang tak pernah menuntut sorotan. Seseorang yang percaya bahwa keberkahan lebih penting dari tepuk tangan. Bahwa kerja gerakan tidak selalu harus riuh, tetapi harus jujur dan teguh. Bahwa yang tampak sederhana seringkali adalah fondasi dari sesuatu yang jauh lebih besar[RAF].








Leave a Reply